Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #2

Tiga Jiwa yang Bertahan


Tangan Tarakirana mulai terasa pegal, perlahan ia menurunkan panahnya, meskipun matanya tetap mengawasi cahaya obor dibawah dengan waspada, sudut matanya sesekali melihat Adikarsa yang tetap siaga disisinya, menjaga sudut pandang yang tak terjangkau oleh nya.


" Terakhir aku melihatmu, .... kau masih berada di kelompok bersama Lurah Prajurit. " Tarakirana memecah keheningan dengan suara lirih, sementara Mahardika menoleh sekilas kearah Adikarsa.

" Kenapa sekarang kau berada di Gunung Batu ini? " Mahardika melanjutkan pernyataan Tarakirana, tetapi pertanyataan itu hanya dijawab dengan hembusan nafas berat Adikarsa.

Titik-titik cahaya obor dibawah sana masih saling menjauh tanpa arah pasti. 

Adikarsa kembali menarik nafas panjang sebelum kemudian menjawab.

" Di Lembah itu,... kami terjebak." mata Adikarsa menerawang kebawah, seakan ia mampu melihat ulang kejadian itu. "disisi tebing dan jalur hulu sungai, mereka muncul dari berbagai arah." suara Adikarsa bergetar, matanya tertutup sejenak, seakan berat baginya mengingat kejadian itu kembali, 


Mahardika mendekatkan dirinya lebih rapat, agar mampu mendengarkan penjelasan Adikarsa dengan lebih jelas. 

"Lurah Prajurit memerintahkan untuk menyebar agar tetap hidup." suara Adikarsa mulai terasa berat dan serak, 

Mahardika mematung

begitupula dengan Tarakirana, busurnya kembali terangkat, matanya menatap titik-titik cahaya obor lebih tajam. 

" Disitulah semua mulai terpisah.." 

_ketiga Prajurit itu hening_

hanyut dalam perasaan yang tidak mampu diucapkan, 


kelembaban menempel di dinding gua, merambatkan dinginnya sampai ke tulang, Angin basah malam menyusup dari celah celah batu yang sempit, membawa sisa hujan dan aroma tanah basah.


Mahardika berdeham pelan memecah keheningan dalam lirih. 

Suaranya terdengar pelan namun terasa ada aliran emosi yang tajam disana. 

" Lurah Prajurit pernah menyampaikan sesuatu jika hal ini terjadi, "

Adikarsa dan Tarakirana menoleh bersamaan, menatap Mahardika sejenak. Lalu kembali waspada pada cahaya obor yang beberapa telah kembali memasuki gerbang pos jaga.

Mahardika melanjutkan perlahan.

"Jika formasi pecah.. dan pasukan tercerai berai .. semua prajurit yang masih hidup harus berkumpul di Mata Air Candi Beringin sebelum fajar."


Pesan itu membuat suasana gua berubah, 

nama Mata Air Candi Beringin saat ini terdengar bukan hanya sebagai titik temu, namun terasa lebih sebagai sebuah janji yang sudah lama di ikrarkan dan sebuah harapan bagi prajurit untuk merebut kembali pos jaga.


waktu terus berlalu, kelembaban dan angin basah membuat pakaian ketiga prajurit itu tidak mudah kering, banyak obor yang telah kembali ke dalam pos jaga, tapi masih tersisa beberapa di sana bergerak di antara pepohonan.


" Kau yakin.. informasi ini tidak bocor ke pihak musuh?" ucap Adikarsa sambil menatap tajam Mahardika. bukan meragukan Mahardika, namun lebih menimbang kemungkinan yang tersembunyi.

Mahardika menghela nafas pelan, ia tak nyakin untuk menjawab pertanyaan Adikarsa.


" setelah kekacauan ini.. semuanya terasa seperti jebakan bagiku." ucapan Adikarsa dapat dibenarkan, bukan pesimis namun ini untuk berjaga.

_keheningan kembali menyelimuti gua itu_

Mahardika menggeleng perlahan, pria itu menutup matanya sebentar, menarik nafas panjang, 

ia mengambil sepotong ranting, 

berlutut dan mengambar di tanah Basah,

Dengan garis sederhana, terbentuk gambaran medan sekitar Mata Air Candi Beringin. Bukit-bukit, jalur setapak, aliran sungai kecil. Jelas terlihat Mahardika telah sering ke tempat itu.


bersamaan dengan selesainya gambar peta sederhana, hujan mulai turun lagi dengan lebih deras, membuat orang orang pembawa cahaya obor itu perlahan kembali ke pos jaga.

beberapa obor tiba tiba padam.

Tarakirana memberi kode kepada Adikarsa untuk melihat peta gambaran Mahardika, sementara ia sendiri , memilih untuk tetap berjaga.


" Ini Mata Air Candi Beringin." ujar Mahardika sambil menunjuk sebuah titik di tengah gambar.

ujung ranting bergeser kebeberapa lingkaran dan segitiga kecil disekelilingnya,

" ada beberapa tempat tinggi dibukit sekitar." Adikarsa mendengarkan penjelasan Mahardika dengan seksama, begitupun dengan Tarakirana , meskipun gadis itu tetap waspada memperhatikan kegiatan musuh di bawah sana..

