Rumah Jati Wangsa berdiri jauh dari ibu kota, terpisah dari keramaian dan hiruk-pikuk pemerintahan. Namun, tempat itu sama sekali tidak menghadirkan kesan sebagai kediaman seorang bangsawan.
Sejak melewati gerbang utama, suara dentingan pedang yang saling beradu, teriakan komando, serta derap langkah para prajurit memenuhi udara. Halaman yang sangat luas lebih menyerupai gelanggang latihan daripada pekarangan rumah. Barisan prajurit berlatih tombak, pedang, panahan, hingga pertarungan tangan kosong di berbagai sudut tanpa henti.
Tak ada taman bunga ataupun hiasan mewah yang biasa menghiasi rumah para rakyan.
Adikarsa menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar rumah. Seluruh kawasan itu adalah markas latihan pribadi milik Rakyan Jatiwangsa, tempat para prajurit ditempa menjadi petarung yang tangguh. Tak mengherankan jika orang-orang mengenalnya sebagai rakyan yang lebih akrab dengan medan perang daripada singgasana.
Rakyan Jatiwangsa duduk bersandar di atas bale kayu jati yang berukir megah. Tatapannya tajam, dipenuhi kewaspadaan dan kekejaman yang ditempa oleh puluhan medan perang. Beberapa guratan luka membelah pipi dan pelipisnya, menjadi saksi kehidupan yang lebih sering dihabiskan bersama pedang daripada di balik dinding istana.
Tatapan matanya mengikuti langkah Adikarsa dan Tarakirana yang berjalan mendekat. Meski berada di tengah puluhan prajurit bersenjata, keduanya tetap melangkah tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan kegelisahan.
Jatiwangsa membuka percakapan lebih dulu.
"Aku mengenal ayahmu, Li Jiancheng. Sudah bertahun-tahun ia memasok barang ke wilayahku."
Adikarsa memberi hormat singkat.
"Ayah hamba juga sering menceritakan kebijaksanaan Rakyan Jatiwangsa." Ucapan rendah hati dan santun Adikarsa membuat Jatiwangsa mengembuskan napas pelan.
"Li Jiancheng pandai memilih barang. Besi yang ia kirim tidak pernah rapuh, kainnya kuat, dan garamnya selalu berkualitas. Ia pedagang yang jarang mengecewakan." Pujian Jatiwangsa berikutnya terhadap kepiawaian Li Jiancheng.
"Itulah yang selalu beliau ajarkan kepada hamba. Kepercayaan lebih mahal daripada keuntungan." Adikarsa yang memakai nama Zhi Gao membungkuk hormat.
Rakyan Jatiwangsa mengangguk tipis.
"Kalau begitu, apa yang ingin kau tawarkan? Kurasa ayahmu tidak datang hari ini." Tanya Jatiwangsa kemudian.
"Hamba Zhi Gao, belum mampu disamakan dengan Ayah Hamba namun beliau sedang memberi hamba kesempatan untuk memulai jalan sendiri." Jawab Adikarsa
"Ehm ?" Jatiwangsa hanya manggut-manggut pelan.
"Hamba datang untuk menawarkan sesuatu yang jauh lebih sulit didapat."
Jati Wangsa menyipitkan mata.
"Sebutkan!!." Tanya Jatiwangsa tak sabar.
"Kertas." Jawab Adikarsa pendek.
Suasana di bale mendadak sunyi. Beberapa prajurit yang ada di pendopo itu saling berpandangan.
"Kertas?" ulang Jatiwangsa, sambil mengelus dagunya seakan berpikir.
"Benar. Lembaran halus untuk menulis laporan, menyusun strategi perang, mencatat pajak, membuat perjanjian, hingga menyimpan ilmu pengetahuan. Jauh lebih praktis daripada daun lontar dan lebih ringan untuk dibawa." Adikarsa menjelaskan fungsi dari kertas yang ia bawa.
Jati Wangsa menatap Adikarsa beberapa saat, mencoba membaca apakah pemuda ini dapat di percaya.
