Kehadiran Buah Hati Menyinari Rumah Tangga Mereka.
Matahari sore di bulan-bulan musim semi memancarkan bias keemasan yang lembut, menyusup melalui celah jendela kaca besar kamar utama kediaman keluarga Wijaya. Di dalam ruangan yang bernuansa hangat dengan dominasi warna putih gading dan pastel itu, suasana terasa begitu syahdu dan menenangkan. Chafia duduk bersandar di atas ranjang king-size berlapis seprai katun organik bertekstur halus, mengenakan piyama hamil longgar berwarna hijau mint muda. Di pangkuannya, terbentang sebuah buku catatan harian bayi berdesain klasik dengan sampul kulit cokelat tua, tempat ia biasa mencatat perkembangan kecil kehamilannya dari bulan ke bulan.
Pintu kamar terbuka pelan, dan Arkan melangkah masuk dengan langkah ringan tanpa suara. Pria itu mengenakan kemeja katun biru muda yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan aura kebapakan yang semakin terpancar kuat di wajahnya seiring bertambahnya usia kandungan Chafia. Di tangan kanannya, ia membawa nampan kecil berisi semangkuk sup kaldu ayam hangat dan segelas susu almond yang disiapkan khusus oleh juru masak pribadi mereka atas permintaannya sendiri.
"Bagaimana perasaanmu sore ini, kurator seniku?" sapa Arkan lembut dengan senyuman hangat terkembang di bibirnya saat ia mendekati sisi ranjang.
Chafia menutup buku catatan di pangkuannya, lalu mendongak menatap suaminya dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa. "Aku merasa sangat sehat, Arkan. Hanya saja, jagoan kecil kita di dalam perut sepertinya sedang aktif sekali menendang-nendang sejak siang tadi."
Arkan meletakkan nampan di atas nakas sebelah tempat tidur, lalu duduk perlahan di tepi ranjang. Pria itu mencondongkan tubuhnya, meletakkan telapak tangan kanannya yang hangat secara perlahan tepat di atas permukaan perut Chafia yang membuncit indah.
"Benarkah dia sedang aktif?" bisik Arkan mesra, mendekatkan wajahnya ke arah perut sang istri. "Halo, jagoan kecil Ayah... Jangan membuat Ibu lelah di dalam sana, ya. Kasihan Ibu."
Seolah mengerti suara bariton sang ayah, sebuah gerakan kecil terasa jelas menabrak telapak tangan Arkan dari dalam perut Chafia. Sontak, mata Arkan membelalak kagum, disusul tawa kecil penuh kebahagiaan yang lolos dari bibirnya.
"Astaga, Chafia! Dia merespons suaraku!" seru Arkan antusias, menatap istrinya dengan senyuman selebar dunia.
Chafia tertawa renyah, merasakan kehangatan yang menjalar memenuhi seluruh rongga dadanya. "Dia selalu aktif setiap kali mendengar suara ayahnya, Arkan. Seolah-olah dia tahu betul siapa yang sedang berbicara di luar sana."
Arkan menaikkan posisinya, lalu mendaratkan ciuman penuh kasih sayang di atas perut Chafia yang tertutup kain piyama. "Ayah tidak sabar ingin segera melihatmu lahir ke dunia ini, jagoan kecilku. Rumah kita sudah siap menyambut kehadiranmu dengan cinta yang utuh."
Chafia membelai lembut rambut hitam suaminya, merasakan betapa jauh perjalanan hidup yang telah mereka tempuh bersama. Dari kontrak kerja sama korporat yang kaku dan penuh paksaan di masa lalu, perseteruan keluarga yang melelahkan, hingga kini—dianugerahi sebuah mahakarya terindah berupa kehadiran buah hati yang akan menyinari rumah tangga mereka untuk selamanya.
❖ ❖ ❖
Malam hari merayap turun menggantikan senja, membawa kesejukan angin luar yang berhembus pelan di balik tirai jendela kamar. Di meja kerja sudut kamar utama, lampu baca kecil memancarkan cahaya kuning temaram menerangi tumpukan buku panduan perawatan bayi baru lahir dan desain dekorasi kamar anak yang baru saja dikirim oleh toko perlengkapan bayi langganan mereka. Arkan duduk di kursi kerja, sementara Chafia berdiri di dekatnya sambil memilah-milah sampel warna cat dinding kamar bayi yang bernuansa biru muda dan putih gading.
"Menurutmu, warna cat dinding kamar bayi kita lebih cocok menggunakan kombinasi biru langit atau hijau pastel, Arkan?" tanya Chafia sambil menunjukkan dua lembar kartu sampel warna di bawah cahaya lampu.
Arkan mengalihkan pandangannya dari dokumen kantor di laptop, meneliti kedua sampel warna tersebut dengan saksama sebelum tersenyum kecil. "Aku rasa kombinasi warna hijau pastel dipadukan dengan aksen kayu natural akan jauh lebih menenangkan, Chafia. Ruangan akan terlihat lebih hangat dan sejuk dipandang mata."
"Pilihan yang bagus," setuju Chafia antusias, meletakkan kembali kartu sampel warna ke atas meja. "Aku juga memesan beberapa rak buku kecil untuk menempatkan buku dongeng pengantar tidur nanti."
Arkan beranjak dari kursinya, mendekati Chafia lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. "Kamu sudah menyiapkan segalanya dengan begitu sempurna, Chafia. Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu."
Chafia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke dada bidang Arkan, memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya. "Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita, Arkan. Mengingat masa kecilku yang dulu sempat kehilangan kehangatan keluarga, aku ingin anak kita tumbuh di dalam rumah yang penuh dengan cinta, tawa, dan rasa aman."
Mendengar kalimat itu, Arkan mengeratkan pelukannya, mengecup lembut pipi Chafia penuh rasa haru. "Mulai sekarang dan selamanya, tidak akan pernah ada kekurangan cinta di dalam rumah ini, Chafia. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah terbaik bagi kalian berdua."
Tiba-tiba, ponsel di atas nakas berdering pelan menampilkan panggilan video dari Tuan Hartawan Wijaya di kediaman utama Menteng. Arkan segera meraih ponsel tersebut dan mengangkatnya, memperlihatkan wajah sang kakek sepuh yang tersenyum lebar di layar.
"Halo, Kakek—maksudku, Ayah!" sapa Arkan riang. "Ada apa menelepon malam-malam begini?"
"Ayah hanya ingin mengecek keadaan cucu kesayangan Ayah di dalam perut Chafia," jawab Tuan Hartawan dengan suara berat namun penuh kehangatan dari ujung sambungan. "Bagaimana persiapan kamar bayinya, apakah sudah selesai dicat?"
Chafia mendekat ke layar ponsel, melambaikan tangan dengan senyuman cerah. "Sebentar lagi selesai, Ayah. Arkan baru saja memilihkan warna hijau pastel yang sangat menenangkan."
"Bagus sekali," puji Hartawan tersenyum puas. "Kabari Ayah jika kalian butuh bantuan tambahan untuk dekorasi. Ayah sudah tidak sabar menimang cucu pertama keluarga kita."