Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #13

Diplomasi Berdarah

Rombongan Rakyan Wicaksono akhirnya tiba di gerbang Kerajaan Candrapura menjelang senja. Panji-panji kerajaan berkibar lembut diterpa angin, sementara deretan prajurit penjaga berdiri tegak di kedua sisi pintu gerbang.

Seorang menteri kerajaan telah menanti kedatangan mereka. Dengan senyum ramah dan sikap penuh hormat, ia mempersilakan Rakyan Wicaksono beserta rombongannya memasuki lingkungan istana.

Sebagai tamu kehormatan, mereka disambut dengan pelayanan terbaik. Para pelayan sigap menyediakan tempat peristirahatan, hidangan hangat, serta segala keperluan yang dibutuhkan selama berada di Candrapura. Perjalanan panjang seolah terbayar dengan sambutan yang penuh penghormatan.

Mahardika mengamati setiap sudut kerajaan itu dengan penuh kekaguman. Bangunan-bangunan kayunya berdiri megah, dihiasi ukiran halus bermotif sulur, bunga, dan kisah-kisah leluhur. Hampir setiap tiang, pintu, dan jendela dipahat dengan ketelitian luar biasa, memancarkan kemakmuran sekaligus keagungan Candrapura.

Belum lama mereka memasuki lingkungan istana, seorang senopati melangkah mendekat. Tubuhnya tegap dibalut baju jirah yang dipoles mengilap, sementara sebilah pedang terselip rapi di pinggangnya. Setibanya di hadapan Rakyan Wicaksono, ia merangkapkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda hormat.

"Selamat datang di Kerajaan Candrapura, Rakyan Wicaksono, dan Wira Mahardika. Atas titah Paduka Raja, hamba ditugaskan untuk mendampingi segala keperluan Tuan berdua selama berada di kerajaan ini."

Rakyan Wicaksono tersenyum tipis, matanya menyapu bangunan istana yang menjulang megah.

"Istana Candrapura ini sungguh luar biasa. Ukiran pada dindingnya begitu halus, seolah setiap garis memiliki cerita." Puji Rakyan Wicaksono

Mahardika mengangguk kagum.

"Benar, Paman. Pilar-pilar tinggi itu tampak kokoh sekaligus anggun. Belum pernah aku melihat bangunan seindah ini."

Sang senopati tersenyum, sedikit menundukkan kepala. "Hamba hanya menjalankan tugas menjaga apa yang telah diwariskan para empu dan leluhur, Tuan. Namun, hamba tak dapat memungkiri, melihat Tuan berdua mengaguminya membuat hamba turut merasa bangga atas karya kerajaan ini."

Dengan sikap penuh hormat, sang Senopati kemudian mempersilakan mereka mengikuti langkahnya. Ia membawa rombongan melewati lorong-lorong istana yang dipenuhi ukiran kayu indah.


Mahardika kembali berbisik kagum, "Lihatlah langit-langit itu, Paman. Lukisan-lukisannya begitu hidup."

Rakyan Wicaksono mengangguk pelan. "Keindahan seperti ini bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menunjukkan kebesaran jiwa para pembangunnya."

Mendengar pujian demi pujian di katakan oleh Rakyan Wicaksono dan Mahardika secara bergantian.

Senyum lebar penuh rasa bangga membuat wajah Senopati tersebut tampak selalu bahagia.


Mereka pun tiba di sebuah pesanggrahan khusus bagi tamu kehormatan.


"Pondok ini telah dipersiapkan untuk Rakyan Wicaksono dan Wira Mahardika. Semoga Tuan berdua berkenan beristirahat setelah perjalanan panjang."

Rakyan Wicaksono menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih, sementara Mahardika masih tampak terpukau oleh keindahan tempat itu.

"Terima kasih, Senopati. Bahkan tempat peristirahatan ini pun terasa seperti bagian dari istana yang agung," ujar Mahardika.

Pujian Mahardika kali ini pun berhasil membuat wajah Senopati tersenyum bangga. Sambil mengangguk angguk.

Sebelum berpamitan, sang Senopati kembali memberi hormat.

"Menjelang malam nanti, hamba akan kembali menjemput Tuan berdua. Putri Ratnamaya telah menyiapkan perjamuan penyambutan di balairung utama. Kehadiran Rakyan Wicaksono dan Wira Mahardika sangat dinantikan."


Usai menyampaikan pesannya, sang Senopati mundur beberapa langkah, kembali memberi sembah hormat, lalu meninggalkan pesanggrahan dengan langkah tenang, membiarkan kedua tamu kehormatan itu menikmati waktu istirahat mereka sebelum menghadiri jamuan kerajaan pada malam hari.


***


Malam itu, aula utama Kerajaan Candrapura bermandikan cahaya puluhan pelita. Ukiran kayu jati yang menghiasi tiang-tiang pendapa memantulkan sinar keemasan, sementara alunan gamelan mengiringi jamuan kenegaraan yang dihadiri para bangsawan Candrapura, Rakyan Wicaksono dan Mahardika


Di antara para tamu kehormatan, Mahardika duduk mendampingi pamannya, Rakyan Wicaksono. Perjamuan ini memang di buat untuk menyambut kedatangan mereka berdua sebagai utusan Kerajaan Jayagiri untuk mempererat hubungan persahabatan dengan Candrapura.

Dari balkon istana, sepasang mata bening mengamati seluruh suasana.

Putri Ratnamaya.

Putri sulung Kerajaan Candrapura itu berdiri anggun mengenakan kebaya sutra berwarna hijau zamrud dengan selendang keemasan menjuntai di kedua lengannya. Semula ia hanya memperhatikan para tamu sebagai bentuk penghormatan. Namun sesekali pandangannya berhenti pada sosok Mahardika yang duduk tegap dengan sikap tenang.

Belum sempat ia mengalihkan perhatian, tiba-tiba...

Beberapa pelita di sudut aula mendadak padam.

Suasana berubah remang, menjadi sulit mengenali satu dengan yang lain.

Jeritan para dayang memecah keheningan.

Beberapa penjaga berteriak waspada.

" Ada penyusup!"

Beberapa prajurit bergerak cepat melindungi singasana tempat sang Raja Candrapura duduk.

Namun

Beberapa pria berpakaian pelayan tiba-tiba bergerak serempak dari berbagai sudut aula. Dalam sekejap, pedang berlapis racun telah berada di tangan mereka. Tanpa ragu, mereka menerjang ke arah para tamu penting-terutama para urusan kerajaan Jayagiri

Para pengawal terlambat bereaksi. Mereka terlalu berfokus pada Raja dan singasana

Salah satu penyusup melompat ke atas meja jamuan,

Pedangnya hanya tinggal sejengkal lagi mencapai leher Rakyan Wicaksono

Namun tepat pada saat yang sama

Buk!

Sarung pedang Mahardika menghantam keras pergelangan tangan penyusup hingga arah tikamannya melenceng.

Belati beracun itu hanya menggores lengan Rakyan Wicaksono.

Tanpa membuang waktu, Mahardika mencabut pedangnya.

Dentang baja bergema memenuhi aula.

Penyusup itu menyerang membabi buta, mengayunkan belati berulang kali dengan gerakan cepat. Mahardika menangkis setiap serangan dengan ketenangan yang mengagumkan.

Lihat selengkapnya