Matahari kembali bersinar di atas bumi tercinta ini, Cahayanya menerangi sawah yang membentang di kejauhan, memantul ke permukaan sungai kecil yang mengalir tenang membelah desa.
Suara ayam berkokok bersahutan, dari rumah penduduk beberapa wanita telah memulai pekerjaan mereka, menumbuk padi, menjemur pakaian ataupun membawa keranjang ke sungai.
Di kejauhan terdengar suara kayu berbenturan dengan lesung, suara khas itu seakan adalah musik indah yang di mainkan setiap pagi, bersanding dengan suara tawa dan perbincangan para wanita di sekitar lesung.
kehidupan berjalan sebagaimana biasanya,
Beberapa pria duduk bersantai sambil meminum kopi, di temani kawan atau wanita yang mungkin adalah istri atau kerabatnya. Seolah perang di perbatasan tidak menyentuh desa itu.
Adikarsa berdiri memandangi pemandangan itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
Ia hampir tidak percaya, bahwa dirinya kini berada di desa tempat Mahardika dan Tarakirana tumbuh bersama,
Perlahan ia mengusap bale bambu yang di dudukinya,
"Entah berapa banyak cerita yang di saksikan oleh bale ini." ujar Adikarsa dalam hati.
Adikarsa berhenti mengusap bale bambu itu, ketika seorang gadis memasuki pekarangan dengan sebuah baki kecil.
Langkahnya ringan, namun ia selalu mencuri pandang ke arah Adikarsa berkali-kali.
Setiap kali pandangan mereka bertemu, gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya.
Adikarsa hanya tersenyum kecil melihat tingkah serba salah gadis muda itu.
Ia membungkuk memberi salam kepada Adikarsa, pemuda itupun melakukan hal yang sama, kemudian gadis itu berlari kecil ke arah dapur, di mana mbok Jarni telah menunggunya.
Saat gadis itu membungkuk memberi hormat, Adikarsa sempat melihat kain merah di atas baki kecil yang di biarkan terbuka.
Tak lama gadis itu keluar lagi untuk membawakan sebuah wedang hangat beserta jajanan pagi.
"Mbakyu Tarakirana dan kangmas Mahardika belum bangun." katanya malu malu.
Adikarsa mengangguk setuju, ia tak begitu mengerti maksud gadis itu, apakah ia sedang memberi informasi atau sedang bertanya.
"Saya Ranti. nama kangmas siapa? " tanya gadis itu, sambil meletakkan gelas wedang dan piring jajanan di bale dekat Adikarsa duduk.
"Saya Adikarsa." Pemuda itu tersenyum ramah menjawab, suara Adikarsa yang memang selalu lembut dan halus , membuat gadis itu tersenyum lebar dengan mata berbinar.
Namun suasana syahdu itu terhenti saat suara derap kuda memasuki gerbang desa, bunyi tapak kaki kuda-kuda itu terdengar semakin mendekat, Adikarsa berdiri memastikan sumber suara itu.
Debu berterbangan di sepanjang jalan yang di laluinya, membelah kesunyian desa, dua ekor kuda tampak berlari tanpa memperlambat langkah ketika melewati orang-orang desa. Bahkan laki-laki yang menunggangi kuda-kuda itupun hanya menatap lurus kedepan. seolah mereka sedang berada dalam keadaan yang membuat mereka melupakan tata-krama.
Kuda-kuda itu berlari cepat ke arah perbukitan batu, yang berada tak jauh dari rumah Tarakirana, bukit-bukit tua di sana yang telah berada jauh lebih lama sebelum penduduk desa Batu Merah menetap.
Mbok Jarni yang sedang bekerja di dapur ikut menoleh dan keluar dapur karena suara derap kuda itu.
Wajahnya yang biasanya ramah dan selalu tersenyum, seketika berubah cemas ketika melihat debu bertebaran menuju perbukitan batu.
Mbok Jarni segera menyentuh pundak Ratni.
"Cepat bangunkan Mahardika.." perintah Mbok Jarni Setengah mendorong tubuh Ratni untuk memasuki ruang tengah, sementara wanita itu memasuki kamar Tarakirana yang hanya di tutupi selembar kain merah yang tipis, yang mudah tersingkap karena angin.
Tangan Mbok Jarni menyingkap tirai merah itu.
"Tarakirana." Gadis itu tetap tidak bergerak, Mbok Jarni menggeleng pelan, melihat gadis yang memiliki kebiasaan buruk, yaitu tidak bisa bangun pagi.
" Neng... bangun neng.." Dengan berat hati mbok Jarni mengoncang tubuh Tarakirana dengan kuat.
Goncangan itu sejujurnya mampu membuat siapapun terbangun.
Wajah Tarakirana masih menyimpan rasa kantuk, ketika memandang wajah mbok Jarni yang terlihat cemas.
"Ada apa mbok?" Tarakirana sambil mengaruk leher dan tangannya yang terasa gatal pagi itu.
"Ada dua penunggang kuda.. terburu-buru ke arah perbukitan batu, mbok kuatir mereka menuju kuil pertapaan Romomu...debunya ..." belum selesai Mbok Jarni bercerita, Tarakirana segera berdiri, meraih belati panjang yang selalu ditaruhnya didekat tempat tidur.
Gerakannya cepat, bahkan terlalu cepat untuk orang yang baru bangun tidur, membuat mbok Jarni menutup bibirnya seketika.
Dalam hitungan detik, gadis itu telah berlari keluar rumah.
Tirai merah yang menutupi kamarnya tersingkap dan berkibar tinggi saat tubuhnya melesat melewatinya.
Mahardika, Danang dan Jayantara tidur bersama di bale tengah, baru saja terbangun karena suara Ratni, di saat bersamaan Mereka melihat sosok gadis berlari dengan cepat melewati mereka.
