Siang itu, setelah matahari menjadi terik tepat di atas kepala manusia.
Tarakirana berjalan menuju dermaga sesuai pesan yang dititipkan Adikarsa. Langkahnya tenang, meski pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Di tepi sungai itulah berdiri sebuah toko yang sebelumnya telah disebutkan Adikarsa.
Dermaga telah ramai sejak matahari belum mencapai puncaknya. Perahu-perahu dagang silih berganti merapat, mengangkut berkarung-karung rempah, tembikar, dan kayu dari berbagai daerah.
Tidak sulit bagi Tarakirana menemukan toko yang dimaksud Adikarsa.
Bangunan itu berdiri menghadap sungai, dengan papan kayu sederhana yang menaungi beranda depan. Berbagai gulungan kain sutra berwarna merah delima, hijau giok, biru nila, dan gading tergantung rapi di sisi dinding. Di rak-rak kayu tersusun ikatan buku lontar, lembaran kertas halus dari serat tumbuhan yang didatangkan dari negeri seberang, serta perlengkapan menulis berupa kuas, batang tinta padat, batu tinta, dan wadah porselen kecil.
Di sudut lain berjajar keramik berlapis glasir berwarna putih kebiruan, kotak-kotak kayu berisi teh kering, dupa harum, kipas lipat, benang sutra, serta beberapa ukiran giok yang dijadikan hiasan maupun jimat keberuntungan. Aroma kayu cendana dan teh yang baru dibuka bercampur dengan semilir angin sungai, menciptakan suasana yang tenang di tengah hiruk-pikuk dermaga.
Di balik meja dagang, Adikarsa tampak berbincang akrab dengan seorang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengannya. Garis rahang, bentuk mata, dan senyumnya hampir sama. Hanya saja, pemuda itu terlihat beberapa tahun lebih muda, dengan sorot mata yang lebih ceria dan penuh semangat. Tawa mereka berhenti ketika melihat Tarakirana melangkah mendekat.
Adikarsa tersenyum menyambut kedatangan gadis itu.
Ketika Tarakirana berdiri di hadapan mereka, Adikarsa memperkenalkan nya kepada adiknya
" ini Tarakirana. Mulai hari ini ia akan bekerja membantuku mengurus toko ini." Ucapan halus Adikarsa membuat Tarakirana mengangguk sambil tersenyum ramah kearah Pemuda disamping Adikarsa.
Kemudian Adikarsa menoleh kepada pemuda di sampingnya.
"Dan ini adikku, Bayuarsa. Di keluargaku ia juga dipanggil Xiao Yan."
Bayuarsa tersenyum Lebar. "Senang bertemu denganmu."
Tarakirana membalas senyum itu. Mereka berdua sama-sama membungkukkan badan sebagai tanda hormat sebelum akhirnya saling menatap dengan rasa ingin tahu yang tidak dapat disembunyikan.
Percakapan mereka terhenti ketika suara terompet kapal menggema dari arah sungai.
Sebuah kapal dagang berukuran besar perlahan merapat ke dermaga. Tali-tali tambat segera dilemparkan, disusul teriakan para awak kapal yang saling memberi aba-aba. Dalam sekejap, suasana yang semula ramai berubah menjadi lebih hiruk-pikuk.
Para buruh pelabuhan berlarian mendorong gerobak kayu, sementara para saudagar bergegas menghampiri kapal untuk memastikan barang dagangan mereka tiba dengan selamat. Beberapa penumpang turun membawa buntalan di punggung, bercampur dengan para pelaut yang mulai menurunkan peti-peti besar, gulungan kain, keranjang rotan, serta guci-guci keramik yang dibungkus jerami agar tidak pecah selama pelayaran.
Seorang pelayan toko berlari kecil menghampiri Adikarsa sambil mendorong gerobak kayu.
"Den Adikarsa," ujarnya sedikit terengah. "Kapal dari utara telah tiba. Peti-peti sutra dan keramik kita ikut dibawa kapal ini."
Adikarsa segera mengangguk.
"Baik. Aku akan membantu mengangkatnya."
Ia menoleh kepada Tarakirana dan Bayuarsa.
"Kalian tunggulah disini. Aku tidak akan lama."
Tanpa menunggu jawaban, Adikarsa segera melangkah menuju dermaga bersama pelayannya. Sosoknya segera larut di antara para buruh dan saudagar yang sibuk membongkar muatan kapal.
