Mahardika terus berlari, menerobos semak, membelah hutan tanpa memperlambat langkahnya, dadanya bergemuruh mengingat setiap ucapan Putri Kemakmuran, tanpa terasa setitik airmata keluar disudut matanya,
Dalam keputusasaan ia tak mengerti arah mana yang terbaik untuk membawa kelompoknya ini berlari.
hanya satu saat ini yang ia tahu, _Menjauh_
pergi sejauh mungkin dari Mata air Candi Beringin.
Karena itu ia hanya berlari,
Langkah kakinya terhenti di hadapan sungai yang mengalir.
Sungai yang tak asing baginya.
Air nya mengalir jernih membuat riak kecil saat berbentur dengan bebatuan, Pohon-pohon besar menaungi sepanjang sungai.
Mahardika memandang daerah itu dengan rasa heran, seolah tak percaya kakinya telah membawanya ke tempat itu, tempat yang tak asing baginya.
Tempat yang sering ia datangi bersama Tarakirana, sebelum mereka masuk ke tenda pos jaga sebagai prajurit.
Tak lama Danang, Adikarsa dan Jayantara tiba di sana, masing-masing masih berusaha mengatur nafas, ketika tiba-tiba Tarakirana muncul dari balik pepohonan.
Gadis itu melompati beberapa batu untuk melewati Adikarsa dan Danang, agar bisa berdiri tepat di hadapan Mahardika.
Matanya melotot tajam
"Apa yang ada di pikiranmu?" Suara Tarakirana memekik karena kesal.
Adikarsa yang belum pernah melihat gadis itu marah , sempat mngangkat kedua alisnya.
Danang menoleh heran.
Sementara Jayantara menyaksikan bagaimana Mahardika mundur beberapa langkah menjauhi gadis itu.
Seakan memahami situasi, Mahardika menyerahkan kotak bambu pemberian Putri Kemakmuran, ke tangan Adikarsa.
" Kau sadar tempat ini apa?" Lanjut Tarakirana penuh kemarahan.
Mahardika berkedip beberapa kali, Tarakirana menunjuk arah di seberang sungai, seakan ada sesuatu di sana yang harus ia lindungi.
"Apakah kau berencana membawa mereka semua ke rumahku?" mata Tarakirana semakin membesar melihat Mahardika hanya melihatnya bingung.
Danang, Adikarsa dan Jayantara seakan tak percaya Mahardika membawa mereka ke arah jalan pulang ke rumah Tarakirana.
Mahardikapun menoleh ke seberang sungai arah yang di tunjuk Tarakirana dengan bingung.
lalu kembali menatap Tarakirana.
Mahardika membuka mulutnya, lalu menutup kembali.
"Aku.." Ujarnya pelan, Mahardika memandang Adikarsa memohon agar pemuda cerdas itu membantunya, Namun Adikarsa juga menggeleng bingung.
"Aku hanya mengikuti instingku.." Mahardika melanjutkan penjelasannya dengan kikuk."bahwa pulang ke rumahmulah tempat paling aman." Jawaban polos Mahardika itu membuat Adikarsa menunduk berusaha menyembunyikan senyumnya.
Tanpa peringatan, Tarakirana meraih bagian depan baju Mahardika, tarikan itu begitu mendadak, hingga Mahardika hampir kehilangan keseimbangannya.
kakinya sempat tersandung batu di dekatnya , Tubuh Mahardika nyaris terjerembab jika Danang tidak sigap menangkap lengannya.
"Hei__" Mahardika bahkan belum sempat melanjutkan penjelasannya ketika Tarakirana telah menarik tubuh Mahardika menjauh dari kawan-kawannya .
Mahardika terpaksa mengikuti langkah gadis tersebut yang juga di katakan telah menyeretnya menjauh.
Danang memperhatikan kepergian mereka sambil menggelengkan kepalanya."Mahardika adalah pria malang yang akan menikahi gadis itu."
Jayantara tertawa pelan mendengar ucapan Danang.
"Setidaknya ia mempunyai seseorang yang akan di nikahinya." ucapan itu di sambut dengan anggukan Danang.
Melihat Mahardika di kejauhan sana yang hanya menunduk dan hanya sesekali menjawab Tarakirana, membuat Danang teringat cara Tarakirana memeriksa dan menawan pria dengan belatinya.
