Kediaman Keluarga Mahardika masih berdiri kokoh seperti yang ia tinggalkan bertahun-tahun yang lalu. Meski lama tak berpenghuni rumah itu tetap terawat , Halaman tersapu bersih, taman dipangkas rapi, beberapa pelayan hilir mudik mengurus rumah.
Tak ada penjaga seperti di Kediaman Rakyan. Tetapi justru ini membuat Mahardika merasa tenang.
Kelima Sahabat masih berbincang di pendopo yang di buat lebih tinggi dari tanah.
Adikarsa sedang mencoba menjelaskan tentang sandi bahasa dagang kepada kawan-kawannya ketika.
_Brak_
Pintu gerbang terbuka tiba-tiba,
Belasan barisan pria bertubuh kekar menerobos pintu masuk dengan kasar. sebagian membawa pedang, sebagian membawa tombak pendek. Mereka berbaris sembarangan menghadap pendopo,
Beberapa pelayan Mahardika berlari ketakutan.
"Mahardika keluar." dari belakang barisan muncul seorang pemuda memakai baju hitam khas seorang anak bangsawan, dengan jarik wiru batik berwarna putih, dipadu dengan celana hitam longgar yang sedikit berkibar saat ia melangkah, seolah menunjukkan betapa lembut bahan celana dan bajunya.
Pemuda itu berdiri paling depan satu langkah lebih maju dari para pengawalnya.
Mahardika berdiri dan melangkah tenang menemui para tamunya yang masuk kediamannya tanpa izin dan sopan santun.
Anak Bangsawan itu menatap sosok Mahardika yang muncul dari kegelapan dengan angkuh.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Sapa Anak bangsawan yang angkuh itu.
Mahardika memandanginya beberapa saat sebelum akhirya mengenali wajah itu.
"Rangga??" Mendengar namanya masih di ingat Mahardika, ia tersenyum puas.
"Aku mendengar dari pengawalku bahwa kau telah kembali ke ibukota." Kata Rangga lantang sambil maju mendekati Mahardika. "Aku datang untuk memberi salam" Rangga membungkuk hormat, di balas dengan gerakan yang sama.
"Tapi aku juga ingin membuktikan malam ini, bahwa aku bukan lagi anak bangsawan yang dahulu bisa kau kalahkan sesuka hati," mendengar perkataan Rangga ,Mahardika menghela nafas panjang.
"Itu permasalahan kita waktu kecil." Mahardika mencoba menyentuh bahu Rangga namun pemuda itu justru memukul tangan Mahardika keras hingga membuat tangan Mahardika melayang keudara dan kembali dengan keras.
Melihat perilaku kasar Rangga,
Danang melompati pagar pendopo dengan lincah dan mendarat tepat di samping Mahardika.
Detik berikutnya_
Jayantara menyusul dengan gerakan yang sama.
Tarakirana hendak menyusul, namun sebelum kakinya meninggalkan pendopo, tangan Adikarsa menahan pergelangan tangannya.
"Tunggu." instruksi dari Adikarsa, membuat gadis itu menatapnya.
"Kita tidak boleh membuat mereka mengenali kita, apalagi mengetahui kemampuan kita, besok kita akan mulai menyamar." mendengar penjelasan lembut Adikarsa, gadis itu mengangguk kecil, lalu mengikuti tubuh pria itu beralih ke tempat yang lebih tersembunyi, walaupun masih mungkin terlihat sosok mereka dari tempat kerumunan para pria itu berdiri, namun untuk wajah mereka akan sangat sulit.
Rangga tertawa angkuh melihat kedatangan Danang dan Jayantara,
"Aku menantangmu duel satu lawan satu." Rangga mengangkat tangan memberi Isyarat , belasan pengawalnya segera menyebar membentuk lingkaran lebar di halaman , mereka telah menjadi batas arena pertarungan sekaligus menjadi saksi.
Mahardika terkekeh pelan melihat semua itu.
"Jadi kau masih menyimpan dendam padaku, " tanya Mahardika sambil menggeleng seolah tak percaya permainan kecil dahulu masih terbawa sampai sekarang.
"Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bukan anak bangsawan yang lemah." Wajah Rangga sedikit menahan malu saat ia mengingat masa kecil mereka. "Dan kau sering menindasku."
"Aku tidak pernah melakukan itu." Mahardika membantah. "Tarakirana yang menindasmu, dan mengalahkanmu setiap kali kalian bertengkar." Spontan Mahardika menoleh ke arah pendopo tempat ia meninggalkan Tarakirana, namun Gadis itu tak ada di sana.
"Mana gadis yang selalu membawa tombak itu, jangan bilang sekarang ia sedang bersembunyi." Suara Rangga semakin lantang.
Mahardika menyapu seluruh pandapa dengan matanya mencari sosok Tarakirana, Sampai akhirnya ia menemukan bayangan Adikarsa dan Tarakirana di balik tiang-tiang kayu, hal itu membuat Mahardika mendengus kesal.
Mahardika mengalihkan pandangannya ke arah Rangga kembali.
"Baiklah" Mahardika melangkah ke tengah lingkaran. "Ayo kita bertarung."
Rangga menyeringai tipis mengubah posisinya lebih waspada. tak menunggu aba-aba tanpa hitungan
Mahardika bergerak lebih dahulu, beberapa langkah cepat mendekati Rangga dengan tangan kanan yang melucur lurus mengincar wajah Rangga,
Suara desing angin terdengar ketika Rangga menghindar dengan memiringkan kepalanya.
Tinju itu melesat cepat membelah udara di depan hidungnya, Rangga merasakan angin dari gerakan itu.
Disaat yang sama Rangga berputar dan melayangkan siku ke pelipis Mahardika.
Mahardika mengangkat lengan kirinya sebagai tameng menahan serangan itu.
_Buk_
Benturan keras terdengar.
Tanpa kehilangan keseimbangan, Mahardika membalas dengan tendangan rendah, kali ini ia mengincar lutut lawan.
Rangga mundur tepat waktu.
Debu halaman berterbangan karena gerakan kaki mereka.
Mahardika kembali maju dengan serangan cepat, pukulan kanan kiri lalu pukulan lurus ke dada.
Rangga berhasil menepis dua pukulan, tapi pukulan ketiga menghantam bahunya, tubuh Rangga bergeser setengah langkah.
namun
dengan cepat Rangga segera membalas.
Kepalan tangannya meluncur deras ke arah perut Mahardika
_BUK_
Mahardika menahan pukulan itu dengan kedua tangannya, tubuh keduanya bergeser beberapa langkah karena tekanan pukulan Rangga.
Mahardika menyadari kekuatan Rangga berkembang pesat.
Mahardika tersenyum menyeringai.
Dengan raungan pendek, Rangga kembali menerjang Mahardika
Rangga memiliki tekad untuk menghapus bayang-bayang kekalahan yang selama bertahun-tahun mengganggunya.
Mahardika menyambut serangan itu dengan tangan terbuka, tanpa mundur selangkahpun, tangan Rangga yang mengepal penuh tenaga untuk menjatuhkan bertemu dengan telapak tangan Mahardika yang sengaja di siapkan untuk mendorong tubuh Rangga ke belakang.
Akibatnya menggetarkan udara di sekitar pukulan itu dan mendorong tubuh kedua pemuda itu saling menjauh beberapa langkah.
Tanpa memberi jeda untuk istirahat Rangga kembali mengeram dan secepat mungkin menerjang Mahardika dengan seluruh tenaga yang di milkinya, seakan Rangga ingin menyerang langsung dengan seluruh tubuhnya
Mahardika memiringkan tubuhnya untuk menghindari tubrukan itu.
Namun ternyata Rangga memiliki rencana yang berbeda.
gerakannya berubah
dengan kelincahan yang sudah terlatih, ia memutar tubuhnya rendah dan menyapu kedua kaki kanan Mahardika.
_SAP_
Mahardika bereaksi cepat dengan melompat setinggi mungkin menghindari sapuan kaki Rangga.
Hingga sapuan itu hanya menyisir udara kosong di bawah kaki Mahardika
Memanfaatkan posisinya di udara, Mahardika mengepalkan tinjunya, bersiap menghantam lurus ke arah Rangga ketika tubuhnya turun.