Pagi itu Adikarsa telah berangkat lebih dulu, meninggalkan kediaman Mahardika. Kepergiannya membuat suasana terasa berbeda. Keempat sahabat yang masih tinggal bersama di kediaman Mahardika seakan kehilangan satu bagian dari kebersamaan mereka.
Di ruang tengah, hidangan sarapan telah tersaji rapi di atas meja kayu. Dua pelayan perempuan hilir mudik menyajikan makanan dan menuangkan minuman hangat, sementara dua pelayan pria sibuk menyapu halaman serta merapikan taman yang masih basah oleh embun pagi.
Mahardika duduk dengan wajah yang tampak tidak biasa. Lebam kebiruan menghiasi pipi dan rahangnya, membuat penampilannya jauh dari kesan gagah seperti biasanya.
Danang yang baru saja duduk tak mampu menahan senyum jahilnya.
"Mahardika, wajahmu seperti habis bertarung melawan sepuluh pendekar sekaligus."
Jayantara menatap wajah sahabatnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Kalau kulihat-lihat, Rangga memang ingin memukulmu sampai seperti ini."
Ucapan itu langsung disambut tawa Danang. Bahkan seorang pelayan perempuan sampai menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar terlalu keras.
Mahardika hanya mengembuskan napas panjang sambil mengusap pipinya yang masih terasa nyeri.
"Kalian ini sahabat atau musuh?"
Di tengah riuhnya tawa mereka menikmati hidangan pagi, langkah kaki yang lembut terdengar dari arah halaman.
Seorang wanita memasuki pelataran rumah dengan anggun. Di kedua tangannya tergenggam sebuah kotak anyaman bambu yang dihiasi rangkaian bunga-bunga kering. Hiasan sederhana itu justru memancarkan kesan elegan dan berkelas.
Tubuhnya yang ramping melangkah perlahan menuju tempat keempat prajurit itu bersantap. Setiap gerakannya tenang dan anggun, seolah telah terbiasa menjadi pusat perhatian.
"Anindhita..." bisik Mahardika lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun. Ia seakan sedang menyebut nama itu hanya untuk dirinya sendiri.
Tatapan Mahardika tak mampu berpaling. Sorot matanya memancarkan kekaguman yang begitu jelas kepada wanita yang baru saja datang.
Danang dan Jayantara pun tak jauh berbeda. Keduanya ikut terdiam beberapa saat, seakan lupa pada makanan yang ada di piring dan tangan mereka
Pagi itu, kecantikan Anindhita seolah berpadu dengan hangatnya sinar mentari yang menyelimuti halaman. Wajahnya berseri, senyumnya lembut, sementara hembusan angin mengibaskan beberapa helai rambutnya, menjadikannya tampak begitu memesona hingga suasana di sekelilingnya seakan ikut menjadi lebih terang.
Tanpa menunggu lebih lama, Mahardika segera berdiri. Seolah tak ingin Danang ataupun Jayantara lebih dulu menyambut kedatangan Anindhita.
Dengan senyum lebar, ia melangkah hingga berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Anindhita terlebih dahulu menoleh ke arah Tarakirana. Ia menganggukkan kepala dengan penuh hormat sambil tersenyum ramah.
Tarakirana membalas sapaan itu dengan anggukan yang sama.
Barulah pandangan Anindhita beralih kepada Mahardika.
"Oh... maafkan Rangga yang telah membuat wajahmu menjadi seperti ini," ucapnya lirih. Tatapan matanya dipenuhi rasa bersalah saat memperhatikan lebam di pipi dan rahang Mahardika.
Mahardika tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Tak apa. Selama Rangga sudah merasa lebih baik, semua ini bukan masalah."
Mendengar jawaban itu, senyum Anindhita mengembang.
"Ya... Rangga memang masih sangat kekanak-kanakan," ujarnya pelan, lalu membuka tutup kotak bambu yang dibawanya.
Di dalamnya tersusun beberapa wadah kecil berisi ramuan berwarna kehijauan yang mengeluarkan aroma dedaunan segar.
"Aku meracik obat ini sendiri. Semoga bisa membantu menghilangkan lebam di wajahmu."
Anindhita mengulurkan kotak itu. Saat Mahardika menerimanya, ujung jari mereka tanpa sengaja saling bersentuhan.
Sentuhan itu hanya berlangsung sesaat. Namun bagi Mahardika, sekejap itu terasa cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ada kehangatan aneh yang merambat di dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menatap Anindhita sejenak sebelum berkata dengan nada sedikit canggung,
"Kalau... kau tidak keberatan, maukah kau membantuku mengoleskan obat ini?"