Kini Tarakirana dan Bayuarsa berdiri di depan toko, memandangi kesibukan pelabuhan. Suara orang-orang yang saling bersahutan, derit roda gerobak, dentingan peti kayu, serta langkah para penumpang yang baru menginjakkan kaki di dermaga berpadu menjadi irama kehidupan yang tak pernah berhenti di kota pelabuhan itu.
Adikarsa baru beberapa langkah meninggalkan kios ketika sebuah teriakan nyaring memecah hiruk-pikuk dermaga.
"Awas!"
Semua orang menoleh hampir bersamaan.
Seorang pria yang semula tampak seperti buruh pelabuhan tiba-tiba mencabut sebilah golok dari balik karung yang dipanggulnya. Dalam satu ayunan, ia menebas seorang saudagar yang berdiri di dekatnya. Korban itu roboh seketika, sementara orang-orang di sekitarnya spontan berlarian karena terkejut.
Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi, beberapa lelaki lain yang sebelumnya menyamar sebagai penumpang, pedagang, dan kuli angkut ikut menghunus senjata.
"Serang!"
Teriakan itu disambut kekacauan.
Para perampok yang menyusup di antara kerumunan mulai menyerang secara membabi buta. Mereka tidak memilih korban. Siapa pun yang berada di dekat mereka langsung menjadi sasaran. Pedagang, buruh, pelayan toko, hingga para penumpang yang baru turun dari kapal berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak ketakutan.
Suara benturan senjata bercampur dengan tangis anak-anak, jerit perempuan, dan pekikan minta tolong memenuhi seluruh dermaga.
Gerobak-gerobak terbalik. Peti-peti kayu berjatuhan hingga isinya berserakan. Gulungan kain sutra menggelinding di atas papan dermaga, sementara beberapa keramik pecah menghantam lantai kayu.
Kuda-kuda penarik pedati meringkik panik. Beberapa ekor bahkan terlepas dari tali kekangnya, berlari tanpa arah dan membuat orang-orang semakin kalang kabut.
Dalam hitungan napas, dermaga yang semula dipenuhi aktivitas perdagangan berubah menjadi lautan kepanikan.
Dari depan kios, Tarakirana refleks menggenggam gagang belati yang tersembunyi di balik selendangnya. Tatapannya segera mencari sosok Adikarsa di tengah kerumunan yang porak-poranda, sementara di sampingnya Bayuarsa berdiri membeku, wajahnya memucat melihat darah mulai membasahi papan-papan dermaga.
Di tengah kekacauan itu, pandangan Tarakirana akhirnya menemukan Adikarsa.
Pemuda itu sedang bertarung melawan beberapa pria yang menyerangnya secara tiba-tiba. Tampak Adikarsa memegang sebilah tongkat bergerak cepat menangkis serangan yang datang dari berbagai arah, sementara para penyerang terus berusaha mengepungnya.
Tak jauh darinya, pelayan toko yang tadi mendorong gerobak menjatuhkan muatan begitu saja. Dengan wajah pucat, ia berbalik dan berlari mencari tempat persembunyian.
Beberapa pelayan di toko Adikarsa sigap menutup bagian depan toko dengan jendela kayu yang terbuka keatas. Gerakan kedua pelayan itu tampak ceroboh karena gemetaran dan terburu-buru.
Tarakirana segera melangkah hendak membantu Adikarsa.
Namun langkahnya mendadak terhenti. Ketika adik Adikarsa berlari hendak menyelamatkan dirinya,
"Bayuarsa!" Tarakirana hampir menjerit ketika melihat Pemuda itu justru berlari tanpa arah. Wajah Bayuarsa dipenuhi kepanikan hingga ia tidak menyadari bahaya yang datang dari sekitarnya .
Seorang pria bertubuh besar tiba-tiba melompat keluar dari kerumunan sambil mengayunkan pedang besarnya lurus ke arah Bayuarsa.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Tanpa sempat berpikir, Tarakirana menyambar sebatang tongkat kayu yang tersandar di dekat kios. Dengan kecepatan hasil latihan meringankan tubuh selama bertahun-tahun, ia menerjang ke depan dan berdiri di antara Bayuarsa dan perampok itu.
Trang!
