Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #63

Arkan Menolak Tawaran

Arkan Menolak Tawaran Jabatan Tinggi Demi Prinsip Hidupnya---

Suara ketukan sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer berkualitas tinggi terdengar menggema di sepanjang koridor eksklusif lantai paling atas gedung pencakar langit Nusantara Tower. Di balik pintu kaca berlapis perunggu ruang rapat utama eksekutif, matahari sore memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus tirai otomatis, menyinari deretan kursi kulit hitam tempat para pemegang saham mayoritas global duduk dengan ekspresi kaku dan penuh perhitungan. Di ujung meja panjang berbalit kayu mahoni itu, Arkan berdiri tegap dengan setelan jas biru gelap yang pas di tubuhnya, memegang sehelai dokumen resmi kontrak kerja sama internasional.

"Pikirkan baik-baik penawaran ini, Arkan," ucap Tuan Gerald, seorang investor asing berusia paruh baya yang memimpin aliansi korporasi global, sambil menyunggingkan senyuman penuh keyakinan. "Posisi sebagai Wakil Presiden Eksekutif untuk seluruh kawasan Asia Tenggara dengan paket kompensasi bernilai fantastis ini tidak datang dua kali dalam seumur hidup seorang profesional keuangan."

Arkan menatap sejenak lembaran dokumen kontrak tersebut, lalu mengalihkan pandangannya menatap langsung ke dalam mata Tuan Gerald tanpa keraguan sedikit pun. "Saya sangat menghargai kepercayaan dan tawaran besar yang diberikan oleh aliansi global kepada saya, Tuan Gerald. Tapi maaf, saya harus menolak posisi tersebut secara permanen."

Suasana di dalam ruang rapat mendadak berubah menjadi sunyi mencekam. Beberapa dewan komisaris lokal yang duduk di sisi meja langsung saling berpandangan dengan wajah terkejut dan tidak percaya. Salah seorang direktur senior bahkan hampir tersedak minumannya sendiri mendengar penolakan blak-blakan dari Arkan.

"Menolak?" ulang Tuan Gerald dengan nada suara yang sedikit meninggi, menyipitkan matanya menatap Arkan seolah ia sedang mendengarkan lelucon yang buruk. "Apakah kamu menyadari apa yang sedang kamu lepaskan, Arkan? Ini adalah puncak karier tertinggi yang diimpikan oleh setiap direktur keuangan di belahan bumi mana pun."

"Saya sangat menyadarinya, Tuan Gerald," jawab Arkan dengan suara tenang, datar, namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Tapi puncak karier kehilangan seluruh maknanya jika harus dicapai dengan mengorbankan prinsip hidup dan integritas moral yang telah susah payah saya bangun kembali setelah badai besar di perusahaan ini."

Di sudut ruang rapat, Chafia yang duduk mendampingi sebagai perwakilan mitra kreatif perusahaan merapatkan tangannya di atas pangkuan, merasakan gelombang kelegaan dan rasa bangga yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. Ia tahu betul betapa besar tekanan yang dihadapi Arkan selama sepekan terakhir menjelang detik-detik penentuan kontrak global tersebut.

Tuan Gerald merapatkan tubuhnya ke meja, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi tidak senang. "Prinsip hidup? Jangan naif, Arkan. Aliansi global kami menuntut efisiensi maksimal, dan itu terkadang berarti kita harus menutup mata terhadap metode penataan aset lintas batas yang sifatnya abu-abu. Itu adalah standar operasional internasional."

"Standar operasional internasional yang Anda maksud adalah cara lain untuk melegalkan penggelapan dan manipulasi sistem dari balik layar," balas Arkan tanpa gentar sedikit pun, melangkah mendekati meja rapat dan meletakkan dokumen kontrak itu kembali ke hadapan Tuan Gerald. "Jika itu harga yang harus dibayar untuk menduduki kursi Wakil Presiden Eksekutif di perusahaan anda, maka saya memilih untuk berjalan pergi dengan kepala tegak."

❖ ❖ ❖

Ketegangan di dalam ruang rapat utama itu kian memuncak. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku, menyisakan suara deru napas tertahan dari para komisaris lokal yang ketakutan melihat keberanian Arkan menentang secara terbuka keinginan investor asing terbesar korporasi tersebut.

"Arkan, kamu sedang bermain-main dengan api," ancam salah seorang komisaris lokal dari kubu lama yang masih tersisa di dewan, berdiri dari kursinya sambil menunjuk ke arah Arkan dengan jari yang bergetar karena emosi. "Aliansi global bisa saja menarik seluruh pendanaan mereka dari perusahaan ini dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam jika kamu bersikap sekaku ini!"

Arkan menoleh perlahan ke arah komisaris tersebut, menatapnya dengan pandangan dingin yang membuat pria paruh baya itu kembali duduk perlahan ke kursinya. "Silakan saja jika mereka ingin menarik dananya. Perusahaan ini sudah membuktikan bahwa kami bisa bangkit berdiri di atas kaki sendiri melalui transparansi dan kerja keras yang jujur, tanpa harus menggadaikan masa depan kepada sindikat modal gelap."

Chafia menoleh sekilas ke arah Arkan, memberikan tatapan penuh dukungan moral yang membuat Arkan merasa semakin yakin atas keputusan besar yang baru saja diambilnya di hadapan para petinggi korporasi global itu.

Tuan Gerald mendengus kasar, berdiri dari kursi utamanya sambil merapikan jas mahalnya dengan gerakan tersentak. "Kamu akan menyesali keputusan bodoh ini, Arkan. Tanpa jaringan global kami, perusahaan kecil kalian tidak akan mampu bertahan di kancah pasar internasional dalam jangka panjang."

"Waktu dan sejarah yang akan membuktikan siapa yang berdiri di atas kebenaran, Tuan Gerald," jawab Arkan tenang, membalikkan badannya menghadap pintu keluar ruang rapat. "Pertemuan ini selesai. Silakan tinggalkan gedung perusahaan kami."

Lihat selengkapnya