Seperti yang diharapkan oleh setiap insan, akhirnya mentari bersinar menampakkan semburat kemerahan di ufuk Timur, Cahaya pagi yang menghangatkan bumi, membuat kelopak mata Tarakirana terbuka perlahan.
Di Langit warna biru berpadu dengan semburat merah, kuning keemasan dan putih, menjadi sambutan pertama terindah ketika membuka mata.
senyum kecil menghias wajah Tarakirana
Ia menggeliat perlahan sebelum pandangannya jatuh pada sosok yang tidur pulas di sampingnya.
_Mahardika_
wajah itu tidak asing bagi Tarakirana, sejak Berusia 7 Tahun Mahardika telah tinggal bersamanya didesa Batu Merah. Kulit Mahardika kini tampk lebih gelap kecoklatan akibat terlalu sering berlatih dan bertarung di bawah terik matahari.
ketegasan wajahnya yang tumbuh bersama dengan tahun-tahun yang mereka lewati bersama, Rahangnya kokoh, sementara kelopak matanya sedikit cekung membuat tulang hidungnya terlihat tegas dan sempurna.
sejenak Tarakirana teringat kenangan mereka masa kecil, Tarakirana 5 tahun lebih tua dari Mahardika, dialah yang berperan sebagai ibu dan kakak bagi Mahardika. Jika Mahardika menangis, ialah yang menjadi tempat Mahardika bersandar.
"ehmmm.."
Suara dehaman pelan membuat Tarakirana tersentak. mengembalikan pikirannya dari kenangan masa lalu ke masa kini
Tarakirana mengalihkan pandangannya
Adikarsa berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menatap ke arah lain, pemuda itu sedang mengawasi daerah sekitar.
Di bawah cahaya pagi, sosok Adikarsa tampak berbeda dari kebanyakan prajurit. Pembawaannya tenang dan lembut, Kulit kuning langsatnya terlihat lebih bersih dari kebanyakan pria yang pernah Tarakirana temui, bahkan bisa di katakan lebih cerah dari kulitnya. Rambut panjang Adikarsa, tampak lurus sempurna terikat sederhana, bergerak lembut perlahan di terpa angin pagi.
jemari Tarakirana bergerak seolah ingin merasakan kelembutan rambut itu.
" sudah cukup terpesonanya." Suara itu membuat Tarakirana tersentak. entah mengapa di pagi hari, mudah bagi Tarakirana terganggu dengan apapun di hadapannya.
Gadis itu segera bangkit, merapikan rambut panjangnya seadanya, merapikan ikatannya, menyampirkan kantong anak panah ke punggung lalu meraih busur kesayangannya.
Setelah nyakin dirinya siap untuk berjalan ke samping Adikarsa yang terus mengawasi lembah.
" Apa yang kamu lihat?" Tanya Tarakirana saat berada sejajar dengan Adikarsa.
" Lihat disana ada beberapa pohon buah. kita bisa sarapan disana." Adikarsa menunjuk ke arah lereng di kejauhan. Tarakirana mengikuti arah telunjuk.
" Lalu itu..." Telunjuk Adikarsa mengarah ketempat lain. " aku yakin itu adalah kawasan Mata air Candi beringin."
" bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tarakirana bertanya ingin tahu, sambil menyimpitkan matanya mencoba melihat area itu lebih jelas.
Adikarsa mendekatkan dirinya ke arah Tarakirana,
" Disana ada terlihat beberapa pohon beringin," lalu telunjuknya bergeser pelan mengarah ke sebuah pohon tinggi menjulang dengan ranting ranting terbentuk indah dan kokoh. "dan itu.. adalah pohon kesayangan Mahardika." sementara tangan kiri Adikarsa mencoba mengarakan kepala Tarakirana mengikuti arah telunjuknya.
tepat di saat itu pula sebuah tangan dari belakang memindahkan tangan Adikarsa dari kepala Tarakirana.
tentu saja itu membuat Adikarsa terkejut.
_CTak_
Tangan Adikarsa mendapat sentilan yang kuat dari Mahardika, yang sudah berdiri tegap di belakang mereka, dengan wajah mengantuk.