Tongkat itu menyambut ayunan pedang yang keras. Kekuatan pedang besar itu jauh melampaui dugaan Tarakirana.
Dalam sekali tebas, tongkat kayu yang dipegang Tarakirana dengan kedua lengannya terbelah menjadi dua. Bilah pedang terus melaju, menggores pelipis kanan Tarakirana, lalu menyayat pipi kanannya.
"Ah...!"
Darah hangat mengucur deras, membasahi sisi kanan wajah Tarakirana hingga menetes ke leher dan pakaiannya.
Meski pandangannya sempat berkunang-kunang, Tarakirana tidak mundur sedikit pun.
Ia sadar Bayuarsa masih membeku. Pemuda itu terlalu panik untuk mengetahui ke mana harus melarikan diri.
Pria bertubuh besar itu kembali mengangkat pedangnya, bersiap mengakhiri perlawanan Tarakirana.
Sebelum tebasan kedua sempat jatuh, Tarakirana bergerak lebih dahulu.
Dengan kedua potongan tongkat yang masih digenggamnya, ia menghantamkan ujung kayu yang patah ke dada lawannya sekuat tenaga.
Ujung kayu yang pecah membentuk sisi-sisi tajam, merobek kulit dan meninggalkan luka panjang di dada pria itu.
"Aaargh!"
Pria tersebut terhuyung mundur sambil memegangi dadanya yang bersimbah darah. Tarakirana tidak berhenti menyerang, gadis itu melompati sebuah gundukan karung yang tergeletak di tanah, memanfaatkan lompatan itu untuk menancapkan patahan tongkat yang tajam itu kesadaran perampok. Tapi kulit pria itu terlalu keras, dan tangannya juga menahan serangan tongkat Tarakirana.
Melihat serangannya gagal , tanpa membuang waktu, Tarakirana meraih pergelangan tangan Bayuarsa.
"Ayo!"
Tarakirana menarik pemuda itu menjauh dari pusat pertempuran, memaksanya berlari menuju jalur yang lebih aman, sementara darah terus mengalir dari luka di wajahnya.
Tarakirana sesekali menoleh ke belakang ke arah Bayuarsa
Setengah wajah Tarakirana telah berlumuran darah. Aliran merah pekat mengucur dari pelipis kanannya, melewati pipi, hidung, hingga menetes ke dagu. Meski begitu, langkah Tarakirana tidak melambat sedikit pun. Genggamannya tetap erat menarik tangan Bayuarsa menjauh dari medan kekacauan.
Mata Bayuarsa membelalak.
Rasa takut menyelimuti dirinya. Bukan hanya karena kerusuhan yang terjadi, tetapi juga karena luka yang baru saja diterima Tarakirana demi melindunginya.
"Wajahmu.. " Suara Bayuarsa bergetar
Namun Tarakirana tidak menoleh. Pandangannya terus menyapu keadaan di depan, mencari jalan keluar yang paling aman.
" Terus berlari!" seru Tarakirana.
Bayuarsa hanya mampu mengangguk. Kakinya mengikuti langkah Tarakirana sekuat tenaga, meski napasnya mulai memburu.
Di belakang mereka terdengar teriakan keras.
"Jangan biarkan mereka kabur!"
Dua orang perampok berlari mengejar dengan pedang terhunus. Langkah mereka jauh lebih cepat.
Bayuarsa bukanlah petarung seperti Adikarsa. Sejak kecil ia lebih banyak membantu mengurus perdagangan keluarganya daripada berlatih mengangkat senjata. Kepanikan membuat langkahnya semakin kacau, hingga beberapa kali ia hampir tersandung batu-batu ataupun akar pohon di jalan.
Jarak di antara mereka kian menyusut.
Tarakirana dapat mendengar derap kaki kedua perampok itu semakin dekat. Bahkan suara napas mereka mulai terdengar jelas di belakangnya.
Ia tahu, jika terus berlari tanpa melakukan sesuatu, mereka akan tersusul dalam hitungan detik.
Tarakirana tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Ia mendorong Bayuarsa hingga pemuda itu berada di belakang punggungnya.
"Usahakan tetap belakangku." Perintah Tarakirana
Bayuarsa mengangguk panik.
"Apakah Mereka akan membunuh kita!" Suara Bayuarsa terdengar sangat lemah,