Pagi itu mentari bersinar hangat, menyinari halaman rumah Adikarsa yang dipenuhi tanaman bunga dan obat-obatan.
Rumah itu merupakan perpaduan arsitektur Jawa dan Tiongkok. Tiang-tiang kayu berukir khas Jawa berpadu serasi dengan perabot kayu bergaya Tiongkok, menciptakan suasana yang terasa asing sekaligus menenangkan bagi Tarakirana.
Di ruang tengah, Tarakirana duduk bersama Sekararum mengelilingi sebuah meja bundar dari kayu. Di hadapan mereka tersaji secangkir teh hangat yang baru diseduh, ditemani sepiring kue beras yang masih hangat.
Sekararum mengulurkan tangan, lalu menggenggam jemari Tarakirana dengan lembut. Tatapannya tertuju pada wajah gadis itu yang sebagian masih di balut kain putih.
"Hari ini tabib akan datang untuk memeriksa luka di wajahmu," ucap Sekararum lirih. "Entah mengapa, Bunda sedikit khawatir. Luka itu... semoga tidak meninggalkan bekas yang terlalu dalam."
Tarakirana membalas genggaman tangan Sekararum dengan senyum yang tenang.
"Jangan khawatir, bunda. Semua akan baik-baik saja. Bagiku, keselamatan Bayuarsa jauh lebih berharga daripada sebuah luka."
Mendengar jawaban itu, mata Sekararum berkaca-kaca. Setetes air mata mengalir perlahan di pipinya.
"Justru karena itulah bunda semakin sedih," bisiknya. "Kau masih begitu muda, tetapi sudah harus memikul luka dan penderitaan sebesar ini."
Tarakirana mengusap punggung tangan Sekararum dengan lembut, berusaha menenangkan perempuan yang telah merawatnya selama masa pemulihan.
Tepat ketika Sekararum menyeka air mata di sudut matanya, terdengar langkah kaki mendekat dari arah dapur.
Adikarsa muncul sambil membawa baki berisi beberapa mangkuk mie rebus yang masih mengepulkan uap hangat. Di belakangnya, Bayuarsa mengikuti dengan sebuah nampan juga berisi dua mangkuk mie
"Kalian sudah mulai mengobrol tanpa kami?" canda Adikarsa sambil meletakkan baki di atas meja bundar.
Bayuarsa ikut meletakkan nampan nya di tengah meja, lalu duduk di samping Tarakirana.
Mereka pun berkumpul mengelilingi meja bundar, menikmati hangatnya pagi bersama.
Adikarsa memperhatikan wajah ibunya yang masih tampak sembap.
"Bunda... kenapa menangis?" tanya Adikarsa dengan nada penasaran dan lembut
Sekararum hanya tersenyum kecil, belum sempat menjawab.
Tarakirana menoleh kepada Adikarsa dengan senyum di wajahnya
"Ibundamu hanya terlalu mengkhawatirkanku."
Entah mengapa, sejak tinggal di rumah Adikarsa, sorot mata Tarakirana berubah menjadi lebih teduh. Senyum yang dahulu begitu jarang terlihat kini lebih sering menghiasi wajahnya. Kehangatan keluarga itu perlahan mencairkan keteguhan yang selama ini selalu ia tunjukkan sebagai seorang prajurit, Tarakirana perlahan memperlihatkan sisi dirinya yang selama ini tersembunyi.
Adikarsa diam-diam menikmati perubahan pada diri Tarakirana. Gadis itu kini lebih sering tersenyum dibandingkan sebelumnya. Meski setiap kali senyum itu mengembang, bekas luka di pipinya masih terasa sedikit perih, Tarakirana tetap berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
Adikarsa kemudian mendorong semangkuk mie rebus ke hadapan Tarakirana.
"Ini untukmu. Kubuat sendiri."
Belum sempat Tarakirana menyentuh mangkuk itu, Bayuarsa dengan sigap menariknya kembali.
