Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #8

Burung Layang-layang Menuju Langit.

Embun masih menggantung di dedaunan ketika ayam berkokok memecah fajar, sementara langit timur mulai berhiaskan semburat merah keemasan.


Seperti biasa Adikarsa menjadi orang pertama yang bangun, Mahardika, Jayantara dan Danang masih terlelap di balik selimut.


Bale bambu tempat mereka berempat berbaring berderit pelan ketika tubuh Adikarsa bangkit. Ia melangkah keluar kamar dengan tenang, menghirup udara pagi yang masih sejuk.


Pemuda berkulit cerah itu selalu menyukai pemandangan langit waktu fajar, baginya semburat merah di langit adalah pemandangan paling indah yang diberikan alam.


"Lho.. Den Bagus sudah bangun." Suara lembut mbok Jarni membuat Adikarsa menoleh.


Perempuan paruh baya itu menghampiri Adikarsa yang duduk di bale luar rumah, sambil menyerahkan secangkir wedang jahe yang masih mengepulkan uap.


"Terimakasih mbok." Adikarsa menerima wedang itu sambil tersenyum.


"Den Bagus selalu bangun pagi ya.." Mbok Jarni mulai menyadari dua hari ini Adikarsa selalu bangun lebih dulu. Adikarsa mengangguk menjawab pertanyaan Mbok Jarni.


"Saya menyukai pemandangan saat matahari baru muncul di Langit," Mata Adikarsa melihat ke arah ufuk timur "Rasanya dunia tampak lebih damai."


"Mbok." Kata Adikarsa lagi dengan sopan."Panggil saya Adikarsa,, jangan den bagus." Mendengar itu mbok Jarni tersenyum.


"Wajahmu memang bagus." jawab mbok Jarni sambil menaruh satu kendi wedang jahe dan beberapa cangkir kosong di bale tempat Adikarsa duduk, "Siapapun yang melihatmu pasti akan berkata wajahmu bagus." Ucapan mbok Jarni membuat Adikarsa tertawa kecil.


Bersamaan dengan tawa kecil itu, langkah ringan Ranti memasuki halaman rumah.


Keranjang anyaman ada di lengannya, Sepertinya sudah menjadi kewajiban Ranti untuk membantu Mbok Jarni menyiapkan segala keperluan rumah sejak pagi.


"Kangmas Adikarsa selamat pagi." Sapa Ranti dengan senyum hangat, pundak sawo matangnya bersinar terpantul cahaya pagi, gadis itu mengenakan kemben dan jarik dengan corak yang sama, sementara sebuah selendang putih terikat di pinggangnya.


"Selamat pagi Ranti." Balas Adikarsa ramah.


"Hari ini kangmas semua dan mbakyu Tarakirana akan berangkat ke ibukota?" Ranti bertanya lembut sambil berdiri anggun di hadapan Adikarsa.


"Ya.." Adikarsa menganggukkan kepala dengan senyum di wajahnya, sesekali pemuda itu meniup wedangnya.


Ranti mengangguk mengerti, lalu gadis itu membisikkan sesuatu di telinga mbok Jarni.


Wanita paruh baya itu mendengar dengan seksama,


mengangguk pelan


lalu mereka berdua pergi meninggalkan Adikarsa sendirian.


Hanya ditemani secangkir wedang jahe, dan pemandangan langit yang kemerahaan, Adikarsa menikmati ketenangan pagi.


Pepohonan di halaman bergoyang perlahan di tiup angin pagi, suara burung sesekali terdengar bersahutan, menyempurnakan suasana ketenangan di pagi itu.


Di belakangnya, dari balik kamar, terdengar langkah kaki pelan datang menghampirinya.


"Sedang melihat apa?" suara itu membuat Adikarsa menoleh, Jayantara berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada.


Adikarsa tersenyum kecil


"Desa ini.." Suara Adikarsa lirih seakan tidak ingin bersaing dengan suara burung di kejauhan sana."... Ternyata dihuni oleh puluhan prajurit terlatih seperti kita." Jayantara duduk di sebelah Adikarsa


"Benar." Sesaat kemudian wajah Jayantara berubah lebih serius.


