Malam itu langit seperti pecah, hujan turun terlalu deras, petir menyambar seakan membelah gelapnya malam. Disana terlihat seperti api dan air mencoba bercampur menjadi satu warna.
Pos jaga ditepi sungai itu sudah hampir dipenuhi oleh musuh, ketika Tarakirana meletakkan tangan kanannya ketanah basah untuk menahan nafas, gadis itu telah berlari mencoba menemukan sahabatnya di tengah kekacauan ini. sambil mencari tempat persembunyian dibeberapa titik, sebagai seorang pemanah berada ditempat datar seperti ini adalah hal yang paling tidak menguntungkan.
Tubuhnya memiliki beberapa luka kecil yang entah didapatnya dari mana, karena seingat Tarakirana ia tidak bertarung langsung dengan musuh.
Keringat bercampur hujan mengalir dari ujung jarinya, penglihatan Tarakirana tidak begitu jelas karena hujan terus membasahi wajahnya. Nafasnya memburu, mencoba menyelaraskan tenaganya kembali agar cepat pulih.
Suara pertempuran terdengar kacau dari segala arah.
Jeritan
teriakan marah
benturan logam
petir yang menggelegar sesekali seakan mewakili emosi setiap orang yang terlibat pertempuran malam itu.
Tarakirana mencoba menemukan sosok Mahardika
Disana_
diujung jembatan terlihat seorang pemuda yang terdesak hampir berada ditengah kepungan.
_Mahardika...._ hati Tarakirana menjerit tertahan melihat sahabatnya terus bertarung ditengah kekacauan itu "Dia terus bertarung meski tahu keadaan tidak menguntungkan baginya."
Kain gelap dibahu Mahardika robek dan basah oleh darah bercampur hujan, nafasnya berat bahkan mampu terdengar dari kejauhan.
Sementara mata Tarakirana mencari titik aman yang terdekat dengan Mahardika agar ia bisa membidik musuh dengan lebih akurat.
tubuh ringan Tarakirana melesat gesit seketika ia menemukan titik aman terdekat.
Tetapi disana Mahardika belum ingin mundur satu langkahpun, pedang panjang ditangannya bergerak keras dan berat tidak tampak indah saat itu.
Setiap ayunan dengan tenaga penuh seperti mampu mematahkan tulang lawan.
Seorang lawan menebas dari depan, Mahardika menahan tebasan itu dengan pedangnya, hingga suara logam beradu memekak telinga.
Sebelum lawannya menarik nafas kembali
Mahardika mendorong tubuh pria itu dengan kakinya lalu menghantamnya dengan pedang sampai lawannya jatuh ke lumpur.
Namun dua orang lagi langsung menyerang dari sisi yang berlawanan.
Melihat dua lawan datang sekaligus untuk menyerang Mahardika, jari Tarakirana reflek menarik anak panah dipunggungnya, cepat, terlatih dan nyaris tanpa suara.
_WUSSS_
Anak panah itu melesat menembus udara malam, menghantam tubuh pria yang paling dekat dengan Mahardika, tubuh musuh itu terhuyung keras ada teriakan kesakitan dan amarah sebelum jatuh ke tanah.
Tatapan Tarakirana tetap tenang dan focus memperhatikan gerakan Mahardika.
Ditengah pertempuran seperti ini, bahaya bisa datang dari mana saja, dari suara langkah yang tak terdengar, dari bilah pedang yang muncul dari titik buta atau dari anak panah yang melesat diam diam di kegelapan.
Tarakirana berniat untuk berlari ketempat persembunyian lain yang lebih dekat dengan Mahardika.
Pakaian dan rambut Tarakirana basah melekat ketat ditubuhnya, luka luka kecil mulai terasa pedih, namun gadis itu menyadari sekarang bukan saatnya mengeluh, sahabatnya Mahardika sedang berjuang untuk hidupnya.
Suara benturan pedang pria itu masih terdengar keras diantara suara aliran sungai yang deras dan suara hujan disertai cahaya petir sesekali.
Saat ini Mahardika sedang bertarung dengan pria yang lebih besar darinya, gerakan pria itu brutal dan tanpa jeda, memaksa Mahardika terus menahan serangan tanpa ada kesempatan untuk menyerang kembali.
