Di Bale bambu yang teduh, lelaki yang masih terlihat tampan dengan jubah merah yang warna nya telah mulai memudar itu masih duduk menunggu, angin siang berhembus, mengerakkan jubah sang pertapa.
"Romo." Tarakirana mendekat, memberi hormat dengan sopan, lalu duduk di sebelah kanannya dengan sopan dan anggun.
Mahardika memberi hormat dan memilih duduk di samping Tarakirana.
Sedangkan Adiskara duduk di sebelah kiri Sang Pertapa
Danang disebelah Adikarsa,
dan Jayantara duduk berhadapan dengan Sang Pertapa.
Mereka duduk melingkar di bale sederhana di depan rumah kayu tempat Tarakirana dan Mahardika di besarkan.
Sang Pertapa memandang para prajurit satu persatu dengan senyum hangat, ramah tanpa mengintimidasi.
"Perkenankan aku mengenal para prajurit yang terhormat, yang telah berkenan datang ke rumah sederhana ini." ujarnya dengan suara lembut dan sopan.
Danang sempat melirik Tarakirana yang duduk dengan anggun di samping ayahnya, rambut yang berkepang ke samping dengan ikatan tali putih menghiasi ujung kepangan rambut, seakan serasi dengan kebaya putih dan jarik kuning yang di kenakannya, gadis itu sungguh tampak berbeda.
Adikarsa yang menyadari Danang kembali terpesona dengan Tarakirana, segera berdiri,
memberi hormat
lalu berkata tenang.
"Hamba hanyalah putra seorang pedagang dari negeri Tiongkok." Sang Pertapa mengangguk, seakan penjelasan barusan menjadi jawaban dari mana kulit putih bersih Adikarsa berasal.
" Ayah hamba bernama Li Jian Cheng, Beliau datang ke tanah Jawa untuk berdagang, dan kemudian menetap di sini. Ibu Hamba bernama Sekararum, seorang penyalin Lontar."
Sang Pertapa tersenyum.
Adikarsa berhenti sejenak, melirik sebentar ke arah Tarakirana yang hanya sesekali memandangnya, pandangan gadis itu lebih banyak jatuh ke lantai Bale.
"Nama hamba Adikarsa, Namun sejak kecil hamba juga dikenal dengan nama Tiongkok sebagai Li Zhi Gao. Zhi berarti cita-cita/keingingan, Gao berarti Luhur, jadi Adikarsa dan Zhi Gao memiliki arti yang sama. yaitu putra yang memiliki keinginan yang luhur. "
Sang Pertapa semakin tersenyum lebar sambil mengangguk anguk.
"Saat ini hamba mengabdi sebagai telik sandi pasukan perbatasan tepatnya pos jaga satu, dan berada dalam kelompok pemanah."
Entah mengapa mata Adikarsa kembali mencari sosok Tarakirana, yang kini juga sedang menatapnya, tatapan itu bertemu sekian detik, sebelum Tarakirana kembali mengalihkan tatapannya ke samping, dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
ketika Adikarsa kembali duduk, Sang pertapa memandang Adikarsa, "Aku mengenal ibumu, sebagai wanita yang cerdas dan berani, beberapa kali aku membeli tulisan lontar ibumu, tapi aku belum pernah bertemu ayahmu. " Mendengar ucapan itu Adikarsa mangangguk sopan. "Kamu memiliki kecerdasan ibumu." Lanjut Sang Pertapa sambil menepuk pundak Adikarsa.
Lalu sang Pertapa melihat Danang yang telah bersiap berdiri sambil merapikan penampilannya.
Sikapnya lebih santai dari Adikarsa, namun tetap menunjukkan rasa hormat.
"Hamba mohon izin memperkenalkan diri hamba." sang petapa mengangguk mempersilakan Danang.
"Hamba adalah putra seorang prajurit biasa yang gugur di medan perang saat mempertahankan perbatasan selatan kerajaan."
Suasana di Bale bambu menjadi sedikit lebih hening.
"Nama ayah hamba Darin, beliau gugur ketika hamba masih kecil. sedangkan ibu hamba bernama Purnama, saat ini beliau mengabdi sebagai abdi dalem yang melayani Putri Kencana di Lingkungan keputrenan."
Nada suara Danang tetap mantap, ada sedikit rasa bangga di sana saat menyebut identitas orangtuanya.
" Hamba bernama Danang. saat ini hamba mengemban tugas sebagai Wira utama, tugas hamba adalah memimpin menerobos pertahanan lawan dan membuka jalan bagi prajurit di belakang." Sang Pertapa mengangguk.
"Tugas yang berat." Sang pertapa menghela nafas panjang membayangkan bagaimana Danang harus bertempur menerobos musuh.
"Terkadang terasa berat Romo." Danang membenarkan ucapan Sang Pertapa." Tetapi selama kawan-kawan hamba masih berdiri di belakang, hamba tidak pernah merasa sendirian"
"Keberanian adalah anugrah yang besar, namun keberanian yang disertai dengan kesetiaan adalah sesuatu yang lebih berharga." Mendengar itu Danang menangkupkan tangan ke dadanya.
"Hamba akan mengingat nasehat Romo." setelah Danang memberi hormat sekali lagi, ia kembali duduk di tempat semula.
Sekarang giliran Jayantara memperkenalkan dirinya,
"Hamba mohon izin memperkenalkan diri hamba." dengan sikap yang sama seperti Adikarsa dan Danang ia memberi hormat.
"Silahkan." Jawab sang pertapa lembut sambil mengangguk rendah hati.
