Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

Rencana Pernikahan Kedua

Rencana Pernikahan Kedua yang Benar-Benar Didasari Cinta.

Malam di kawasan Menteng kembali dihiasi oleh bintang-bintang yang berpijar tenang di balik langit ibu kota yang bersih. Di ruang tamu kediaman utama keluarga Wijaya, suasana terasa hangat dan penuh dengan keakraban yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Di atas meja kopi kayu jati tua, terbentang lembaran-lembaran katalog dekorasi pernikahan, sampel bahan kain sutra bermutu tinggi, serta sketsa desain undangan beraksen klasik modern. Chafia duduk bersandar di sofa empuk berwarna krem, mengenakan kemeja santai berwarna putih gading sementara rambut panjangnya dibiarkan tergerai natural. Di sampingnya, Arkan duduk dengan lengan kemeja digulung siku, memegang selembar catatan kecil berisi daftar nama tamu undangan yang akan hadir dalam perayaan akbar mendatang.

"Bagaimana dengan konsep dekorasi outdoor di taman galeri seni kita untuk acara akad nanti, Chafia?" tanya Arkan sambil melirik sekilas ke arah wanita di sisinya dengan senyuman lembut. "Apakah kamu ingin menambahkan lebih banyak bunga anggrek putih atau tetap mempertahankan nuansa dedaunan hijau alami?"

Chafia menatap sketsa desain dekorasi tersebut dengan mata berbinar-binar penuh antusias. "Aku lebih suka nuansa hijau alami yang dipadukan dengan pencahayaan lampu gantung temaram, Arkan. Rasanya jauh lebih intim, hangat, dan mencerminkan perjalanan kita yang bermula dari kesederhanaan galeri seni."

"Ide yang luar biasa," puji Arkan tulus, meraih tangan Chafia dan mengecup lembut punggung jemarinya. "Pernikahan ini sepenuhnya milik kita berdua, Chafia. Tidak ada lagi kontrak paksaan korporat, tidak ada lagi intervensi dewan direksi, dan tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan masa lalu."

Chafia tersenyum hangat, merasakan aliran kebahagiaan yang begitu murni menyerap ke dalam relung hatinya. "Benar, Arkan. Kalau dipikir-pikir kembali, pernikahan pertama kita dulu diwarnai oleh ketegangan status sosial, keraguan, dan bayang-bayang sengketa keluarga yang melelahkan. Tapi kali ini... rasanya begitu berbeda."

"Karena pernikahan kita kali ini benar-benar didasari oleh cinta yang tulus tanpa syarat," timpal Arkan dengan suara baritonnya yang menenangkan.

Pintu ruang tamu terbuka perlahan, dan Tuan Hartawan Wijaya melangkah masuk membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat. Sang patriark sepuh tersenyum ramah melihat kehangatan di antara anak dan calon menantunya.

"Maaf mengganggu diskusi kalian," kata Tuan Hartawan sambil meletakkan nampan di atas meja. "Ayah hanya membawakan teh hangat untuk menemani malam panjang kalian merencanakan hari bahagia."

"Silakan duduk, Ayah," ujar Chafia sopan, membantu merapikan tempat duduk bagi ayah mertuanya. "Kami baru saja membahas tata letak dekorasi taman galeri."

Hartawan tersenyum bijak, menatap Arkan dan Chafia bergantian dengan sorot mata penuh restu. "Ayah sangat bahagia melihat kalian akhirnya bisa merencanakan masa depan dengan penuh ketenangan. Nikmati setiap detik proses persiapan ini, karena inilah awal dari lembaran hidup baru keluarga besar kita."

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, sinar matahari hangat memantul cemerlang di atas permukaan kaca gedung-gedung perkantoran pusat kota. Di ruang kerja utama lantai tigapuluh gedung Wijaya Group, suasana tampak tenang dan terkendali. Arkan berdiri di depan jendela kaca besar, memandangi kesibukan lalu lintas pagi hari sementara secangkir kopi hitam mengepul tipis di dekat tangannya. Pintu ruang kerja terbuka, dan Rika melangkah masuk membawa map laporan persiapan logistik pernikahan.

"Pak Arkan, konfirmasi dari pihak hotel dan vendor katering utama untuk acara resepsi sudah beres," lapor Rika profesional dengan senyuman ramah. "Semua jadwal telah disesuaikan dengan permintaan Mbak Chafia."

Arkan membalikkan tubuhnya, mengangguk puas. "Terima kasih, Rika. Pastikan juga koordinasi dengan pihak pesantren Fikri berjalan lancar untuk kedatangan para santri yang akan mengisi paduan suara pengiring akad."

"Baik, Pak. Semuanya sudah diatur dengan tim di Bogor," jawab Rika sebelum meminta izin pamit kembali ke ruang sekretariat.

Tak lama berselang, ponsel di atas meja kerja Arkan berdering nyaring. Layar ponsel tersebut menampilkan nama Chafia. Arkan segera mengangkatnya dengan senyuman yang otomatis mengembang di bibirnya.

"Halo, kurator seniku. Ada perkembangan apa lagi soal gaun pernikahanmu hari ini?" sapa Arkan lembut.

"Halo juga, CEO-ku tersayang," suara tawa renyah Chafia terdengar di ujung sambungan telepon. "Aku baru saja selesai melakukan fitting gaun kedua bersama desainer. Dan tahukah kamu? Gaun ini jauh lebih sempurna dari yang kubayangkan."

"Aku yakin apapun yang kamu kenakan pasti akan terlihat luar biasa di mataku," puji Arkan tulus. "Oh ya, nanti siang aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama di galeri, sekaligus kita survei lokasi tenda akad."

"Baiklah, aku tunggu di galeri ya, Arkan. Jangan terlambat!" pesan Chafia sebelum menutup sambungan telepon.

Lihat selengkapnya