Tarakirana yang kini telah bersembunyi sangat dekat dengan mahardika tidak membuang waktu sedetikpun, ia kembali mengambil anak panahnya memasangnya dibusur,menarik tali busur dengan lembut namun pasti. Matanya mengunci pergerakan lawan, mencari celah sekecil apapun, gadis itu menyadari satu detik bantuan dimedan perang bisa menentukan siapa yang tetap hidup.
Ditengah dentingan pedang yang saling beradu, Tarakirana menarik nafas singkat lalu melepas tali busurnya.
_WUSSS_
anak panah itu melesat ringan
membelah udara malam
Mata panah tepat sasaran menancap didada kiri lawan, membuat gerakan pria bertubuh besar itu tertahan seketika, langkahnya terhenti sepersekian detik saat rasa nyeri menjalar dari dadanya, matanya membelalak tak menyangka ada serangan yang datang dari kegelapan.
Mahardika tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan gerakan cepat ia maju menerjang, pedangnya menghantam lawan dengan kekuatan penuh.
Pria besar itu terhuyung mundur beberapa langkah, ia masih berusah untuk bertahan, kakinya berusaha mencari pijakan ditanah berlumpur, basah dan licin, tapi tubuhnya telah terluka parah membuatnya kehilangan tenaga dan keseimbangan, pria itu roboh perlahan ketanah, seakan ia tak rela terjatuh dalam pertempuran itu.
Mahardika masih dalam sikap siaga, ia siap menyerang ataupun bertahan kapanpun dari serangan musuh yang bisa datang tiba-tiba. Nafasnya terdengar berat setelah pertarungan yang menguras tenaga.
Mata tajam Mahardika menangkap gerakan gesit seseorang yang berlari dari tempat persembunyian kearahnya. Bahkan dalam remang malam dan curahan hujan deras, Mahardika masih mampu mengenali sosok tubuh itu sebagai Tarakirana.
Gadis yang telah menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya berlatih bersamanya.
Caranya berlari
caranya menggenggam busur
bahkan irama langkah kakinya.
semua itu sudah begitu akrab dengan Mahardika.
Diam diam ada rasa lega melihat sosok itu ditengah kegelapan malam yang penuh bahaya ini, ada satu kepastian bahwa ia selamat.
Sesekali petir menyambar, membelah langit malam dengan cahaya putih yang menyilaukan. Dalam kilatan singkat itu cukup bagi mata Mahardika menangkap sesuatu berkibar dikejauhan, diatas menara jaga, disana sebuah panji dikibarkan diayun kekanan dan kekiri dengan irama tertentu.
Kilatan petir berikutnya menyambar memberi cahaya sesaat menerangi benteng dan menara jaga, diwaktu yang hampir bersamaan suara panjang dari terompet tanduk kerbau menggema menembus hujan dan kegelapan, disusul teriakan kemenangan prajurit musuh.
Dari apa yang telah dilihat dan didengar, Mahardika dan Tarakirana mengerti bahwa pos jaga mereka telah direbut musuh.
Wajah Mahardika mengeras, dadanya menjadi tegang, jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa detik. Suara terompet terus menggema memantul kembali seakan ingin memenuhi setiap lembah sekitar dengan suara kemenangan mereka.
Sebelum Mahardika mampu mengambil keputusan, tangan Tarakirana telah mengenggam lengannya erat, tanpa bicara gadis itu menariknya menjauh dari arena pertempuran.
Tarakirana bukan prajurit yang bergerak karena panik, Mahardika mengenalnya dengan baik, gadis itu pasti telah mengenali keadaan dengan baik beberapa saat sebelum ia bertindak.
Karena itulah, ketika Tarakirana menarik lengannya dan mulai berlari meninggalkan medan pertempuran, tubuh Mahardika tidak menolak untuk mengikuti arah kaki Tarakirana yang membawa mereka menyusuri tepian sungai yang gelap, melewati semak-semak yang basah dan akar-akar pohon yang menjulur dari tebing.
Hujan membantu menyamarkan jejak mereka.