Rumah Adikarsa kembali dipenuhi kehangatan ketika malam tiba.
Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menikmati makan malam bersama.
Gaya hidup keluarga Li Jiancheng memang berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa.
Mereka telah terbiasa makan mengelilingi meja bundar.
Namun malam itu udara terasa begitu sejuk sehingga mereka memilih berkumpul di atas sebuah bale bambu yang dialasi tikar anyaman daun pandan hutan.
Semua duduk bersila mengelilingi aneka hidangan yang tersaji.
Semangkuk sup hangat, sayuran tumis, ikan kukus berbumbu, ayam rebus, serta semangkuk nasi putih memenuhi meja rendah di hadapan mereka.
Rasanya berbeda dari masakan yang biasa dinikmati Tarakirana, tetapi tetap menghadirkan kelezatan yang sederhana.
Setelah makan malam usai, suasana rumah perlahan kembali tenang.
Li Jiancheng dan Sekararum masih berbincang santai dengan Bayuarsa di pendapa,
sementara para pelayan mulai membereskan sisa-sisa hidangan.
Adikarsa memberi isyarat kepada Tarakirana.
"Ikutlah sebentar."
Keduanya berjalan menuju ruang tengah yang mulai lengang.
"Tunggu di sini."
Adikarsa kemudian masuk ke kamarnya.
Tak lama berselang, ia kembali membawa sebuah bungkusan kain berwarna gelap.
Ia menyerahkannya kepada Tarakirana.
"Ini pakaian hitam yang sudah kusiapkan."
Tarakirana menerima bungkusan itu dengan penasaran.
"Malam ini berpura-puralah tidur lebih awal. Katakan saja kita kelelahan setelah perjalanan." Adikarsa menurunkan suaranya.
"Nanti, saat semuanya sudah terlelap, aku akan mengetuk dinding kamarmu dua kali." Adikarsa melanjutkan kalimatnya.
"Kau keluar melalui jendela. Aku juga akan melakukan hal yang sama dari kamarku."
Tarakirana mengangguk pelan, tanda ia memahami maksud Adikarsa
Tarakirana berbalik menuju kamarnya.
Sebelum membuka pintu, ia menoleh.
"Tolong wakili aku berpamitan kepada semuanya." Kata Tarakirana tersenyum kecil.
"Katakan aku ingin tidur lebih cepat."
"Akan kusampaikan." Jawab Adikarsa lembut.
Tarakirana pun memasuki kamarnya.
Kamar Tarakirana dibangun Li Jiancheng sejak Tarakirana hadir dalam keluarga mereka. Letaknya berdekatan dengan kamar Adikarsa.
Sementara di luar, tawa keluarga Li Jiancheng masih terdengar hangat,
Menjadi lebih riuh saat Adikarsa kembali bergabung dengan mereka.
***
Begitu pintu kamarnya tertutup, Tarakirana segera membuka bungkusan kain yang diberikan Adikarsa.
Di dalamnya terdapat seperangkat pakaian serba hitam yang sederhana, tanpa hiasan apa pun. Pakaian itu dibuat agar pemakainya dapat bergerak leluasa dan tidak mudah terlihat di tengah gelapnya malam.
Tarakirana segera mengenakannya.
Sesaat kemudian, ia berdiri di depan cermin perunggu yang tergantung di sudut kamar.
Tatapannya menelusuri pakaian itu dari atas hingga ke bawah.
"Pas sekali..."
Ia sedikit menggerakkan kedua lengannya, memutar bahu, lalu melangkahkan kaki beberapa kali. Tidak ada bagian yang terasa sempit ataupun longgar.
Seolah-olah pakaian itu memang dibuat khusus mengikuti bentuk tubuhnya.
Perlahan pandangannya beralih kepada bayangan wajahnya sendiri.
Bekas luka yang membentang di pelipis hingga pipinya masih tampak jelas.
Ujung jarinya menyentuh guratan itu dengan lembut.
Senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Aku menjadi lebih dekat dengan Adikarsa sekarang..."
Ia mengucapkannya lirih kepada dirinya sendiri, ada senyum bahagia di wajahnya
Lalu
Gadis itu melangkah ke dekat pintu untuk memadamkan sebagian lampu minyak di kamarnya agar terlihat seolah-olah telah beristirahat.
Ia duduk di tepi ranjang dengan tenang.
Di luar, malam semakin sunyi.
Sesekali terdengar desir angin yang menyelinap di sela-sela dinding kayu, diselingi suara serangga malam yang memenuhi halaman.
Tarakirana tetap terjaga.
Seluruh perhatiannya tertuju pada dinding yang berbatasan langsung dengan kamar Adikarsa.
