Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #9

Strategi Bertahan

Derap lima kuda itu perlahan melambat kembali ketika keramaian mulai tampak di ujung jalan.

Disisi kiri dan kanan jalan

Beberapa warung kecil telah membuka dagangannya,

Menyambut para musafir dan pedagang yang hendak memasuki ibu kota.

Tak jauh dari keramaian itu, dua menara bata merah menjulang megah mengapit gerbang utama kota. Ditengahnya berdiri pintu besar dari kayu jati berukir, membuat gerbang itu terlihat megah.

Pintu besar itu selalu dibuka setiap fajar, dan ditutup kembali ketika malam telah larut. Beberapa prajurit berjaga di depan gerbang, sementara para pemanah bersiaga di puncak kedua menara. Mengawasi setiap orang yang datang dan pergi.


Kelima penunggang kuda itu pun melangkah pelan melewati gerbang, Danang sedikit memiringkan badannya ke arah Jayantara.

"Pengawal gerbang lebih banyak dari biasanya." Bisik Danang

Jayantara mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari prajurit yang berjaga, beberapa penjaga tanpa sengaja bertemu tatap dengannya.

Semuanya seolah tampak tenang, tetapi di mata para prajurit, setiap pasang mata mereka mengamati keadaan dengan seksama. Bersiap menghadapi apapun yang menanti di waktu yang tak terduga.


Hamparan ibu kota terbentang luas di balik gerbang kota, jalan utama dilapisi batu padat, membelah kota hingga menuju komplek keraton di kejauhan. Di sepanjang sisi jalan berdiri deretan toko, rumah para saudagar sertai kedai-kedai makanan. Suara riuh terdengar dari para penduduk, seakan kota itu tidak ingin berhenti memperdengarkan suaranya.

Panji-panji kerajaan berkibar gagah di angkasa tertiup oleh angin, diatas atap bagunan-bangunan pemerintahan yang menjulang kokoh dengan batu bata merah, atap genteng tanah liat membuat bangunan itu lebih terlihat anggun berwibawa.

"Zhi Gao.." Tiba-tiba suara seorang perempuan memecah hiruk pikuk pasar,

Suara itu terdengar dari balik deretan toko milik Saudagar.

Seorang gadis berkepang dua berdiri mematung di depan toko, wajahnya dipenuhi keraguan saat menatap punggung Adikarsa.

Mendengar namanya yang telah lama tak pernah disapa, Adikarsa spontan menoleh.

tatapan mereka bertemu.

Seketika wajah gadis itu merekah oleh senyum bahagia, tanpa memperdulikan sekelilingnya gadis itu berlari ceria menuju kuda yang ditunggangi Adikarsa.

"Ternyata memang benar kamu Zhi Gao." gadis berkulit kuning langsat itu tersenyum lebar. Sorot matanya berbinar tampak sekali ia sangat bahagia melihat Adikarsa.

"Sari.." Adikarsa juga mengenali gadis itu sebagai kawan kecilnya saat belajar aksara jawa di rumah Mpu Atmajaya

"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Adikarsa lagi, sambil membungkukkan sedikit badannya dari atas pelana. Senyum hangat khas Adikarsa menghiasi wajah bersihnya.

"Ayahku sehat. Kami semua baik-baik saja." Sari mengangguk antusias. "Mampirlah ke rumah jika ada waktu."

Adikarsa membalas anggukan itu sambil tetap tersenyum hangat.

"Tentu saja.." jawab Adikarsa halus "Nanti aku mampir jika ada kesempatan."


Karena percakapan tak terduga itu, Mahardika terpaksa menghentikan kudanya, begitu pula dengan Danang, jayantara dan Tarakirana mereka memilih untuk menunggu kuda Adikarsa melangkah lagi di samping kuda Mahardika, daripada melewatinya.

Sari menyingkir ke tepi jalan seolah mengizinkan Adikarsa dan kawan-kawannya berlalu.

"Hati-hati di jalan Zhi Gao.." pesan Sari masih sambil tersenyum. Adikarsa mengangguk lagi sebelum menarik pelan tali kekang kudanya.


Rombongan kelima penunggang kuda itu kembali bergerak pelan, menyusuri jalan batu di ibukota.

"Zhi Gao..." suara Danang tiba-tiba menyerupai suara seorang perempuan. "Aku kangen kamu.."

Jayantara langsung terkekeh di atas pelananya mendengar nada bicara Danang yang sengaja dibuat melengking.

Mahardika ikut tertawa kecil

Adikarsa tetap menatap lurus ke depan, sama sekali tidak menanggapi godaan itu.

Tarakirana hanya menggeleng pelan, gadis itu tahu hanya Danang yang mampu mengubah pertemuan hangat menjadi bahan olokan dalam hitungan menit.


Tak lama kemudian jalan utama bercabang, Mahardika memimpin rombongan kecil itu memasuki wilayah para Bangsawan. Keramaian pasar tak lagi terdengar.

Suasana menjadi tenang dan tertata . Rumah-rumah di kawasan ini saling berjauhan, masing-masing dikelilingi pagar batu bata merah yang kokoh beberapa pohon rindang terlihat dari balik pagar kokoh itu.


Di ujung jalan, kuda Mahardika berhenti, di depan gerbang yang tampak jauh lebih megah dan kokoh dari gerbang rumah-rumah lainnya.

Dua pria memegang erat tombaknya, berdiri di depan gerbang itu berjaga, tatapan mereka tajam, berani penuh kewaspadaan.

Namun sedikit melunak ketika melihat lambang wangsa keluarga yang tersemat rapi di dada Mahardika.

Lambang itu adalah identitas keluarga Rakyan Wicaksono, sehingga mudah bagi para penjaga mengenalinya.

Meski demikian.

Mereka tidak membuat semuanya itu mudah. Saat Mahardika dan keempat sahabatnya turun dari pelana, salah satu penjaga mengangkat tangan, menghalangi langkah kelima sahabat itu.


"Sebutkan nama dan tujuan kedatangan anda." Kata pengawal itu tegas.

"Aku Mahardika, keponakan Rakyan Wicaksono." Mahardika juga memperlihatkan lempeng kayu prajurit pos jaga perbatasannya. "kami datang untuk memberikan surat dari Romo Sang Pertapa."

Mendengar nama Mahardika, kedua penjaga membungkuk sesaat.

"kami mengenali lambang wangsa Anda, tetapi sesuai perintah Rakyan, setiap tamu wajib diperiksa identitasnya." Mahardika mengangguk tanpa menunjukkan keberatan.

Keempat sahabat nya serempak mengeluarkan lempeng kayu dari balik ikat pinggang masing-masing.

lempeng itu diukir dengan lambang pasukan dan nama pemilik beserta jabatan tugas mereka. Penjaga memeriksa satu persatu dengan teliti,

lalu mengangguk

"Mohon tunggu sebentar." Penjaga itu membungkuk hormat lalu berbalik membuka gerbang dan hilang di balik gerbang yang tertutup kembali.

"penjagaan yang ketat." Jayantara bergumam,

Mahardika tampak bangga dengan kewaspadaan pamannya.

Adikarsa menuntun kudanya ke sisi gerbang, disana telah tersedia sebatang balok kayu panjang, ditanam kokoh diatas tiang-tiang pendek sebagai tempat menambatkan kuda para tamu.

Lihat selengkapnya