Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Lembaran Baru

Lembaran Baru Tanpa Bayang-bayang Masa Lalu.

Pagi hari di kawasan Menteng menyapa dengan bias cahaya matahari keemasan yang menembus sela-sela dedaunan rindang pohon mahoni di halaman kediaman keluarga Wijaya. Udara terasa begitu segar, membawa aroma embun pagi yang bercampur dengan wangi melati dari taman samping rumah. Di ruang keluarga lantai bawah yang luas dan tertata rapi, Arkan berdiri di dekat jendela besar sambil mengenakan kemeja katun putih polos yang lengannya digulung hingga siku. Di atas meja kayu jati di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan bingkai foto pernikahan kedua mereka yang baru saja dicetak pekan lalu—potret kebahagiaan di mana ia dan Chafia berdiri berdampingan tanpa beban, mengenakan busana pengantin tradisional berlatar taman galeri yang dipenuhi bunga putih.

Langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga kayu utama, disusul oleh suara senandung kecil yang merdu. Chafia muncul dari balik anak tangga mengenakan dress longgar berwarna kuning pastel, rambut panjangnya tergerai indah membingkai wajahnya yang tampak segar dan berseri-seri. Wanita itu melangkah mendekati Arkan, lalu melingkarkan kedua tangannya dari belakang pada pinggang suaminya, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung Arkan.

"Pagi, suamiku," sapa Chafia lembut dengan suara serak khas bangun tidur, mengecup pelan punggung Arkan sebelum memutarkan badannya untuk berdiri di samping pria itu.

Arkan tersenyum hangat, menoleh lalu merangkul bahu Chafia erat-erat. "Pagi juga, istriku tercinta. Tidurmu nyenyak malam tadi?"

"Sangat nyenyak," jawab Chafia tersenyum tulus, menatap bingkai foto pernikahan mereka di atas meja. "Rasanya aneh... untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bangun pagi tanpa merasakan ada beban kecemasan, tanpa bayang-bayang konflik galeri, dan tanpa rasa insecure tentang masa lalu atau status sosial."

Arkan menunduk, mencium sekilas puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Karena lembar hidup kita yang lama sudah resmi ditutup rapat, Chafia. Tidak ada lagi bayang-bayang konspirasi korporat, tidak ada lagi dendam keluarga, dan tidak ada lagi ketakutan yang menghantui."

"Semua itu berkat kesabaran dan ketulusan hatimu, Arkan," balas Chafia, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

"Dan berkat kehadiranmu yang menjadi rumah bagi jiwaku," timpal Arkan lembut.

Pintu kaca penghubung taman terbuka perlahan, dan Tuan Hartawan Wijaya berjalan masuk mengenakan pakaian santai pagi hari sambil membawa koran harian. Sang patriark sepuh tersenyum ramah melihat kehangatan pasutri muda di hadapannya.

"Selamat pagi, anak-anakku," sapa Tuan Hartawan dengan suara berat namun hangat. "Kalian tampak sangat menikmati pagi yang damai ini."

"Selamat pagi, Ayah," jawab Arkan dan Chafia serempak dengan senyuman cerah di wajah mereka.

"Mari sarapan bersama di teras taman," ajak Hartawan ramah, menepuk pelan pundak Arkan saat ia melangkah melewati mereka menuju meja makan luar ruangan. Lembaran baru kehidupan keluarga Wijaya kini benar-benar bersih tanpa noda masa lalu.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan naik meninggikan sinarnya, menghangatkan halaman taman belakang kediaman Wijaya tempat meja makan panjang bernuansa kayu tersaji rapi dengan berbagai hidangan sarapan tradisional. Setelah menikmati bubur ayam hangat dan teh manis, Arkan dan Chafia berpamitan kepada Tuan Hartawan untuk bersiap menuju galeri seni di pusat kota. Hari ini adalah hari pertama pembukaan pameran seni nasional bertajuk “Babak Baru” yang diselenggarakan secara gabungan antara galeri Chafia dan yayasan budaya pesantren Fikri.

Di dalam mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Arkan, suasana terasa begitu tenang dan santai. Alunan musik instrumental klasik mengalun lembut dari pengeras suara mobil, menemani perjalanan mereka menyusuri jalanan ibu kota yang mulai lengang selepas jam sibuk pagi hari. Chafia duduk di kursi penumpang depan, menatap pemandangan kota melalui jendela kaca sambil tersenyum kecil.

"Kamu kelihatan bersemangat sekali hari ini, Chafia," ujar Arkan melirik sekilas ke arah istrinya sambil tetap fokus mengemudi di jalan raya.

"Tentu saja, Arkan," jawab Chafia antusias, menoleh menatap suaminya. "Pameran hari ini adalah simbol dari kerja keras kita. Semua karya lukisan kontemporer seniman lokal dan manuskrip kuno dari pesantren Fikri akhirnya bisa dipamerkan secara berdampingan tanpa ada gangguan apa pun."

"Dan kali ini, tidak ada lagi surat somasi hukum, tidak ada lagi ancaman sengketa, dan tidak ada lagi teror dari kubu oposisi," tambah Arkan tersenyum lebar. "Kita benar-benar menikmati buah dari kejujuran dan integritas."

Chafia meraih tangan kanan Arkan yang bebas di konsol tengah, menggenggamnya erat-erat dengan penuh rasa syukur. "Ingatkah kamu saat pertama kali kita bertemu di galeri kecilku dulu? Saat kamu datang dengan setelan jas mahal dan ekspresi dingin penuh curiga?"

Arkan tertawa renyah mendengar kenangan itu. "Tentu saja aku ingat. Aku mengira kamu kurator keras kepala yang hobi mendebat CEO perusahaan besar. Siapa sangka kurator galeri kecil itulah yang justru meruntuhkan seluruh keangkuhanku dan mencuri hatiku seutuhnya."

Lihat selengkapnya