"Keluarga Hamba berasal dari kerajaan yang telah runtuh. bersama dengan kejatuhan kerajaan itu, gelar dan kedudukan keluarga hamba juga ikut lenyap ." suasana menjadi hening.
"Ayah hamba bernama Surya, beliau adalah seorang petani dari desa Warun, ibu hamba bernama Dwi, beliau membantu seorang tabib wanita di desa kami." Jayantara tersenyum mengingat betapa keluarganya sangat menginginkan hidup damai itu." Hamba bernama Jayantara, bertugas sebagai Wira Utama pembuka jalan pelarian, dalam peperangan hamba adalah pengatur medan dan arah pelarian" Jayantara terdiam sejenak sesaat sebelum melanjutkan.
lalu tatapan jayantara perlahan berubah lebih tegas.
" Keluarga hamba memilih hidup damai di desa, dan menjauhi urusan politik. . Namun hamba memilih jalan yang berbeda, Hamba ingin memperoleh kehormatan baru dengan usaha dan pengabdian hamba sendiri."
"Itu pemikiran yang bijaksana, Jayantara," sang Pertapa tersenyum lebar. "Kau berani untuk menjalani Takdirmu sendiri." Sang Pertapa menatap Jayantara dengan bangga.
"Terimakasih Romo." Pria muda itu menunduk kepala hormat, kemudian ia kembali duduk di tempatnya.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening, hanya suara desir angin yang menyapu dedaunan dan suara perbincangan sayup penduduk desa dari kejauhan .
Sang Pertapa mengangguk kepalanya perlahan, "Aku melihat luka-luka di tubuh kalian, masih ada lelah dan ketidakpastian di sana, namun mata kalian tetap memancarkan harapan." Kata sang Pertapa sambil memandang kelima prajurit satu persatu. "Takdir sering kali memilih jalannya sendiri." tatapan sang pertapa berhenti pada Mahardika.
Seolah ada sesuatu yang tengah dipikirkannya, lelaki yang tidak terlalu tua itu memandang Mahardika dalam.
"Berkunjunglah besok ke rumah pamanmu Rakyan Wicaksono." Mendengar itu Mahardika segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dan menundukkan kepala dengan hormat.
"Baik Romo."
"Bawalah kawan-kawanmu." Sang Pertapa berkata sambil berdiri, Jubah merah yang telah mulai luntur warnanya berkibar pelan di tiup angin sore. "Tarakirana, Sebelum berangkat besok, mampirlah dulu ke kuil pertapaan." Kata Sang pertapa kepada putrinya, sebelum beranjak meninggalkan para prajurit yang masih duduk dengan sopan di bale bambu.
"Baik Romo." Jawab Tarakirana dengan santun.
Disamping Sang Pertapa, Tarakirana ikut berdiri, ia berniat mengikuti langkah ayahnya, namun Sang Pertapa mengangkat tangan memberi isyarat agar putrinya tetap tinggal.
"Nduk.." Sang Pertapa menatap putrinya dengan lembut.
"Ya Romo." Tarakirana menjawab santun.
"Saatnya kau menjelaskan tempat ini kepada teman-temanmu.."
"baik Romo." Jawaban Tarakirana yang lembut, membuat sang Pertapa tersenyum bangga. "Datanglah subuh sendiri menemuiku di kuil pertapaan."
"Baik Romo." Jawaban Tarakirana membuat Sang Pertapa mengangguk pelan, setelah itu ia berbalik dan melangkah menyusuri jalan setapak, yang menanjak menuju perbukitan.
Kelima prajurit memandangi sosok pria yang masih bertubuh tegap, langkahnya sangat teratur dan menunjukkan memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, perlahan menghilang di balik pepohonan dan kabut tipis lereng bukit. Setelah bayangnya tak lagi terlihat, Danang yang tampaknya sudah gusar, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jadi Kau adalah keponakan Rakyan Wicaksono?" Ucapan Danang memecah keheningan. "lalu siapa nama ayahmu?.. aku nyakin beliau juga adalah orang ternama." mendengar pertanyaan itu, Tarakirana menatap Danang tajam.
"Mahardika adalah putra dari mendiang Rakyan Pengawas Jalur Dagang Dharmapala dan bundanya adalah Dyah Kusuma wardani." mendengar Nama kedua orangtua Mahardika, serta merta Danang menurunkan tangannya, memberi anggukan hormat, diikuti oleh Jayantara, bahkan Adikarsa sempat memberi hormat dengan tangannya.
"Sudahlah.." Mahardika mengibaskan tangannya dengan kesal, melihat sahabat-sahabatnya berubah menjadi canggung."aku ingin kalian bersikap sama seperti kemarin, aku tidak suka gelar keluarga ini." Mahardika menghela nafas berat, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran bale bambu.
Adikarsa berdeham beberapa kali, seakan sedang mengatur pita suaranya, bagaimanapun Adikarsa, Danang dan Jayantara merasa canggung mengetahui siapa sebenarnya Mahardika.
"Aku mengenal kisah keluargamu dengan cukup baik,Ibuku bahkan menuliskannya dalam sebuah gulungan lontar." Akhirnya kata-kata itu diucapkan dengan suara yang agak canggung.
"Benarkah?" Mahardika segera menegakkan tubuhnya, "Apa yang di Tulis Ibundamu?"
Adikarsa diam sejenak, berusaha mengingat kalimat-kalimat yang pernah di bacanya.
"Menurut catatan itu, Rakyan Dharmapala sedang berlayar menyusuri pesisir utara, untuk membongkar jaringan penyelundupan garam, beliau berhasil menangkap beberapa pelakunya, tetapi gugur dalam tugas sebelum sempat kembali ke ibukota."