"Tidak boleh."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
Bayuarsa meletakkan mangkuk lain di hadapan Tarakirana.
"Mbakyu harus makan mi yang kubuat. Masakanku lebih enak."
Adikarsa menghela napas sambil menggelengkan kepala.
"Bayuarsa... Aku yang mengajarimu membuat mie" Protes Adikarsa
"Walaupum begitu tetap yang ini," jawab Bayuarsa mantap. "Aku sudah menyiapkannya khusus untuk mbakyu Tarakirana. Sayur lebih banyak dan daging juga lebih banyak" Bayuarsa mencoba mempromosikan mie kuahnya jauh lebih baik.
Tarakirana tak kuasa menahan tawa kecil melihat kesungguhan Bayuarsa.
Melihat adiknya bersikeras, Adikarsa akhirnya mengangkat bahu tanda menyerah.
"Baiklah, kalau begitu mangkuk ini untuk Bunda saja."
Ia pun menggeser mangkuk mi itu ke hadapan Sekararum.
Sekararum tersenyum geli melihat tingkah kedua putranya.
"Sepertinya, selama Tarakirana berada di rumah ini, kalian berdua akan selalu berebut kesempatan untuk merawatnya."
Ucapan itu membuat suasana di meja bundar dipenuhi tawa hangat, sementara Tarakirana hanya bisa menggeleng pelan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Kehangatan keluarga Adikarsa terasa begitu tulus. Candaan sederhana, perhatian yang tak dibuat-buat, dan kebiasaan mereka menikmati pagi bersama menghadirkan suasana yang asing baginya, tetapi juga menenangkan.
Tanpa disadari, senyum tipis kembali menghiasi wajah Tarakirana. Di dalam rumah itu, untuk sesaat ia dapat melupakan kerasnya kehidupan seorang prajurit dan merasakan hangatnya kasih sayang sebuah keluarga.
Akhirnya, tabib yang dinanti itu pun tiba.
Sang tabib menyatakan bahwa luka Tarakirana telah sembuh dan kain pembalut yang selama ini menutupi wajahnya tidak lagi diperlukan.
Senyum bahagia langsung menghiasi wajah Tarakirana. Sejak lama ia menantikan saat itu. Ia ingin kembali berlatih, menghirup udara bebas, dan menyaksikan dunia di luar rumah setelah berhari-hari menjalani masa pemulihan.
Dengan gerakan perlahan, sang tabib mulai melepaskan kain pembalut yang melingkari wajah Tarakirana.
Ruangan seketika menjadi hening.
Bekas sayatan yang membentang dari pelipis hingga pipinya kini terlihat jelas. Luka itu memang telah menutup dengan baik, tetapi garis bekasnya masih tampak tegas di kulitnya.
Sekararum, Adikarsa, Bayuarsa, dan Li Jiancheng memandang wajah Tarakirana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Masing-masing menyimpan perasaan yang berbeda, namun tatapan mereka sama-sama dipenuhi rasa iba dan harapan agar bekas luka itu kelak dapat memudar.
Sekararum perlahan meraih tangan Tarakirana. Jemarinya yang hangat menggenggam tangan gadis itu dengan penuh kasih.
"Aku berjanji akan mencarikan tabib terbaik agar bekas luka di wajahmu dapat sembuh sepenuhnya," ucapnya lirih.
Mata Sekararum kembali berkaca-kaca. Hatinya terasa sesak setiap kali menatap bekas sayatan yang membentang di wajah Tarakirana.
Tarakirana membalas genggaman itu dengan erat. Senyum lembut menghiasi wajahnya.
"Bunda Sekararum," katanya pelan, "percayalah... aku benar-benar baik-baik saja."
Ucapan itu tidak hanya berusaha menenangkan Sekararum, tetapi juga menunjukkan keteguhan hati Tarakirana dalam menerima apa yang telah terjadi.