Ia menunggu...
dua ketukan yang akan menjadi tanda dimulainya perjalanan mereka menemui Mahardika.
Ketukan yang ditunggu akhirnya terdengar.
_Tok._
_Tok._
Dua ketukan pelan dari balik dinding.
Tarakirana segera berdiri. Tanpa menimbulkan suara, ia membuka jendela kamarnya perlahan. Ia memastikan keadaan di luar benar-benar sepi sebelum melompat turun ke halaman.
Tubuhnya mendarat ringan, nyaris tanpa suara.
Beberapa saat kemudian, jendela kamar di sebelahnya terbuka.
Adikarsa keluar dengan gerakan yang sama tenangnya. Ia melompat turun dan mendarat tepat di samping Tarakirana.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Adikarsa memberi isyarat singkat.
"Ikuti aku."
Tanpa menunggu jawaban, ia berlari pelan menuju sudut halaman belakang.
Di sana telah tergeletak sebuah balok kayu yang sengaja ia letakkan sebelumnya.
Dengan satu pijakan ringan, Adikarsa memanfaatkannya sebagai tumpuan untuk melompat lebih tinggi.
Tubuhnya melesat melewati pagar rumah, lalu kedua tangannya meraih dahan pohon yang menjulur rendah di balik tembok. Dengan kelincahan yang telah terlatih, ia mengayunkan tubuhnya hingga berdiri seimbang di atas dahan itu.
Tarakirana hanya tersenyum tipis melihat persiapan Adikarsa.
"Jadi... Ia sudah merencanakan ini " Ucap Tarakirana kepada dirinya sendiri, ada senyum bangga melihat kecerdasan Adikarsa dalam bertindak.
Tanpa kesulitan,
Tarakirana mengikuti gerakan yang sama. Kakinya menginjak balok kayu, lalu tubuhnya melayang ringan menuju dahan yang sama.
Kini keduanya berdiri berdampingan di atas pohon yang menjulang melewati pagar rumah.
Di bawah mereka, kediaman Li Jiancheng telah tenggelam dalam keheningan malam.
Tatapan mereka bertemu seakan mereka sedang berkomunikasi dalam diam.
Sampai keduanya tersenyum tipis
Lalu
Adikarsa melompat turun. Meraih dahan lain untuk kembali di jadikan pijakan sebelum melompati sebuah pagar..
Pemuda itu memimpin jalan tanpa pernah menoleh ke belakang.
Tubuhnya bergerak cepat namun tetap senyap.
Tarakirana mengikuti setiap gerakannya dengan mudah.
Sesekali mereka harus berlari di atas atap rumah-rumah penduduk yang mulai terlelap. Genting-genting tanah liat hanya mengeluarkan bunyi yang nyaris tak terdengar di bawah langkah mereka yang begitu ringan.
Begitu mencapai ujung atap, keduanya kembali melompat ke dahan pohon yang menjulur di sisi jalan, lalu berpindah lagi ke pagar rumah berikutnya.
Mereka seolah memilih jalur yang tak mungkin dilalui orang biasa.
Gerakan mereka mengalir tanpa ragu, seakan seluruh jalur itu telah mereka hafal di luar kepala.
Bagi orang yang melihatnya, lompatan-lompatan itu mungkin tampak mustahil. Namun bagi Adikarsa dan Tarakirana, semua itu hanyalah hasil latihan bertahun-tahun sejak mereka masih kecil.
Mereka telah diajarkan untuk bergerak tanpa meninggalkan jejak, memanfaatkan setiap dahan, tembok, dan atap sebagai jalan yang lebih aman daripada melintasi jalan raya.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara angin malam yang menyapu pakaian hitam mereka, sementara bayangan keduanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan begitu cepat hingga nyaris menyatu dengan kegelapan.
Beberapa saat kemudian, keduanya tiba di belakang kediaman Mahardika.
Adikarsa segera memanjat pohon yang semalam digunakannya untuk mengamati rumah itu dari kejauhan.
Dengan tenang ia setengah berjongkok di salah satu dahan yang cukup besar, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh halaman belakang.
ia tidak segera turun.
Tatapannya terus menyapu setiap sudut, seolah sedang menunggu sesuatu.
Tak lama kemudian,
Tarakirana menyusul.
Ia duduk di dahan lain yang hanya berjarak beberapa langkah dari Adikarsa.
Melihat halaman belakang rumah Mahardika tampak sepi,
Tarakirana bersiap melompat turun.
Namun sebelum tubuhnya bergerak, sebuah tangan mencengkeram bagian belakang pakaiannya.
Tarakirana menoleh.
Adikarsa menggeleng pelan.