" Jika musuh mengetahui titik kumpul kita, bukit bukit ini adalah tempat pertama yang akan mereka gunakan untuk mengawasi Mata Air." Adikarsa berkata sambil mengamati peta itu dengan seksama.


" setidaknya. tidak malam ini." Tarakirana berkomentar. " malam ini mereka sibuk dengan menyisir wilayah dan kemenangan mereka." Gadis itu menyampaikan pendapatnya dengan tenang." karena itu kita harus berada disana sebelum mereka." pendapat itu disambut dengan anggukan puas Mahardika.

" pasukan yang baru merebut kemenangan biasanya tidak akan menyebar terlalu jauh." Adikarsa menimbang kata kata Tarakirana, Mahardika menyambutnya dengan anggukan pelan.

" siapa saja yang mengetahui titik kumpul ini?" tanya Adikarsa ingin tahu tapi juga waspada.

" Hanya prajurit wira utama kepercayaan Lurah prajurit." jawab Mahardika pelan. " jadi... hanya kami berlima yang tahu." pandangan Mata Mahardika menerawang mengamati tetasan hujan yang kini kembali deras.


" para pembawa obor itu sudah selesai mencari, mereka berada di dalam pos jaga sekarang." informasi yang diberikan Tarakirana membuat kedua pria itu bernafas lega. " Hujan ini pula yang telah membantu kita mematikan obor obor mereka. " Tarakirana tersenyum kecil.

" Tapi.." Gadis itu melanjutkan kalimatnya sambil menatap Mahardika tajam. " Jika kau tahu informasi ini... kenapa tidak memberitahuku dari awal.?" Mahardika menoleh terkejut.

Mata keduanya bertemu.

bertahan beberapa saat disana.

" jadi kita tidak perlu memanjat tebing ini dimalam gelap seperti dua tikus sungai yang tersesat.." suara Tarakirana terdengar merendam emosinya. 


" kau yang terus menarikku ke gunung ini.." mendengar jawaban Mahardika, sudut bibir kirana bergerak tipis. " kau...kau.. yang menyeretku kesini.." Mahardika tergagap mencoba menjelaskan. 

" Aku melihatmu merangkak seperti monyet. " Sela Adikarsa. " Tarakirana tak pernah menyeretmu. "

Mendengar ucapan Adikarsa yang ikut memojokkan, Mahardika berdiri, 

menghapus peta sederhana yang dibuatnya,

mendekati Tarakirana yang masih berdiri mengawasi gerakan musuh dibawah sana, 

sesekali sudut mata gadis itu melirik Mahardika dengan kesal.


Mahardika dengan kikuk menggaruk tengkuknya pelan, dan berbisik kearah Tarakirana, " sejujurnya.... aku Lupa.." pemuda itu berusaha jujur mengakui kelalaiannya.

" aku baru mengingatnya setelah mendengar cerita Adikarsa tentang kelompok Lurah Prajurit di lembah." kejujuran Mahardika disambut kembali dengan keheningan gua, hanya suara hujan yang semakin deras yang menjawab pengakuan jujur itu.


Adikarsa memejamkan mata sejenak, meremas ganggang busur nya seolah ia sedang menahan sesuatu.

" demi para leluhur... dan penjaga gua Keramat ini..." suara Adikarsa tetap dipertahankan dalam samar, walau ada geram yang ditahan.

" Apa?!" Mahardika menoleh, melihat Adikarsa yang masih berlutut didepan peta yang baru saja dihapusnya.

" Bukan kamu yang dipanggil.. " Tarakirana mengangkat alisnya.." kamu belum jadi leluhur." Tarakirana memperjelas kalimatnya.


Adikarsa menatap Mahardika tidak percaya.

" kau melupakan perintah darurat yang hanya disampaikan kepada Prajurit pilihan? " Adikarsa berdiri sedekat mungkin dengan Mahardika.

" Aku sedang sibuk bertarung. " Mahardika pun menatap Adikarsa, sebagai tanda ia tidak gentar dengan intimidasi Adikarsa.

" itu bukan alasan." tatapan Adikarsa semakin tajam.

" Aku Hampir mati." 

" itu juga bukan alasan."

Mahardika masih ingin mencari alasan lain untuk membela diri, tetapi Adikarsa lebih cepat berucap.

" Lurah Prajurit mempercayaimu sebagai Wira Utamanya."

" Benar." Mahardika membusung bangga.

" Lalu kau melupakan perintah daruratnya , disaat DARURAT!!!." Tatapan Adikarsa semakin mengintimidasi.

" hanya sementara... "

Adikarsa menghela nafas panjang, sebelum kembali berbisik dengan nada jauh lebih geram.


" Aku benar benar tidak mengerti bagaimana Lurah Prajurit bisa memilihmu sebagai prajurit Wira utamanya."

Mahardika sempat berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan itu.

lalu dengan sedikit ragu Mahardika menjawab pelan.

Lihat selengkapnya