Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #19

Dibawah Langit yang Sama

Lembah Wilis membentang sunyi di kaki pegunungan. 

Hamparan rerumputan hijau bergoyang lembut tertiup angin, sementara pepohonan besar menjulang di kedua sisi lembah, seolah menjadi penjaga alam yang telah berdiri selama ratusan tahun. 


Sebuah sungai kecil mengalir membelah lembah, airnya jernih memantulkan sinar pagi. Burung-burung liar berkicau di kejauhan. 


Di bawah sebuah pohon besar, Mahardika telah lebih dahulu menunggu. 

Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara pedang besarnya tersandar di bahu. Tatapannya dingin, tak sedikit pun bergeser dari jalan setapak yang menuju lembah, seakan menungu sosok Adikarsa yang pasti muncul dari jalan itu. 


Tak lama kemudian, 

Sosok yang di tunggunya muncul dari balik pepohonan.

Mereka saling beradu pandang. 

Tak ada senyum. 

Tak ada sapaan. 

Hanya langkah perlahan yang membawa keduanya semakin mendekat.


Mahardika membuka percakapan lebih dahulu, saat tubuh Adikarsa menjadi cukup dekat untuk mendengar suaranya. 


"Apa yang terjadi pada Tarakirana?" Tanya Mahardika


"Ia menyelamatkan adikku dari bandit di dermaga. Itulah sebabnya ia terluka." Adikarsa menjawab dengan tenang. 

Mahardika menarik napas pelan.

"Carilah jalan agar dia bisa pulang ke rumahku. Ataukah aku harus mengalahkanmu lebih dulu untuk merebutnya?" Suara Mahardika pelan namun terdengar tegas. 

Tak di sangka Mahardika

Adikarsa menggeleng untuk menjawab pernyataan itu. 

"Tidak untuk saat ini. Kau sudah tahu alasannya." Suara Adikarsa tetap tenang. 

Namun

Tiba-tiba 

Adikarsa mencengkeram kerah baju Mahardika. 

Adikarsa yang biasanya tenang, kali ini bersikap berbeda. 

Mahardika memandangnya dengan senyum tipis. Seakan senang melihat emosi di wajah Adikarsa. 


"Aku tahu rahasiamu bersama Anindhita." Mendengar ucapan Adikarsa ini , mata Mahardika membelalak terkejut, senyum tipisnya berubah menjadi geram. 

"Grrr... Dari mana kau tahu soal itu?" Mahardika berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dengan ekpresi marah dan kesal di wajahnya. 


Senyum sinis muncul di wajah Adikarsa.

"Aku melihatnya dari atas pohon di luar pagar rumahmu." Ucapan Adikarsa membuat Mahardika mendengus.

"Dasar monyet jelek." Kata Mahardika menahan amarahnya. 

Mahardika menepis tangan Adikarsa dari kerah bajunya. Tanpa memberi kesempatan, lututnya menghantam keras ke pinggang Adikarsa.

Dak!

Adikarsa sama sekali tak menduga serangan itu. Tubuhnya terpental dan terguling beberapa kali di atas rerumputan lembah.

Melihat lawannya masih berusaha bangkit, Mahardika langsung menarik pedang besarnya. 

_Sring!_ Bunyi gesekan besi saat pedang itu ditarik dari sarung nya. 

Mahardika mengangkat pedang itu ke atas kepala.

"Hyaaaaa" Mahardika memekik sambil melompat tinggi ke udara. Seakan memberi peringatan kepada Adikarsa atas serangannya kali ini. 

Pedang raksasa itu meluncur deras menuju Adikarsa.

Adikarsa menyadari serangan tersebut dan bersiap untuk menghindar.

Namun. ... 

Trang!

Sebuah pedang lain menyambar dari samping, menepis pedang Mahardika hingga bergeser dari sasarannya.

Mahardika kembali mendarat sambil menoleh tajam.

Di depan Adikarsa kini berdiri dua pengawal Jatiwangsa berseragam lengkap, pedang mereka terhunus melindungi Adikarsa.

Mahardika sempat tertegun.

"Hah?!"Mahardika memandang kedua pengawal itu dengan heran,

Lalu

Pandangannya beralih kepada Adikarsa yang masih dalam posisi siap menghindari serangan. 

Padangan Mahardika dan Adikarsa bertemu, namun kini pandangan mereka penuh tanda tanya. 

Tak menyangka kehadiran dua prajurit yang tak di undang itu. 

Dua Prajurit Jatiwangsa bersikap siaga seolah mereka sedang melindungi seseorang yang sangat penting.

Salah seorang pengawal segera mengulurkan tangan.

"Tuan Zhi Gao... apakah anda baik-baik saja?" Adikarsa menerima uluran tangan itu sambil berpura-pura batuk kesakitan.

"Uhuk... uhuk..." Melihat sandiwara tersebut, Mahardika justru tertawa keras.

"Hahaha!" . Suara tawa Mahardika memenuhi lembah wilis. 

Adikarsa melirik tajam kearah Mahardika yang masih terus tertawa. seakan memberitahu pemuda itu untuk bersandiwara dengan baik di depan musuh. 

"Tendanganku belum cukup keras untuk membuatmu seperti itu." Kata Mahardika di sela-sela tawanya

Salah seorang pengawal langsung maju menyerang Mahardika, sementara rekannya membawa Adikarsa menjauh ke tempat yang lebih aman.

Mahardika sebenarnya tidak berniat bertarung melawan para pengawal Jatiwangsa. 

Namun, 

karena mereka terus mendesak, Mahardika terpaksa beberapa kali menangkis serangan mereka. 

Dengan gerakan yang jauh lebih kuat, ia memukul tubuh pengawal itu menggunakan sisi pedangnya hingga lawannya terhuyung mundur bahkan terjengkang. 


Merasa bahwa sandiwara ini harus terlihat sempurna,

Mahardika tidak memperpanjang pertarungan.

Ia menyarungkan kembali pedangnya, menatap tajam ke arah Adikarsa dari kejauhan.

"Ini belum selesai." Suara Mahardika lantang, seakan sedang memperingatkan Adikarsa. 

Sesaat kemudian, 

Mahardika berbalik dan berlari meninggalkan Lembah Wilis dengan kecepatan tinggi, menghilang di balik pepohonan.

Suara angin kembali menguasai lembah kembali tenang, sementara kedua pengawal Jatiwangsa mengawal Adikarsa keluar dari tempat itu dengan waspada.


Adikarsa menatap kedua pengawal Jatiwangsa yang berjalan siaga di sisinya.

"Kenapa kalian berdua ada di sini?" Tanya Adikarsa sambil menyentuh pipi kanannya yang terasa pedih. 

Salah seorang pengawal menangkupkan kedua tangan memberi hormat. 

Sebelum menjawab

Lihat selengkapnya