" mana pohon kesayanganku itu." dengan sengaja, Mahardika menggeser tubuh Adikarsa setengah langkah kesamping. lalu menempatkan dirinya tepat di tengah antar Adikarsa dan Tarakirana.
Adikarsa tetap tenang meskipun menyadari Mahardika baru saja menggesernya dengan paksa. Adikarsa memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Mahardika,
namun justru berusaha mengalihkannya,
"karena kau sudah bangun.." Adikarsa mendorong bahu Mahardika "Lebih baik kita menyisir wilayah ini sekarang,, memastikan daerah sekitar Mata air Candi beringan masih aman." memaksa tubuh Mahardika yang masih malas bergerak.
"cepat turun." Perintah Adikarsa sambil mendorong tubuh Mahardika.
" Hei" Mahardika sempat menolak ringan.
" kau adalah Wira Utama, Mulailah bekerja.." Mahardika mendengus mendengar sindiran Adikarsa, tapi tubuhnya tetap menurut menuruni bukit.
" aku belum sarapan." Mahardika sedikit merengek.
" Di sana ada pohon buah, kau bisa makan sampai kenyang." Adikarsa terus mendorong tubuh Mahardika,
Tarakirana hanya memperhatikan kedua pria itu sambil tersenyum tipis.
saat keduanya melewati Tarakirana yang hanya diam tersenyum tipis, Adikarsa menyentuh dahi Gadis itu dengan punggung tangannya, mencoba mengukur suhu badan Tarakirana, setelah gadis itu sempat tertidur di tengah perjalanan saat semalam mendaki.
" kau yakin baik baik saja?"
" ya aku jauh lebih baik.." Jawab Tarakirana sambil tersenyum singkat.
Namun sebelum Adikarsa sempat menarik pergelangan tangannya.
_ctakkk_
Mahardika kembali menyentil pergelagan Adikarsa dengan keras.
Adikarsa menarik tangannya reflek dan mengelusnya karena merasa sedikit panas di area tertentu.
Adikarsa menatap Mahardika lurus, meminta penjelasan dari sorot matanya, namun Mahardika justru membalikkan badan Adikarsa dan memberi kode untuk memimpin arah.
" ayo jalan..."
Adikarsa menggeleng pelan sebelum, memimpin arah sesuai perintah Mahardika.
sementara Tarakirana tersenyum tipis sepanjang jalan.
Beberapa langkah telah berlalu, kini mereka berada di tanah datar, suara burung menyambut activitas pagi hari di alam, embun masih berada di atas dedaunan, kabut tipis menghalangi jarak pandang mata, namun membuat paru-paru terasa segar.
suasana pagi yang terlalu indah seakan mencoba menghapus kekacauan dan pertumpahan darah di malam yang telah lewat.
Mereka berjalan dengan ringan, cepat namun penuh ke waspadaan, membiarkan Adikarsa berjalan memimpin paling depan,
tapi_
tiba-tiba langkah pria itu terhenti.
Tangannya mengepal memberi isyarat untuk berhenti dan waspada.
Adikarsa membungkuk lalu berjongkok.
Tatapannya menyapu tanah, semak-semak dan pepohonan di sekitar mereka.
ia menyentuh beberapa daun yang tergulung dan terlipat natural, lalu dahan kecil yang melengkung dan patah.
Adikarsa memberi kode dengan tangan bahwa dua orang baru saja lewat.
kedua kawannya mengerti maksud itu.
Mahardika mempersiapkan pedang panjangnya, suara desing besi terdengar setiap kali ia mencabutnya dari sarung pedang.
Tarakirana memperbaiki posisi busurnya di punggung, sebelum mencabut belati panjang dari pinggangnya,
disisi lain.
Adikarsa memilih tombak pendek, yang selalu tergantung bersama kantong anak panahnya.
senjata seperti itu lebih cocok untuk pertarungan jarak pendek.
hutan menjadi terasa sunyi, meskipun suara burung, monyet dan binatang liar, masih memenuhi hutan tempat mereka berjalan perlahan mengikuti jejak yang ditinggalkan.
jejak itu membawa mereka menyusuri lereng, hingga kesebuah semak lebat dekat batu besar.
Adikarsa berjongkok, mengamati tanah sekitar.
tidak ada jejak lanjutan.
tidak ada tanda orang kembali arah.
tangan Adikarsa perlahan terangkat, dan memberi tanda mungkin musuh di dalam semak itu.
dalam sekejap ketiganya bergerak
Mahardika melangkah ke depan sebagai pelindung utama
Adikersa disebelah kanan dengan tombak pendek nya.
Tarakirana bergeser ke kiri sambil menggengam belati panjangnya.
tak ada perintah
tak ada yang saling melihat.
mereka membentuk formasi untuk saling melindungi.
lalu dari balik semak terdengar siulan
dua nada pendek
satu nada panjang
ketiga prajurit itu terbelalak saling memandang, mereka mengenali kode siulan itu.
lalu Mahardika membalas dengan nada kebalikannya
satu nada panjang
dua nada pendek menyusul
mereka mengenali itu sebagai tanda dari pasukan yang sama, bukan musuh.
namun mereka tetap tidak menurunkan ke waspadaan, senjata tetap teracung siap melawan.
dari balik semak perlahan sebuah tombak muncul ke udara.
beberapa langkah di sebelahnya, sebuah pedang juga muncul dari batu besar,
mereka menyadari itu adalah cara prajurit yang berhati hati menunjukkan dirinya pada kawan.
barulah dua sosok pria keluar dari tempat persembunyian mereka.
tubuh mereka penuh debu dan lumpur sama seperti keadaan ketiga prajurit yang baru mereka lihat.
mereka tersenyum lebar,
"Jayantara..." Mahardika mengenali mereka berdua sebagai prajurit wira utama. " Danang."
" Mahardika, Adikersa... Tarakirana" Jayantara menyebut nama mereka dengan bangga. walaupun tak ada pelukan.
Danang tersenyum lebar nyaris tertawa.
tak ada kata basa basi,
hati mereka semua terasa sesak oleh haru setelah melewati malam berdarah yang melelahkan.
" kalian pasti menuju Mata Air Candi Beringin juga." Mahardika memulai percakapan,
" ya.." jawab Jayantara dan Danang serentak
" tapi kami ragu." ujar Danang lirih. " penyergapan dan penyerangan kemarin terlalu rapi."
" aku juga merasa begitu." Adikarsa melanjutkan.
" itu sebabnya kami menyisir daerah sekitar lebih dulu." lanjut Jayantara yang tampak sangat bahagia dengan pertemuan ini.
" ternyata para Wira utama memiliki pemikiran yang sama" ucap Tarakirana sambil tersenyum tipis, Jayantara dan Danang menatap gadis itu sambil tersenyum.
" senang melihat mu kembali Tarakirana." cara Danang menatap Tarakirana terasa berbeda, jelas sekali pria itu memberi perhatian lebih pada Tarakirana.
Adiskara menepuk pundak Danang sambil berlalu.
"kita lanjutkan rencana semula." ucap Adiskara.
Danang Berdeham sekali untuk mengalihkan perhatiannya.
"Rencana apa? " tanya Jayantara ingin tahu.
" Mencari makan." Jawab Mahardika sambil menghampiri Tarakirana, lalu mendorong gadis itu pelan untuk berjalan di depannya. kini Tarakirana berjalan diantara Adikarsa dan Mahardika.
" Tapi.. bukannya membuat asap saat ini berarti memberitahu lawan keberadaan kita." Meskipun ucapannya bertentangan namun Danang tetap mengikuti langkah kawan kawannya, kini Danang berada di paling belakang.
" kita makan buah dulu.." jelas Mahardika.
"Dari atas bukit aku melihat ada beberapa pohon buah di arah depan." Adikarsa menunjuk arah tempat dimana ia tahu pohon itu berada.
" yakin?" mata Danang menyipit, meskipun bertanya seperti itu Danang tidak mau berhenti mengikuti kawan kawan yang berjalan dengan nyakin mengikuti Adikarsa.