Pagi itu, seperti biasa, Adikarsa menjadi orang pertama yang terbangun.
Udara masih dingin. Ia menjerang air, lalu menyeduh teh istimewa racikan ayahnya. Aroma daun teh memenuhi ruangan, lembut dan menenangkan. Dengan secangkir teh hangat di tangan, Adikarsa duduk di beranda menikmati suasana pagi.
Semburat merah keemasan mulai membelah cakrawala. Butiran embun masih menggantung di ujung dedaunan, berkilau diterpa sinar matahari yang baru lahir. Burung-burung mulai bernyanyi, sementara angin pagi berembus perlahan, membawa ketenangan yang sulit ditemukan pada waktu lain.
Tak lama kemudian, kedua orang tuanya datang.
Sekararum dan Li Jiancheng duduk mengelilingi meja bundar khas Tiongkok yang terbuat dari kayu jati tua. Sekararum menuangkan teh hangat ke cangkir suaminya dengan gerakan anggun.
"Apakah semua contoh barang sudah disiapkan?" tanya Li Jiancheng.
Adikarsa mengangguk mantap.
"Sudah, Ayah. Semalam aku sudah memastikan hanya contoh barang terbaik yang akan dibawa." Li Jiancheng mengangguk puas.
Sesaat kemudian, Sekararum melirik ke arah kamar tamu. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Tarakirana masih belum bangun.?.." Tanya Sekararum sambil menarik napas pelan.
"Apakah gadis itu akan baik-baik saja... dengan wajahnya yang sekarang?"
Adikarsa tersenyum tenang, mendengar kekhawatiran bundanya
"Aku akan memastikan Tarakirana baik-baik saja."Nada suara Adikarsa seperti biasa tenang, tanpa sedikit pun keraguan.
Mendengar janji putra sulungnya, Sekararum tersenyum tenang, wanita setengah baya yang masih cantik dan anggun itu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Adikarsa dengan lembut.
"Aku percaya padamu, Zhi Gao."
Beberapa saat kemudian, Sekararum mengambil sebuah buku lontar yang terlihat sangat terjaga.
Kedua tangannya menyerahkannya dengan hati-hati kepada putranya.
Adikarsa menerimanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ini adalah catatan yang kutulis tentang Candralekha... sahabatku." Perkataan lembut Sekararum mencoba menjelaskan pertanyaan di wajah putranya.
"Bacalah...Mungkin... di dalamnya ada petunjuk yang bisa membantumu menemukan kebenaran tentang ibu Tarakirana." Sekararum melanjutkan kalimatnya.
Li Jiancheng menghela napas pelan sebelum menyesap tehnya.
"Menurutku kau terlalu memaksakan diri, Sekararum."meskipun berkata demikian, Ia menatap istrinya dengan lembut.
"Aku yakin Senopati Arya dan putrinya sengaja menghilang dari dunia politik. Mereka pasti hanya ingin hidup tenang, jauh dari perebutan kekuasaan." Kalimat bijaksana Li Jiancheng membuat Sekararum terdiam beberapa saat.
"Aku tidak berniat mengganggu kehidupan mereka." Jawaban lirih Sekararum, membuat suaminya kembali menghela nafas pendek.
Seakan Li Jiancheng dapat memahami gejolak dalam hati wanita yang telah menemani hidupnya selama ini.
Tatapan Sekararum kembali jatuh pada buku lontar yang di pegang Adikarsa.
"Aku hanya ingin memastikan... apakah benar Tarakirana adalah putri Candralekha. Itu saja." Perkataan Sekararum membuat suasana kembali hening.
Hanya terdengar desir angin pagi dan suara dedaunan yang bergoyang.
Adikarsa mulai membuka lembar demi lembar lontar itu dengan penuh kehati-hatian.
Tulisan tangan ibunya masih tampak jelas.
Candralekha.
Seorang ksatria wanita yang pemberani.
Ia menikahi pria yang dicintainya, Senopati Arya.
Bahkan setelah menjadi seorang istri, keberaniannya tidak pernah pudar.
Pada tahun saka 944 malam tilem bulan Kartika.
Ketika langit gelap pekat, tanpa bintang, kapal-kapal perdagangan budak berlayar dalam gelap, Candralekha menerobos penjagaan bersama prajurit pilihannya.
Dengan berani memimpin para prajurit,
memanjat lambung kapal, menyelinap melewati para penjaga, lalu membebaskan para budak yang dirantai di ruang bawah.
Malam itu
Cendralekha dan Ksatria pilihannya mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenal mereka
Baginya,
seorang ksatria bukanlah mereka yang mencari kemenangan, melainkan mereka yang memilih mempertaruhkan hidup demi melindungi sesama.
Sejak malam itu,
Tercatat dihati para budak yang selamat keberanian Candralekha dan para Ksatria yang gugur, tidak akan pernah bisa diukur hanya dengan pedang yang mereka genggam.
Sekararum menatap jauh ke halaman yang masih diselimuti embun."Ya... sahabatku meninggal dalam pertempuran malam itu." Suaranya lirih, seolah kenangan lama kembali memenuhi benaknya.
"Itulah kabar yang kudengar. Setelah pulang ke tanah Jawa. " Sekararum menjadi sangat emosional setiap kali membicarakan hal-hal yang menyentuh hatinya.
Adikarsa menutup buku lontar itu perlahan. Ia menatap beberapa saat tulisan tangan ibunya sebelum akhirnya mengembalikannya dengan penuh hormat.