Setelah itu, Tarakirana perlahan berdiri. Ia melangkah menuju sudut meja, lalu meraih sebuah cermin perak yang terletak di atasnya. Dengan tenang ia mengangkat cermin itu dan menatap pantulan wajahnya sendiri untuk pertama kalinya sejak kain pembalut dilepaskan.
Tarakirana mengangkat jemarinya, lalu menyentuh perlahan bekas sayatan yang membentang di pelipis hingga pipinya. Ia mengamatinya beberapa saat melalui cermin, kemudian justru tersenyum lebar.
"Tidak begitu buruk. " Kata gadis itu dengan tenang.
Tanpa sedikit pun keraguan, ia mengikat rambut panjangnya ke atas seperti biasa. Kini tak ada lagi helaian rambut yang menutupi wajahnya. Bekas luka itu tampak jelas, tetapi Tarakirana sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.
Sikapnya membuat semua orang di ruangan itu terdiam.
Sekararum, Adikarsa, Bayuarsa, dan Li Jiancheng saling berpandangan. Mereka semula mengira Tarakirana akan bersedih, bahkan menangis.
Namun yang mereka saksikan justru sebaliknya. Gadis itu menerima semuanya dengan tenang, seolah bekas luka itu bukanlah sesuatu yang patut disesali.
Tabib tersenyum lebar melihat sikap Tarakirana.
"Gadis yang berhati besar. " Puji sang Tabib.
Tarakirana menurunkan cermin peraknya, lalu menoleh kepada Adikarsa dan Bayuarsa yang masih terpaku.
Tarakirana tersenyum kearah kedua pemuda tampan itu dengan tulus.
Lalu
Tarakirana menghampiri Sekararum dan Li Jiancheng. Dengan senyum hangat, ia membungkukkan badan memberi hormat kepada keduanya.
"Bunda Sekararum... Paman Li Jiancheng... terima kasih atas semua kebaikan kalian. Terima kasih telah merawatku, menanggung seluruh biaya pengobatanku, dan menerimaku di rumah ini seperti keluarga sendiri."
Kemudian ia menoleh kepada sang tabib dan kembali membungkukkan badan.
"Terima kasih, Tabib. Atas kesabaran dan ketelatenanmu merawat lukaku hingga aku dapat pulih seperti sekarang."
Sang tabib hanya membalas dengan senyum bijak dan anggukan pelan.
Mendengar ucapan Tarakirana, air mata Sekararum akhirnya tak lagi terbendung. Ia segera memeluk gadis itu erat-erat.
"Apa yang barusan kau katakan? .." bisiknya dengan suara bergetar. "Kau terluka karena menyelamatkan Bayuarsa. Seharusnya kami yang berterima kasih padamu?"
Sekararum mengusap punggung Tarakirana dengan penuh kasih.
Li Jiancheng mengangguk pelan. Matanya pun tampak memerah.
"Ibundamu benar," katanya dengan suara haru. "Seharusnya kamilah yang berterima kasih kepadamu. Tanpa pengorbananmu, mungkin kami sudah kehilangan Bayuarsa."
Dengan penuh hormat, Li Jiancheng hendak membungkukkan badannya kepada Tarakirana.
Namun, sebelum ia sempat melakukannya, Tarakirana segera melangkah maju dan menahan kedua lengannya.
"Paman... jangan lakukan itu."
Tarakirana menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Aku tidak pernah menganggap apa yang kulakukan sebagai pengorbanan yang harus dibalas. Justru akulah yang merasa beruntung."
Tatapan Tarakirana beralih satu persatu kepada Sekararum, Li Jiancheng, Adikarsa, dan Bayuarsa.
"Aku bahagia bisa mengenal dan tinggal bersama kalian. Kehangatan keluarga ini adalah hadiah yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah kuterima."
Suasana ruangan kembali hening.
Adikarsa hanya mendengarkan percakapan itu dalam diam. Hatinya dipenuhi rasa hormat melihat keteguhan Tarakirana dan kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya.