Beberapa hari kemudian, rombongan Rakyan Wicaksana akhirnya tiba kembali di ibu kota.
Sejak siang, kabar kepulangan mereka telah menyebar ke seluruh penjuru kota. Di pasar, di pelabuhan, hingga di kedai-kedai, para warga ramai membicarakan satu nama.
Mahardika.
"Katanya dia menyelamatkan Rakyan Wicaksana dari serangan para penyusup."
"Aku juga dengar dia berhasil menangkap pelaku yang menyusup ke Kerajaan Candrapura."
"Pantas saja namanya sedang dibicarakan di mana-mana. Dia benar-benar telah menjadi pahlawan."
Desas-desus itu menyebar begitu cepat, terbawa dari mulut ke mulut.
Di saat yang sama, Tarakirana dan Adikarsa sedang mengawasi para pekerja yang menurunkan barang-barang dari sebuah kapal dagang di pelabuhan.
Mendengar percakapan para warga, keduanya saling berpandangan.
Tarakirana mengembuskan napas lega. Senyum tipis pun terukir di wajahnya.
"Syukurlah... Mahardika tidak membuat masalah." Nada suara Tarakirana dipenuhi kelegaan.
"Akhirnya ia menjadi pria dewasa, justru menjadi seorang pahlawan." Lanjut gadis itu sambil tersenyum.
Adikarsa ikut tersenyum.
"Memang sudah seharusnya begitu. Mahardika adalah orang yang selalu mengutamakan keselamatan orang lain. Aku tidak pernah meragukan keberaniannya." Ucap Adikarsa seraya memandang ke arah keramaian di pelabuhan sebelum kembali berkata,
"Entah mengapa aku merasa, setelah semua yang telah dilaluinya, pengakuan itu memang layak ia terima."
Tarakirana mengangguk pelan. Mendengar kabar itu, beban yang selama ini memenuhi hatinya seakan sedikit terangkat. Kini ia dapat merasa tenang karena sahabat kecilnya telah kembali dengan membawa kehormatan, bukan petaka/masalah.
Adikarsa menoleh kepada Tarakirana yang masih memperhatikan para pekerja menurunkan barang-barang dari kapal.
"Apakah kau ingin menemui Mahardika malam ini?" tanyanya.
Tarakirana terdiam sesaat. Kemudian ia menggeleng pelan.
"Tidak."
"Mengapa?"
"Kita selesaikan dulu misi kita. Negosiasi dagang dengan Rakyan Jatiwangsa jauh lebih penting untuk saat ini."
Tarakirana mengalihkan pandangannya ke arah peti-peti barang yang sedang diangkut.
"Setelah semuanya selesai, barulah kita menghadap Rakyan Wicaksana untuk melaporkan hasilnya."Tarakirana tersenyum tipis.
"Dan... saat itu juga kita bisa bertemu Mahardika."
Adikarsa memandang Tarakirana beberapa saat. Ia memahami bahwa Tarakirana selalu mampu menempatkan kewajiban di atas kepentingan pribadinya.
"Baiklah," ujar Adikarsa sambil mengangguk mantap. "Kita selesaikan tugas ini terlebih dahulu."
Tarakirana membalas anggukan itu. Keduanya kemudian kembali mengawasi aktivitas di pelabuhan, memastikan setiap barang yang dibawa dari kapal tercatat dengan baik sebelum melanjutkan perjalanan menuju kediaman Rakyan Jatiwangsa.
***
Sore perlahan berganti menjadi senja. Cahaya keemasan matahari mulai memudar, tenggelam di balik cakrawala, menandai berakhirnya hari yang panjang.
Pada saat itulah Mahardika akhirnya kembali ke kediamannya.
Begitu memasuki halaman rumah, pandangannya segera mencari sosok yang paling ingin ditemuinya.
"Tarakirana?" panggilnya pelan.
Namun tak seorang pun menjawab.
Mahardika melangkah menyusuri beranda, berharap gadis itu sedang beristirahat di salah satu sudut rumah. Harapannya kembali pupus. Tarakirana tidak berada di sana.
Seorang pelayan kemudian menghampirinya sambil membawa sepucuk surat lontar yang telah diikat rapi.
"Den... ini surat yang dititipkan oleh Tarakirana."
Mahardika menerimanya, lalu segera membuka segelnya.
Di dalamnya hanya tertulis beberapa baris singkat dengan tulisan yang agak sulit dibaca.
Mahardika menghela nafas panjang melihat tulisa diatas lontar itu. "Tulisannya sangat jelek.. Seperti tidak pernah melatih menulis. "
Aku sedang menjalankan misi bersama Adikarsa untuk bernegosiasi dagang dengan Rakyan Jatiwangsa. Setelah tugas ini selesai, aku akan segera menemuimu.
- Tarakirana
Mahardika membaca surat itu hingga selesai, lalu tersenyum tipis.
"Ehmm..." gumamnya pelan. .
Ia melipat kembali surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam laci meja. Meski ingin segera bertemu Tarakirana, ia memahami bahwa gadis itu sedang melakukan tugasnya.