"Bagaimanapun Gadis itu menarik." Danang berhenti sebentar lalu melanjutkan "Sedikit liar dan menakutkan... Tapi bergairah."
" Ehm..." Adiskara berdehem sambil menatap Danang tajam.
Mata Adiskara terus memperhatikan Mahardika dan Tarakirana yang tampak berbicara serius di kejuhan sana.
"Hei...kalian..." Danang berseru tak sabaran. " Berhenti bermesraan! kami kesepian di sini." kelakar Danang.
"Atau kami menyusul kesana" Lanjut Jayantara.
Keduanya tertawa lepas, mengingatkan kejadian di camp saat mereka sering mengolok-olok kedekatan Tarakirana dan Mahardika.
Tak lama tampak tubuh Mahardika berbalik, melangkah berat ke arah kawan-kawannya.
wajahnya tampak lesu.
Melihat keadaan itu, Danang semakin penasaran.
"Kau Habis di siksanya?" tanya Danang yang di jawab dengan gelengan lemah Mahardika.
"Ia hanya ingin memarahiku."
" Jika Tarakirana keberatan, kita bisa ke tempat yang lain." Adiskara mencoba memberi jalan keluar, Namun Mahardika kembali menggeleng.
"Dia mengizinkan..." ujar Mahardika masih lesu.."Dia hanya ingin memarahiku.." mendengar penjelasan itu Danang menepuk pundaknya,
"memiliki istri memang tidak mudah... terlebih yang masih liar. " Ucapan Danang membuat Mahardika melotot,
Adikarsa memukul pundak Danang kesal. sedangkan Jayantara tertawa mendukung.
Di kejauhan Tarakirana masih mematung memperhatikan kelompok itu.
"Tarakirana!..ke sini!! kita buka kotak ini." Danang kembali berteriak agar gadis itu mendekat.
Langkahnya sedikit malas, masih ada sisa-sisa kekesalan di wajahnya. namun ia tetap duduk bersama kawan-kawan perjuangannya.
Para prajurit kini berkumpul melingkar di atas rumput dekat sungai. perhatian mereka tertuju penuh pada kotak bambu pemberian Putri Kemakmuran.
Dengan hati-hati Mahardika membuka penutupnya.
Aroma rempah samar menyeruak keluar, di dalam kotak bambu tersusun rapi banyak potong dendeng sapi dan dendeng ayam yang telah di asap. beberapa ubi jalar,
makanan perjalanan.
makanan yang tidak mudah rusak.
Disana juga ada bungkusan kecil lainnya dalam kantong berwarna kuning,
Adikarsa membukanya,
Beberapa botol kecil tersusun di sana.
Botol-botol itu terbuat dari tanah liat yang di tutup rapat oleh sumbat kayu.
Adikarsa membuka sumbatannya , aroma khas obat segera tercium.
"Obat luka." Guman Adikarsa.
" Putri Kemakmuran kiranya semesta selalu menjagamu dimanapun kau berada." Mahardika menatap langit seakan mengirim doanya.
" Kau akan menjadi seorang petapa suci." Canda Adikarsa "Kau sudah berdoa 3 kali hari ini."
"mungkin... itu tidak buruk." Mahardika menatap Adikarsa sambil mengambil beberapa dendeng sapi lalu menyerahkannya kepada Tarkirana terlebih dahulu. Gadis itu menerimanya tanpa komentar, namun tindakan itu berhasil membuat hatinya jauh lebih tenang.
Danang melahap dengan semangat.
Jayantara juga menguyah dengan penuh bahagia.
hanya Adikarsa yang masih mampu mengendalikan dirinya, makan perlahan dengan teratur.
Setelah perut mereka kenyang, kelima prajurit sepakat untuk membersihkan diri mereka sebelum menggunakan rempah obat di tubuh yang terluka.
Empat pria itu membuka baju prajuritnya dengan ringan, ada lebam dan luka-luka kecil dan besar, mereka seakan bersaing siapa yang mendapatkan luka terbanyak dan terparah, mereka sedang sibuk membandingkan ketika Tarakirana memilih bagian sungai yang lebih tertutup oleh semak dan batu.