Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Detik-detik Ijab Kabul

Detik-detik Ijab Kabul yang Diulang dengan Penuh Khidmat---

Suara gemercik air mancur kecil dari taman samping gedung akad nikah terdengar berpadu harmonis dengan senandung salawat nabi yang dilantunkan pelan oleh para tamu undangan dari balik tirai partisi kayu berukir klasik. Pagi itu, udara ibu kota terasa begitu sejuk setelah semalam disiram hujan rintik. Di dalam ruangan utama akad berbalit dekorasi bunga segar bernuansa putih dan hijau sage, suasana sakral begitu terasa memenuhi setiap sudut ruangan.

Arkan duduk di kursi kayu jati berpelitur gelap di hadapan meja akad nikah utama. Ia mengenakan busana pengantin tradisional berwarna putih bersih lengkap dengan blangkon senada, menampakkan ketenangan luar biasa di wajahnya meski debar di dadanya berdetak kencang menyambut detik-detik paling menentukan dalam hidupnya. Di sampingnya, Ustadz Husein duduk bersila dengan senyum teduh, siap membimbing prosesi akad nikah sebagai penghulu kehormatan atas permintaan khusus keluarga.

"Bagaimana, Arkan? Apakah kamu sudah siap?" bisik Ustadz Husein ramah sambil menepuk pelan pundak Arkan untuk meredakan ketegangan.

Arkan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan sambil mengangguk mantap. "Alhamdulillah, saya sudah sangat siap, Ustadz. Mohon bimbingannya."

Di seberang meja akad, ayah angkat Chafia—seorang pria paruh baya berwibawa bernama Pak Surya—telah meletakkan tangan kanannya di atas meja kayu, siap menyambut uluran tangan Arkan untuk melafalkan akad nikah yang sakral. Di balik pintu kayu berukir di sisi ruangan, Chafia duduk bersama Zahra di ruang rias pengantin, menatap layar monitor siaran langsung kecil dengan mata berkaca-kaca penuh haru.

"Kamu gugup ya, Chafia?" tanya Zahra sambil merapikan kain kebaya putih berpayet kristal yang membalut tubuh sahabatnya itu.

Chafia tersenyum tipis, menggenggam erat jemari Zahra. "Lebih dari sekadar gugup, Zahra. Rasanya seperti sedang menanti lembaran hidup baru setelah melewati badai yang begitu panjang."

Kembali ke ruang utama akad, Ustadz Husein mengangkat mikrofon kecilnya, lalu membuka prosesi dengan ucapan hamdalah dan khotbah nikah singkat yang menyentuh hati. Seluruh tamu undangan yang memenuhi ruangan tampak menyimak dengan khidmat, larut dalam keheningan yang sarat akan makna spiritual.

"Saudara Arkan Pratama," ucap Ustadz Husein dengan suara berat dan berwibawa yang menggema lembut melalui pengeras suara. "Silakan jabat tangan ayahanda tercinta pengantin wanita, dan tunaikan amanah suci ini dengan penuh kesadaran di hadapan Allah SWT."

Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, menjabat erat tangan Pak Surya dengan penuh rasa takzim. Sentuhan tangan itu terasa begitu hangat, mengalirkan gelombang tanggung jawab besar yang kini beralih sepenuhnya ke pundak Arkan.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruang akad mendadak menjadi begitu hening. Bahkan suara deru pendingin ruangan seolah lenyap terserap oleh ketegangan yang mendadak melingkupi seluruh hadirin. Pak Surya menarik napas sejenak, menatap lurus ke dalam mata Arkan dengan tatapan tajam namun penuh kasih sayang seorang ayah.

"Arkan Pratama," ucap Pak Surya dengan suara parau namun tegas. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Chafia Nindya Kirana, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan perhiasan emas berat sepuluh gram dibayar tunai!"

Tanpa jeda sedetik pun, dengan suara yang lantang, tenang, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun, Arkan langsung menyambut kalimat ijab tersebut dalam satu tarikan napas yang mantap.

"Saya terima nikah dan kawinnya Chafia Nindya Kirana binti Surya dengan maskawin tersebut, tunai!" ucap Arkan lantang.

Namun, di tengah kelegaan yang langsung merayap di dada para tamu undangan, Ustadz Husein tiba-tiba mengangkat tangannya sambil tersenyum kecil, lalu mengetuk pelan meja mikrofon. Seisi ruangan langsung tertegun bingung.

"Tunggu sebentar, Arkan... Nak Surya," kata Ustadz Husein tenang dengan senyuman ramah di wajahnya. "Ada sedikit kekeliruan kecil pada penyebutan lafal maskawin di ujung kalimat tadi. Agar keabsahannya benar-benar sempurna sesuai sunnah dan tata hukum yang berlaku, mari kita ulang sekali lagi dengan lafal yang lebih teliti."

Arkan terkejut sejenak, namun ia langsung mengangguk paham tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. "Baik, Ustadz. Saya siap mengulangnya."

Di ruang rias pengantin, Chafia yang mendengarnya lewat monitor sempat menutup mulut karena terkejut, mengira terjadi kesalahan fatal. Namun Zahra segera menepuk bahunya sambil tersenyum menenangkan. "Tenang, Chafia. Itu hanya penyesuaian lafal agar semakin sempurna. Ustadz Husein hanya ingin memastikan semuanya sah tanpa cela."

Arkan menarik napasnya kembali, merilekskan otot-otot di bahunya, lalu kembali menjabat erat tangan Pak Surya dengan senyuman tulus di bibirnya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya