Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #69

Air Mata Syukur

Air Mata Syukur di Pelukan Arkan---

Matahari pagi di kota Jakarta menyembul dari balik cakrawala timur, menyiramkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh penjuru halaman rumah Aryo dan Chafia. Udara pagi terasa begitu segar, membawa aroma embun yang menempel di ujung-ujung daun serta wangi bunga melati yang mekar di sudut pagar. Di teras belakang, suasana tampak begitu tenang dan damai, jauh dari segala hiruk-pikuk serta tekanan dunia luar yang selama bertahun-tahun merongrong ketenangan jiwa mereka.

Aryo berdiri di dekat pagar pembatas teras, mengenakan kemeja katun putih lengan panjang yang digulung hingga siku, dipadu dengan celana bahan hitam santai. Di tangannya, cangkir keramik berisi kopi hitam mengepulkan uap tipis yang berputar pelan di udara. Tatapannya menerawang menatap hamparan rumput hijau pekarangan, tempat di mana cucu-cucu dan keponakan mereka berlarian kecil menikmati udara pagi akhir pekan.

Pintu kaca geser terbuka perlahan, menampilkan sosok Chafia yang melangkah keluar dengan anggun. Wanita itu mengenakan gamis panjang berbalut warna biru muda lembut senada dengan kerudungnya. Di tangannya, sebuah nampan kecil berisi sepiring kue pisang tradisional dan dua gelas teh hangat disajikan rapi untuk melengkapi sarapan ringan mereka.

"Pagi, Mas," sapa Chafia dengan suara lembut yang langsung menghangatkan suasana hati Aryo. Ia berjalan mendekati suaminya, lalu meletakkan nampan di atas meja kayu ulin.

Aryo menoleh, tersenyum lebar menyambut kehadiran istrinya. Ia meletakkan cangkir kopinya, lalu merangkul pinggang Chafia erat-erat ke dalam dekapannya. "Pagi juga, sayang. Tidurmu nyenyak semalam? Wajahmu tampak sangat bercahaya pagi ini."

Chafia mendongak, membalas tatapan penuh cinta dari suaminya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. "Aku tidur sangat nyenyak sekali, Mas. Rasanya damai sekali bisa bangun pagi tanpa ada rasa cemas atau beban pikiran yang menghimpit dada seperti dulu."

"Karena badai itu memang sudah benar-benar berlalu, Chafia," ucap Aryo lembut, jemarinya menyusap halus puncak kepala istrinya di balik kerudung. "Sekarang yang ada di hadapan kita hanyalah masa depan yang bersih, tenang, dan penuh berkah."

"Dan kebahagiaan ini terasa semakin sempurna karena kehadiran Arkan di tengah-tengah keluarga kita," sahut Chafia dengan binar mata yang tiba-tiba berkaca-kaca penuh haru.

Arkan, putra kecil mereka yang kini berusia tiga tahun, mendadak berlari kecil dari arah ruang keluarga menuju teras belakang sambil membawa mainan mobil-mobilan kayu kesayangannya. Bocah kecil itu tertawa riang, memanggil kedua orang tuanya dengan suara pelat yang sangat menggemaskan.

"Papa... Mama... lihat Arkan bawa mobil!" seru Arkan antusias, langsung merangkul kaki ayahnya.

Aryo tertawa renyah, berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan sang buah hati, lalu mengangkat tubuh mungil Arkan ke dalam gendongannya. Chafia tersenyum lebar melihat kedekatan suami dan anak mereka, merasa bahwa seluruh penderitaan di masa lalu terbayar lunas oleh kehangatan keluarga kecil ini.

❖ ❖ ❖

Suasana pagi yang penuh kehangatan di teras belakang seketika disela oleh suara dering telepon seluler milik Aryo yang bergetar di atas meja kayu. Aryo menurunkan Arkan perlahan ke lantai agar bocah itu bisa kembali bermain dengan mainannya, sementara ia meraih ponselnya untuk melihat nama penelepon di layar.

"Siapa yang menelepon pagi-pagi begini, Mas?" tanya Chafia penasaran sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.

"Ini dari Maya, kepala divisi administrasi kantor pusat," jawab Aryo melirik layar ponselnya sebelum menekan tombol terima dan mengaktifkan pengeras suara. "Halo, Maya. Ada perkembangan penting apa pagi ini?"

"Selamat pagi, Pak Aryo, Bu Chafia," suara Maya terdengar antusias dari ujung sambungan telepon. "Maaf mengganggu waktu libur akhir pekan Bapak dan Ibu. Saya hanya ingin menyampaikan laporan kilat bahwa seluruh berkas audit akhir tahun dari auditor independen sudah keluar dengan predikat wajar tanpa pengecualian."

Chafia langsung menghentikan kegiatannya menuangkan teh, menatap suaminya dengan mata berbinar-binar penuh rasa syukur.

Aryo tersenyum puas mendengar kabar tersebut. "Alhamdulillah... kerja keras seluruh tim di kantor benar-benar membuahkan hasil yang luar biasa. Terima kasih atas dedikasi dan kerja samanya, Maya."

"Sama-sama, Pak. Ini semua berkat kepemimpinan Bapak dan bimbingan Bu Chafia yang konsisten membawa perusahaan pada jalur yang transparan dan bersih," balas Maya tulus. "Oh ya, laporan lengkapnya akan saya kirimkan via email hari senin besok. Selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga, Pak, Bu."

"Baik, Maya. Terima kasih banyak, selamat pagi," ucap Aryo menutup sambungan telepon. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja, lalu menatap istrinya dengan senyuman penuh kelegaan.

Chafia menghela napas panjang, meresapi setiap kata yang baru saja didengarnya. Ia melangkah mendekati suaminya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Aryo. "Perusahaan kita tidak hanya selamat dari kebangkrutan akibat intrik keluarga Senjaya dulu, Mas, tapi kini tumbuh menjadi korporasi paling bersih dan disegani di industri ini."

"Dan semua itu bisa kita raih karena kita tidak pernah menyerah pada keadaan, Chafia," sahut Aryo penuh penghayatan, merangkul pundak istrinya erat-erat. "Kuncinya adalah kesabaran, kejujuran, dan keyakinan bahwa keadilan Tuhan pasti akan datang pada waktunya."

Arkan yang melihat kedua orang tuanya berpelukan tiba-tiba mendekat, menarik-narik ujung celana ayahnya sambil tertawa kecil. "Papa peluk Arkan juga dong!" pinta bocah itu polos.

Lihat selengkapnya