
Persiapan Akad yang Dihadiri Orang-Orang Tercinta---
Suara deburan ombak kecil yang berpadu dengan hembusan angin sepoi-sepoi khas pedesaan lereng bukit Kendal terdengar sangat menenangkan di telinga. Pagi hari ini, pelataran Pondok Pesantren Al-Hikmah tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Bendera-bendera kecil bernuansa Islami berbaris rapi di sepanjang jalan setapak desa, sementara tenda bernuansa putih dan hijau sage terbentang luas di halaman utama surau tua yang bersejarah. Suasana dipenuhi oleh gelak tawa riang, aroma harum masakan tradisional yang mengepul dari dapur umum, serta kesibukan para santri yang bergotong royong mempersiapkan segala keperluan acara sakral yang akan diselenggarakan menjelang siang nanti.
Di ruang dalam ndalem pesantren, Chafia duduk di depan meja rias kayu jati berukir klasik. Ia mengenakan kebaya pengantin modern berwarna putih mutih bersih dengan detail bordiran tangan yang anggun, berpadu serasi dengan kerudung pengantin berbahan satin lembut yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Di sebelah kanannya, Aisha berdiri sambil merapikan lipatan kain selendang di bahu sahabatnya itu, sementara Rania sibuk membawa kotak berisi cincin nikah dan hantaran sederhana.
"Masya Allah, Fia... kamu terlihat sangat memukau hari ini," puji Aisha dengan mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan, menatap pantulan wajah Chafia di cermin besar. "Tidak menyangka, CEO korporasi raksasa yang dulu begitu dingin dan penuh beban hidup kini menjelma menjadi pengantin wanita yang paling anggun dan bercahaya."
Chafia tersenyum tipis, merapikan sedikit kerudungnya dengan jemari yang terasa sedikit gemetar karena rasa gugup yang luar biasa. "Terima kasih, Sha. Rasanya seperti mimpi bisa berdiri di titik ini setelah semua badai dan liku-liku kehidupan yang telah kita lalui bersama."
"Ini bukan mimpi, Fia," timpal Rania sambil meletakkan kotak cincin di atas meja. "Ini adalah takdir indah yang Allah tuliskan setelah kamu sabar melewati ujian kesetiaan dan kejujuran."
Di sudut ruangan, pintu berderit pelan dan Ummi Hanik—istri pengasuh pesantren yang sudah merawat Arkan sejak kecil—masuk membawa semangkuk air basuhan bunga melati untuk tradisi sungkeman adat. Senyuman hangat terpancar dari wajah sepuh wanita paruh baya itu, menghadirkan ketenangan instan di dalam dada Chafia yang sejak semalam berdegup kencang.
"Sudah siap, anakku?" tanya Ummi Hanik lembut, memegang pundak Chafia dengan penuh kasih sayang seorang ibu kandung. "Di luar, para saksi dan keluarga besar sudah berkumpul dengan khidmat. Ustadz Arkan juga sudah duduk tenang di depan meja akad."
Chafia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. "Insya Allah siap, Ummi."
Di titik pemicu ini, detik-detik menjelang akad nikah memadukan rasa haru, gugup, dan kebahagiaan yang meluap di hati Chafia, dikelilingi oleh orang-orang tercinta yang setia mendampinginya melewati perjalanan panjang hijrahnya.
❖ ❖ ❖
Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an bergema merdu melalui pengeras suara surau, menyejukkan udara pagi yang kian menghangat di kawasan pesantren. Di bawah tenda utama akad nikah, para tamu undangan, tokoh masyarakat desa, kerabat dekat dari Jakarta, serta jajaran dewan komisaris PT Cipta Reksa Mandiri tampak duduk rapi mengenakan pakaian serba putih. Di meja akad beralaskan taplak putih berenda, Arkan duduk tenang dengan postur tegap mengenakan jubah putih bersih, sorban halus tersampir di bahunya, serta peci hitam yang membingkai wajah tenangnya.
Di samping Arkan, duduk Kyai Ibrahim selaku pimpinan utama pesantren yang bertindak sebagai wali penasihat, serta dua orang saksi kehormatan dari Jakarta—Ketua Komisaris Independen perusahaan dan Pak Hartono selaku direktur operasional.
"Bagaimana, Ustadz Arkan? Apakah ananda sudah siap?" tanya petugas pencatat nikah dari Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan setempat dengan senyuman ramah sambil memeriksa berkas-berkas administrasi di atas meja.
Arkan mengangkat pandangannya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak batinnya yang penuh rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT. "Insya Allah, saya siap bapak penghulu," jawab Arkan dengan suara baritonnya yang tenang, tegas, dan terdengar sangat khidmat.
Di barisan kursi tamu undangan bagian depan, Aisha dan Rania duduk berdampingan sambil memegang tisu, bersiap menyaksikan momen paling sakral yang sudah lama mereka nantikan.
"Duh, aku kok ikut deg-degan ya menyaksikan Mas Arkan mau ijab kabul,"bisik Aisha pelan kepada Rania sambil meremas ujung kerudungnya.
Rania tertawa kecil, menyenggol lengan Aisha pelan. "Tenang saja, Sha. Ustadz Arkan itu orangnya selalu tenang dalam segala situasi. Justru kita harus siap-siap menangis terharu nanti."
Penghulu mulai merapikan mikrofon, lalu menoleh ke arah Kyai Ibrahim. "Baiklah, jika semua syarat administratif dan mahar telah lengkap dan diperiksa dengan sah, kita bisa langsung memulai prosesi akad nikah sekarang."
Jantung Chafia yang duduk di ruang dalam ndalem berdegup kencang tatkala mendengar suara penghulu melalui speaker pengeras suara. Ia menggenggam erat tasbih kayu tua di tangannya, melafalkan doa agar semuanya berjalan lancar tanpa ada hambatan suatu apa pun.
Di titik jepit pertama ini, ketegangan menyelimuti detik-detik sakral ijab kabul, mempertemukan niat suci Arkan dan Chafia di hadapan para saksi tercinta.
❖ ❖ ❖
"Silakan, Ustadz Arkan, jabat tangan wali atau penghulu untuk memulai prosesi ijab kabul," instruksi penghulu dengan ramah.
Arkan mengangkat tangan kanannya, menyambut uluran tangan penghulu dengan genggaman yang mantap dan penuh wibawa. Suasana di bawah tenda mendadak menjadi sangat hening; seluruh tamu undangan menahan napas, mendengarkan setiap patah kata yang akan diucapkan.