"Tarakirana?" Mahardika mencoba bertanya ke Danang dan Jayantara,
"Mungkin.."Mereka pun saling pandang.
Mahardika melongo melihat ke luar melalui jendela, di lihatnya Adiskara berlari mengejar Tarakirana.
"AAAAAA...." Mahardika menunjuk dengan panik, ia meraih pedangnya lalu berlari mengejar mereka, Danang dan Jayantarapun melakukan hal yang sama, tanpa harus tahu alasan kenapa mereka harus lari secepat itu pagi ini.
Kelima prajurit itu kembali melesat bagaikan anak panah, namun kali ini mereka di lepas dalam waktu yang berbeda.
Bagaimanapun gerakan cepat dan lincah mereka, membuat beberapa penduduk menoleh heran saat mereka lewat.
Tubuh Tarakirana melesat ringan, melewati batu batu yang tidak tersusun dengan baik, jalan ke bukit berkelok tak menentu, namun kaki Tarakirana telah hapal setiap pijakan, Adikarsa tepat mengikuti jejak langkah gadis itu.
Namun entah mengapa Mahardika terlihat berusaha berlari jauh lebih cepat dari biasanya, ia seakan mengerahkan seluruh kekuatannya,
Sehingga dengan langkahnya yang lebar dan kekuatannya yang besar ia berhasil melewati Adiskara, dengan senyum penuh kemenangan ia melewati tubuh Adiskara yang ramping dan tinggi.
Pemuda berkulit putih cerah itu hanya mendengus kesal, melihat Mahardika melewatinya.
Karena Mahardika mengerahkan seluruh kekuatannya ia bahkan tak mampu mengontrol tubuhnya ketika melewati Tarakirana, pemuda itu harus melompati beberapa batu sekaligus ketika mencapai puncak bukit batu.
Tubuh Mahardika tepat mendarat di hadapan seorang pria berjubah merah, rambut pria itu tergulung ke atas terikat rapi dengan kain merah, sebuah sulaman burung merak berwarna kuning emas, menghiasi ujung kain pengikat rambut itu.
Mahardika mengenali ikat rambut itu adalah pemberian Tarakirana sebelum mereka berangkat ke tempat pelatihan prajurit.
Dihadapan sang pertapa, duduk dua pria mengenakan pakaian yang tampak halus, dengan hiasan sulam yang bermutu tinggi, corak batik yang indah dan rumit. rantai kecil terbuat dari emas atau kuningan yang tersemat rapi di dada membuat dua pria itu tampak semakin berwibawa, juga terselip di pinggang mereka sebilah keris.
Mahardika menyadari pria itu bukan penduduk biasa.
Belum habis rasa terkejut mereka, Tarakirana juga melompati batu itu seperti Mahardika dan mendarat dengan cara yang sama persis seperti pemuda itu, seakan itulah gerakan yang tubuh mereka pahami untuk mendarat di kuil pertapaan.
lalu di susul kedatangan Adikarsa yang elegan.
lalu Jayantara
dan terakhir Danang.
kelima Prajurit itu berdiri dalam barisan yang sama, berhadapan dengan Sang pertapa dan dua pria berwibawa.
Angin pagi berhembus pelan, menyapu pelataran kuil Batu Merah. membawa suasana hening penuh tanda tanya.
Ketiga pria yang sedang duduk di pelataran kuil menatap kelima prajurit dengan heran. lalu sang petapa tertawa.
"Itu Putriku.." Sang pertapa menunjuk ke arah Tarakirana.
"Romo." Tarakirana segera memberi hormat.
"Mereka adalah para prajurit yang selamat dari serangan pos jaga pertama." Sang pertapa mencoba mencairkan suasana. kedua pria berwibawa di hadapannya mengangguk mengerti dengan senyum yang bermartabat.
"Perkenankan aku memperkenalkan para tamu yang terhormat, " Sang pertapa memberi anggukan hormat, di sambut dengan gerakan yang sama oleh kedua pria itu.
"Ini adalah Adipati Gandasuli. penguasa wilayah Tambran." Adipati membalas dengan senyum ramah dan anggukan pelan, namun sorot matanya tetap tajam menunjukkan ia memang adalah seorang pemimpin.
"dan ini adalah Adipati Ranupati. Penguasa wilayah Tirtawana." Pria itu mengangguk ke arah para prajurit, gerakan dan tatapannya lebih lembut daripada Adipati Gandasuli.
Para prajurit segera membungkukkan badan berlutut dengan satu kaki menyentuh tanah dengan kedua tangan terkatup dalam satu kepalan di depan dada, sebuah penghormatan kepada kedua pemimpin wilayah.
"sudahlah..." Adipatu Ranupati memberi kode pada mereka untuk berdiri.
"Apa yang membawa kalian kemari?" Tanya Sang Pertapa lembut, setelah para prajurit berdiri tegak lagi.
Mendengar pertanyaan itu Mahardika menatap Sang Pertapa kosong.
Seakan lidahnya baru saja terlepas saat ia melompati 2 batu sekaligus.
Lalu_
Mahardika memilih mendorong tubuh Tarakirana ke depan,
Gadis itu hampir tersandung karena tidak siap dengan dorongan itu, untunglah tubuh Tarakirana terlatihnya mengetahui cara menyeimbangkan tubuh dengan cepat.
"Aku berlari kesini karena mengikutinya." Kata Mahardika sambil mendoronh tubuh Tarakirana. Mendengar jawaban itu suasana pelataran kuil menjadi hening seketika,
Seorang pemuda muncul membawa hidangan suguhan, yang di letakkan di hadapan sang pertapa dan kedua Adipati.
Danang menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan senyum melihat kekonyolan mereka pagi ini.