"Aku akan mengingat kisah ini bunda." Suara tenang Adikarsa selalu mampu membuat senyum menghiasi wajah Sekararum.
Sekararum menerimanya kembali dan menaruh lontar itu di pangkuannya.
Adikarsa kemudian berkata pelan,
"Melihat bagaimana Tarakirana mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Bayuarsa... membuatku mengerti mengapa bunda merasa Tarakirana sangat mirip dengan karakter Candralekha." Perkataan Adikarsa diikuti anggukan setuju Li Jiancheng dan Sekararum.
Lalu
Sekararum tersenyum tipis.
"Dan keras kepalanya, saat melihat bekas luka di wajahnya. Gadis itu tidak sedih...benar-benar mengingatkanku pada Candralekha, yang tidak pernah takut untuk terluka.. bandul kalungnya juga seperti milik Candralekha. " Sekararum memejamkan mata sesaat.
"Tapi... bagaimana jika aku salah?" Suara Sekararum sangat lirih. Seakan ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Sekararum membuka matanya kembali.
"Bagaimana jika Tarakirana bukan putri Candralekha?" Tanya Adikarsa sembari memandang ibunya dengan tenang.
"Apakah bunda akan kecewa jika ternyata dia bukan putri sahabat Ibu?"
Sekararum menggeleng tanpa ragu.
"Tidak." Jawaban Sekararum begitu yakin "Aku menyayangi Tarakirana bukan karena siapa ibunya."
"Semenjak kau menggendong gadis itu dengan darah di wajahnya.. " Pandangan Sekararum menerawang seakan berusaha mengingat kejadian siang itu. "Aku tak bisa berhenti berpikir untuk memberikan apapun pada gadis itu. " Perkataan ibunya membuat Adikarsa tersenyum lembut.
"Aku tahu Ibu akan menjawab seperti itu." Sahut Adikarsa dengan hangat
Hening sesaat menyelimuti meja makan.
Namun keheningan itu terpecah ketika terdengar suara pintu kamar dibuka.
Krieett... Suara daun pintu dibuka.
Tarakirana keluar dari kamar dengan langkah perlahan. Wajahnya masih menyisakan bekas luka yang belum sepenuhnya pulih, tetapi matanya tampak jauh lebih segar dibanding hari sebelumnya.
Melihat gadis itu telah bangun, Sekararum dan Li Jiancheng spontan menghentikan pembicaraan mereka.
Adikarsa pun mengalihkan pandangannya.
Tak seorang pun ingin Tarakirana mendengar percakapan yang baru saja mereka bicarakan.
Sekararum tersenyum hangat saat melihat Tarakirana berdiri di ambang pintu.
"Kemarilah, . Duduk di sini." Sekararum menarik sebuah kursi disebelah Adikarsa.
Tarakirana menurut. Ia duduk di sisi Adikarsa tanpa banyak bicara.
Sekararum menuangkan teh hangat ke dalam cangkir di hadapan Tarakirana. Uap tipis mengepul, membawa aroma teh yang menenangkan.
"Minumlah. Selagi hangat." Tarakitana tersenyum lebar sambil mengangkat cangkirnya perlahan.
Setelah itu Sekararum berdiri.
"Sepertinya roti kukusnya sudah matang." Katanya sambil tersenyum kearah Tarakirana.
Sekararum melangkah menuju dapur, meninggalkan mereka bertiga di beranda.
Li Jiancheng menoleh kepada Tarakirana.
"Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya Li Jiancheng tenang. Sepertinya ketenangan Adikarsa berasal dari ayahnya
Tarakirana mengangguk pelan.
"Jauh lebih nyenyak daripada malam sebelumnya. Terima kasih. Paman " Jawab Tarakirana halus.
"Itu kabar baik." Li Jiancheng tersenyum lega.
Di sisi lain, Adikarsa hanya diam. Ia menikmati tehnya sesekali, namun sorot matanya diam-diam memperhatikan Tarakirana, memastikan gadis itu benar-benar telah pulih.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa.
Bayuarsa muncul sambil membawa sepiring roti kukus yang masih mengepulkan uap panas.
"Masih panas...." Katanya sambil setengah berlari
Bayuarsa meletakkan piring kayu itu di atas meja bundar.
Beberapa langkah di belakangnya, Sekararum menyusul dengan senyum tipis. Ia kembali duduk disamping suaminya ,
Sedangkan Bayuarsa menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Tarakirana. Bayuarsa mengambil sepotong roti kukus, lalu meletakkannya di tangan Tarakirana.
"Makanlah selagi hangat." Kata Bayuarsa sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih, Bayuarsa" ucap Tarakirana pelan.
Belum sempat semua menikmati sarapan, Bayuarsa sudah kembali mencondongkan tubuh ke arah Tarakirana.
"Mbakyu... hari ini bisa melatihku memanah?"
Tarakirana baru saja hendak membuka mulut.
Namun Adikarsa lebih dahulu menjawab.
"Tidak bisa." Jawab Adikarsa tegas
Suasana mendadak hening.
"Hari ini kami harus pergi bernegosiasi." Ia menatap Bayuarsa dengan tenang.
"Kalau ingin berlatih, berlatihlah sendiri." Bayuarsa melirik Adikarsa dengan tatapan sinis. Jelas sekali ia tidak sedang meminta jawaban dari Adikarsa.