Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #4

Pesan dan Sebuah Tatapan

Suara gemericik air menyambut mereka lebih dahulu daripada pandangan candinya sendiri.

Dibawah naungan pohon-pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga menyentuh tanah, mata air itu mengalir jernih melalui susunan batu yang telah tersusun alami oleh semesta,


Mahardika, Tarakirana, Adikarsa, Danang dan Jayantara, mereka berlima berhenti sejenak mengamati keadaan sekitar dengan waspada.

Namun

Disana tidak ada jejak-jejak pertempuran.

tidak ada pula jejak pasukan musuh.

Kehidupan di candi berjalan sebagaimana biasanya.


Tiga wanita tampak berada di Altar Candi. seorang perempuan muda berjalan membawa baki bambu penuh dengan bunga persembahan, asap membumbung dari dupa yang di bakar, seorang lagi sedang mengisi kendi-kendi dengan air suci yang mengalir tepat keluar dari tengah batu candi.

Sementara di tengah Altar candi, seorang wanita berlutut, kedua tangannya terkatup di depan dada.

Matanya terpejam

Dihadapannya, asap dupa membumbung tinggi ke udara, dan menghilang di antara dedaunan beringin tua.


Beberapa pancuran mengalir di bawah tangga,dan tertampung dalam kolam kecil sebelum mengalir pelan diantara sela-sela bebatuan menuju dataran yang lebih rendah, kolam dan pancuran-pancuran itu sengaja di persiapkan untuk para peziarah candi untuk membersihkan diri. Disana para prajurit itu berjajar tak perlu menunggu giliran mereka untuk membersihkan diri mereka

Sedikit demi sedikit sisa darah, lumpur dan keringat yang melekat sejak kemarin malam tersapu pergi oleh mata air yang di yakini suci oleh penduduk sekitar.

Meskipun tubuh mereka mulai bersih, kenangan tentang malam itu masih tetap tertinggal dalam ingatan masing-masing.


Bagi para wira utama, Candi Beringin bukan sekedar tempat peribadatan. Tempat ini menyimpan banyak kenangan yang jauh lebih dalam.

Di pelataran batu itu, mereka pernah berdiri berdampingan, mengucapkan sumpah setia di hadapan para leluhur.

Sebelum berangkat menuju peperangan.

Sebelum menjalankan tugas-tugas penting kerajaan.

Sebelum mempertaruhkan nyawa demi tanah yang mereka lindungi.

Lurah Prajurit selalu mengawali perjalanan mereka dari Mata air Candi Beringin.


Pandangan mereka tertuju pada pelataran candi dimana saat ini seorang wanita bertubuh langsing, mengenakan kebaya berwarna coklat tanah, di hiasi corak-corak kuning yang lembut di bagian lengan dan tepinya, duduk dengan khidmat.

Kain panjang yang di kenakannya jatuh rapi hingga menutupi seluruh kakinya yang sedang bersila di sana,

Beberapa kuntum bunga persembahan tersusun rapi di atas altar, aroma dupa dan bunga persembahan yang memenuhi baki-baki meciptakan suasana yang damai.

Ketenangan kali ini terasa begitu kuat sehingga membuat para prajurit yang biasanya bergerak cepat, kini melangkah perlahan, menuju pelataran altar seakan takut menghancurkan kedamaian yang terasa sakral itu.


Lurah prajurit tidak ada di antara mereka.

Tidak ada sosok pemimpin yang berjalan di depan mereka dengan wibawa.

Hati Mahrdika, Danang dan Jayantara terasa memiliki ruang hampa yang tidak dapat di jelaskan.

Meskipun begitu ke tiga wira utama itu tetap berjalan menuju altar.

Tarakirana dan Adiskara berjalan di belakang mereka.

Mereka datang kali ini bukan dengan rombongan yang lengkap


Bukan pula dengan senyum kemenangan.

Namun kali ini mereka datang sebagai para prajurit yang masih hidup yang sedang memenuhi janji yang pernah di ucapkan di candi ini.

Ketika ke lima Prajurit itu berdiri di pelataran berhadapan dengan altar, wanita berkebaya coklat yang sejak tadi berdoa dengan khusyuk, perlahan membuka matanya.


Dengan gerakan tenang, wanita itu berbalik menghadap mereka. Untuk sesaat, tidak seorangpun berbicara.Ke lima prajurit hanya memandangnya.


Pada pandangan pertama itulah mereka merasakan sesuatu yang sulit di jelaskan. Tatapan wanita yang tidak mengintimidasi. Tidak pula menunjukkan kewibawaan yang di paksakan. Tatapan itu lembut dan penuh ketenangannya.

Namun di sana di kedalaman yang tidak dapat di ukur, ada kekuatan yang tersimpan yang tidak mampu di goyahkan siapapun.

" Silahkan kepada para prajurit untuk berdoa." Suara wanita itu lembut dan tenang. membuat telinga siapapun yang mendengarnya menjadi tenang sampai ke kalbu.

Wanita itu menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat sebelum melangkah ke samping mendekati seorang perempuan yang membawa baki bunga persembahan.

Dengan lembut ia mengambil baki tersebut.

lalu kembali mendekati para prajurit.

Satu persatu dengan hati-hati dan tingkat kesopanan yang tinggi, ia meletakkan bunga persembahan ke dalam tangan mereka yang telah tertangkup.


Saat wanita itu berjalan, aroma dupa yang lembut tercium samar.

Harum itu seakan melekat pada rambut panjangnya yang tergerai rapi hingga punggung.

Sebuah rangkaian bunga mawar dan melati terselip indah pada cepol kecil di bagian atas rambutnya. Kulitnya putih bersih, tidak ada cela di sana, tidak menyimpan bekas kehidupan yang berat.

Penampilan anggun yang sederhana namun memiliki daya tarik yang tinggi, secara natural.


Danang memperhatikan wanita itu, tanpa di sadarinya matanya memandang wanita itu terlalu lama, kesan hangat mencul di dalam hatinya.

Wanita yang memiliki kecantikan standar wanita di kerajaan itu, namun ketenangan yang terpancar seakan mampu menghanyutkan semua mata yang memandangnya.


Mata sayu dan lembut wanita itu menjadikannya begitu mencolok di antara para wanita di candi itu.

Di sisi lain, Mahardika juga tidak melepaskan pandangannya, ada sesuatu pada wanita itu yang mengingatkannya pada sosok yang telah lama tersimpan dalam kenangannya.

Lihat selengkapnya