"Rakyan Wicaksono memiliki pasukan rahasia.. menurutmu, apakah ini pertanda baik?"


Adikarsa tidak segera menjawab pertanyaan itu.


ia menyeruput wedang hangatnya terlebih dahulu sebelum meletakkannya di samping.


"Kita ikuti saja dulu kemana air mengalir." Ucapan Adikarsa membuat Jayantara menatapnya tanpa kedip."yang kita lihat kemarin adalah satu sisi dari sebuah cerita." Jayantara membiarkan Adikarsa terus mengatakan pendapatnya. "kita harus melihat secara keseluruhan baru bisa menyimpulkan dan bertindak dengan benar." Adikarsa menatap langit yang semakin memudar warna merahnya.


Jayantara menghembus nafas panjang sambil menuang wedang ke cangkirnya.


"Pertemuan hari ini dengan Rakyan Wicaksono mungkin bisa menjadi jawaban." Adikarsa melanjutkan ucapannya.


"Jadi kau masih belum bisa menentukan sikap?" Jayantara bertanya sambil meniup wedangnya.


Adikarsa menggeleng pelan.


"aku harus mendengar, melihat dan memahami secara keseluruhan terlebih dahulu." kata-kata Adikarsa membuat Jayantara tersenyum tipis.


suasana kembali hening,


sesekali suara daun kering bergerak ditiup angin bergesek dengan rumput di halaman.


"Kau seharusnya menjadi penasehat Lurah Prajurit." Suara Danang tiba-tiba memecah kesunyian, Pemuda itu entah sejak kapan berdiri sambil menyandarkan bahunya pada tiang pintu,


Adikarsa dan Jayantara menoleh bersamaan


senyum tipis di wajah Danang.


"Aku tidak menginginkan jabatan itu." Jawab Adikarsa tenang.


Danang menggeleng pelan, lalu duduk bergabung dengan kedua sahabatnya.


"Kau terlalu cerdas untuk menjadi telik sandi biasa, Caramu berpikir dibutuhkan oleh para pejabat kerajaan." Danang berkata sambil tersenyum lebar, ia juga menuang wedang ke cangkirnya.


Danang berhenti sejenak, merasakan cangkir itu menghangatkan telapak tangannya.


"hanya saja.."Jayantara mulai menyatakan pendapatnya."Kau tidak suka berhubungan terlalu dekat dengan para pejabat." mendengar pendapat itu Adikarsa tertawa kecil


"mungkin aku terlalu takut menjadi pusat perhatian." Jayantara ikut tertawa mendengar ucapan Adikarsa barusan.


"Wajahmu saja sudah menjadi pusat perhatian para gadis." Lanjut Jayantara di antara tawa kecilnya.


"Kalau mereka tahu caramu berpikir, kau akan menjadi incaran para putri bangsawan." Sepertinya Danang memang memiliki rasa humor tinggi bahkan ketika ia baru saja bangun." dan diperebutkan oleh para senopati." Tawa Danang hampir meledak ketika Mahardika keluar dari balik pintu dengan rambut yang masih berantakan.


Danang langsung terkekeh melihat penampilan Mahardika.


"kau seperti sedang dipaksa bangun dari mimpi indah." canda Danang.


Mahardika mengusap wajahnya sambil menguap.


pemuda itu tidak mempedulikan candaan Danang.


Mbok Jarni dan Ranti datang dengan membawa nampan berisi penuh dengan makanan, Kue yang dibungkus daun pisang, ubi rebus, nasi tiwul dan aroma makanan lain memenuhi udara pagi.


mbok Jarni meletakkan semua makanan itu di bale Bambu.


sementara itu


Di Lereng perbukitan, Tarakirana menuruni bebatuan dengan mudah, angin gunung berhembus membuat jariknya tersingkap memperlihatkan celana putih panjang dibalut dengan kain pembebat betis berwarna hitam.


Kebaya putih membalut tubuhnya, membuat penampilan gadis itu terlihat anggun pagi ini.


Gadis itu melangkah dengan pasti mendekati para pemuda yang duduk di Bale Bambu sedang menikmati makanannya.


"kau sudah siap berangkat?" tanya Mahardika ketika melihat penampilan Tarakirana,


Lihat selengkapnya