Di luar dugaan, Anindhita tidak tampak terkejut. Senyum lembut justru menghiasi wajahnya, seolah ia memahami maksud permintaan itu.
"Tentu saja," jawabnya tenang. "Apakah di ruang tengah?"
Mahardika menggeleng sambil menunjuk sebuah bale bambu di bawah pohon beringin yang rindang di tengah halaman.
"Di sana saja."
Tatapan Anindhita mengikuti arah telunjuknya. Senyum tipis kembali terlukis di bibirnya. Ia menangkap keinginan Mahardika untuk berbincang berdua, jauh dari usikan sahabat-sahabatnya.
Tanpa mengucapkan apa pun, Anindhita mengangguk pelan. Dengan sikap yang anggun, ia menyentuh lengan Mahardika sekilas sebagai isyarat agar mereka segera berjalan menuju bale bambu yang teduh di bawah naungan pohon beringin.
Melihat Mahardika dan Anindhita berjalan menjauh menuju bale bambu, Danang hanya bisa mencibir.
"Hmm... Mahardika benar-benar tidak memberi kita kesempatan," gerutunya sambil menggigit pisang goreng dengan wajah kesal.
"Hahaha!" Jayantara tertawa kecil melihat raut wajah sahabatnya. "Sejak awal kau memang sudah kalah cepat."
Danang mendengus pelan.
"Padahal aku juga ingin sekadar mengobrol dengannya." Ucap Danang masih mengandung kekesalan
"Kau memang selalu ingin mengobrol dengan semua wanita. " Sindir Tarakirana " Seakan seluruh wanita di dunia ini adalah milikmu. "
"Jika itu memungkinkan.? " Jawab Danang sambil memainkan mata menggoda Tarakirana
Jayantara menepuk bahu Danang sambil bangkit dari duduknya.
"Sudahlah. Daripada meratapi nasib, lebih baik kita berlatih. Ototku sudah mulai kaku. Sudah terlalu lama tidak mengayunkan senjata."
"Ayo!" sahut Tarakirana penuh semangat. Tanpa menunggu lagi, gadis itu berlari ringan menuju arena latihan sederhana yang berada di sudut halaman. Langkahnya lincah, nyaris tanpa suara. Ia mengambil sebatang pedang kayu dari rak senjata, lalu memutar-mutarnya beberapa kali untuk melemaskan pergelangan tangan.
Jayantara menyusul di belakangnya. Ia memilih tombak latihan sebelum mengambil posisi berhadapan dengan Tarakirana.
Tak lama kemudian, suara benturan senjata kayu mulai memenuhi halaman. Keduanya saling menyerang dan bertahan dengan gerakan yang cepat, namun tetap terukur. Latihan itu berlangsung serius, meski sesekali diselingi tawa kecil saat salah satu dari mereka berhasil mengecoh lawannya.
Danang memandangi mereka dari kejauhan sambil mengembuskan napas panjang.
"Dasar... pagi-pagi sudah disuruh berkeringat."
Meski masih bermalas-malasan, ia akhirnya bangkit juga. Dengan wajah setengah enggan, ia mengambil pedang kayu miliknya dan berjalan menuju arena latihan untuk bergabung bersama kedua sahabatnya.
****
Malam itu, Adikarsa baru teringat bahwa keesokan harinya Mahardika akan menempuh perjalanan panjang menuju Kerajaan Candrapura. Perjalanan itu dapat memakan waktu berhari-hari, sehingga bekal yang cukup menjadi kebutuhan tak boleh diabaikan.
Tanpa menunda waktu, ia memerintahkan para pelayannya menyiapkan beberapa peti berisi makanan kering, buah-buahan, rempah, serta obat-obatan sederhana yang dapat bertahan selama perjalanan. Setelah semuanya selesai disusun rapi, Adikarsa memilih mengantarkannya sendiri.
Adikarsa Mengenakan pakaian saudagar Tiongkok demi penyamarannya , Ia melangkah keluar bersama seorang pelayannya yang mendorong sebuah gerobak kecil berisi beberapa peti makanan. Roda kayu gerobak itu berderit pelan menyusuri jalanan yang diterangi cahaya obor, sementara udara malam yang sejuk mengiringi langkah mereka menuju rumah mahardika, tindakan Adikarsa bukan hanya membawa bekal persediaan perjalanan-melainkan juga wujud perhatian seorang sahabat demi menjaga hubungan persahabatan yang dianggapnya sangat berharga.
Tak jauh dari kediaman Mahardika, di sebuah sudut jalan yang sunyi, langkah Adikarsa mendadak terhenti. Di bawah remang cahaya obor, ia menangkap bayangan dua sosok yang berdiri berdekatan.