"Barang itu memang langka. Bahkan para rakyan harus menunggu lama untuk mendapatkannya." Senyum Tipis Jatiwangsa membuatnya terlihat lebih licik.
"Karena itu hamba ingin menjadi penyuplai tetap bagi wilayah Rakyan Jatiwangsa." Adikarsa membalas dengan tersenyum tipis juga.
"Keberanian adalah modal seorang prajurit . Namun kepercayaan hanya bisa dibangun melalui kualitas barang yang dibawa. Seorang pedagang." Adikarsa melanjutkan kalimatnya.
Rakyan Jati Wangsa menyandarkan tubuhnya, mendengar penjelasan Adikarsa.
"Kalau begitu, buktikan. Tunjukkan kualitas kertasmu. Jika benar sebagus ucapanmu, kita akan membicarakan jumlah dan harganya." Jatiwangsa mulai tertarik dengan kertas yang di tawarkan Adikarsa.
Adikarsa mengangguk mantap.
"Begitu pula harapan hamba, ..Rakyan."
Sorot mata Jati Wangsa tidak lagi hanya dipenuhi kecurigaan. Kini terselip sedikit rasa penasaran terhadap pemuda yang berani datang menawarkan komoditas paling langka di zamannya.
Lalu Tarakirana maju beberapa langkah, memberikan sebuah gulungan kertas kepada Rakyan Jatiwangsa.
Pria itu menyambut gulungan kertas itu, merabanya lalu membuka lembaran kertas perlahan.
Mengamati sebentar lalu mengangguk puas.
Mata Rakyan Jati Wangsa perlahan beralih kepada Tarakirana yang berdiri setengah langkah dari dirinya. Gadis itu tidak banyak bicara. Sikapnya tegap, kedua matanya tampak terus waspada.
Perhatian Jati Wangsa tertuju pada guratan bekas luka yang membelah pelipis hingga pipinya.
"Siapa dia?" tanya Jatiwangsa singkat, sambil mengembalikan gulungan kertas kepada Tarakirana.
Adikarsa menjawab dengan hormat.
"Dia adalah pengawal pribadi hamba."
Jawaban Adikarsa terdengar tenang, tetapi sorot mata Adikarsa menyampaikan pesan yang jelas: jangan mengusik wanita itu.
Jati Wangsa menangkap tatapan tersebut. Ia hanya mengangguk pelan.
Tangannya kemudian menyentuh salah satu bekas luka yang menghiasi wajahnya sendiri. Ia memandang Tarakirana yang kembali ke samping Adikarsa.
"Kau wanita yang tidak takut terluka." Kata Jatiwangsa yang di tujukan kepada Tarakirana.
Menyadari Jatiwangsa berbicara padanya.
Tarakirana menundukkan tubuhnya memberi hormat kepada Jatiwangsa.. Namun Tatapan Tarakirana tetap lurus, tanpa rasa gentar.
Keheningan itu justru membuat Jatiwangsa tiba-tiba tertawa keras.
"Ha... ha... ha...!"
Suara tawanya menggema di seluruh pendapa hingga beberapa prajurit menoleh.
"Aku suka seleramu, Zhi Gao. ... Pengawal yang telah merasakan pahitnya medan tempur jauh lebih dapat dipercaya daripada mereka yang hanya pandai memamerkan pedang." Jatiwangsa lalu bangkit dari bale kayunya.
"Baiklah. Aku menerima tawaran kerja sama ini." Jatiwangsa melanjutkan ucapannya di sela tawanya.
Adikarsa membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
"Terima kasih, Rakyan."
Jatiwangsa mengangkat tangan, menghentikan ucapan berikutnya.
"Tinggallah semalam di rumahku. Kalian telah menempuh perjalanan jauh. Besok kita akan membicarakan jumlah pasokan dan harga dengan kepala yang lebih segar." Ucap Jatiwangsa sambil menatap Adikarsa dan Tarakirana bergantian.
"Malam ini, izinkan aku menyambut tamuku sebagaimana mestinya."