Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #20

Pertemuan dan Awal kehancuran.

Bulan purnama telah tiba.

Saat yang telah ditentukan untuk bertemu dengan Lurah Prajurit Argapura di Kuil Watu Kendil akhirnya datang.

Danang dan Jayantara telah bersiap dengan seragam prajurit mereka.

Pedang Danang tergenggam erat di tangan kanannya, sementara sebuah belati kecil terselip di pinggang sebagai senjata cadangan.

Berbeda dengan Danang, Jayantara lebih menyukai tombak. Senjata panjang itu ia bawa di tangan, sedangkan sebilah pedang tetap menggantung di pinggangnya. Keduanya telah terbiasa dengan senjata-senjata itu sehingga tidak lagi menganggapnya sebagai beban.

Langkah mereka tetap ringan dan lincah. Mereka berlari menembus jalan setapak di tengah hutan, melompati bebatuan yang berserakan dan batang-batang pohon yang rebah melintang. Sesekali tangan mereka meraih dahan pohon yang menjulur rendah, memanfaatkannya sebagai tumpuan untuk mengayunkan tubuh, melesat lebih cepat melintasi rintangan menuju Kuil Watu Kendil.

Mereka telah lama menantikan pertemuan itu sehingga memilih menetap sementara di sebuah desa kecil yang letaknya tidak jauh dari Kuil Watu Kendil. Dengan begitu, mereka dapat mencapai tempat pertemuan sebelum matahari tenggelam tanpa harus menempuh perjalanan jauh dari ibu kota.

Cahaya purnama jatuh lembut di pelataran Kuil Watu Kendil, menerobos celah-celah dedaunan beringin tua yang menaungi bangunan suci itu. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh gemericik mata air dan desir angin yang berembus di antara pepohonan.

Di bawah bayang-bayang batu kendil raksasa,

Mahesa prajurit kepercayaan Lurah Argapura telah lebih dahulu menunggu. Tubuhnya tegap dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sementara sorot matanya tertuju ke jalan setapak yang mengarah ke kuil.

Mahesa mengamati setiap gerakan di sekitar kuil, memastikan tidak ada seorang pun yang membuntuti pertemuan malam itu.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang berlari ringan di atas bebatuan. Dua sosok muncul dari balik pepohonan, melompati batang pohon yang rebah sebelum mendarat dengan mantap di pelataran kuil.

Danang dan Jayantara akhirnya tiba.

"Apakah tidak ada yang mengikuti kalian?"Mahesa mengajukan pertanyaan itu begitu Danang dan Jayantara tiba di hadapannya.

Tatapan Mahesa menyapu jalan setapak di belakang kedua prajurit itu, memastikan tak ada bayangan lain yang muncul dari kegelapan hutan.

Namun, alih-alih menjawab, Danang justru menyunggingkan senyum lebar.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Mahesa. Aku sangat merindukanmu."

Belum sempat Mahesa menanggapi, Danang telah membuka kedua lengannya dan melangkah hendak memeluk sahabatnya itu.

Mahesa segera mengangkat satu tangan, menahan dada Danang agar tidak mendekat.

"Berhentilah bertingkah aneh."

Nada suara Mahesa terdengar datar, tetapi wajahnya memperlihatkan sedikit rasa jengah. Tanpa memberi kesempatan Danang membalas, Mahesa langsung mendorong bahunya ke arah sebuah lorong sempit yang tersembunyi di balik dinding batu kuil.

"Masuklah. Lurah Prajurit dan Mahardika sudah menunggu di dalam."

Dorongan Mahesa begitu kuat hingga tubuh Danang terhuyung ke depan. Ia terpaksa berlari beberapa langkah untuk menjaga keseimbangan agar tidak tersungkur di mulut lorong.

Pemandangan itu membuat Jayantara terkekeh pelan.

Ia menepuk bahu Mahesa sebelum melangkah mengikuti Danang memasuki lorong rahasia.

"Kau tidak ikut?"

Mahesa menggeleng.

"Aku masih menunggu beberapa prajurit lainnya."

Jayantara mengangguk tanda mengerti, lalu menghilang ke dalam lorong, meninggalkan Mahesa kembali berjaga di pelataran Kuil Watu Kendil yang diterangi cahaya purnama.

Di dalam ruangan batu yang diterangi beberapa obor, Mahardika dan Lurah Prajurit Argapura tampak tengah berbincang dengan suara pelan. Keduanya sesekali menatap peta yang terbentang di atas meja batu, membahas sesuatu dengan wajah serius.

Suara langkah kaki yang tergesa memecah keheningan.

Danang muncul lebih dahulu, berlari kecil memasuki ruangan. Langkahnya yang berisik membuat Mahardika dan Argapura menghentikan percakapan mereka. Tak lama kemudian, Jayantara menyusul dari belakang dengan langkah yang jauh lebih tenang.

"Kalian akhirnya datang," ujar Argapura menyambut kedatangan kedua wira utamanya.

Danang tersenyum lebar sebelum memberi hormat.

Jayantara melakukan hal yang sama dengan lebih tenang.

Tak lama berselang, tiga prajurit lainnya turut memasuki ruangan melalui lorong yang sama.

Satu per satu mereka saling menepuk bahu, menggenggam lengan, dan melempar senyum lega.

Pertemuan itu terasa seperti sebuah reuni setelah melewati masa-masa paling kelam.

Mereka pernah bertarung bahu-membahu pada malam berdarah itu. Banyak rekan gugur, sementara mereka yang selamat harus bersembunyi dan berpencar selama berhari-hari. Karena itulah,

melihat satu sama lain kembali berdiri dengan selamat menghadirkan kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Di tengah suasana hangat itu, Mahardika justru tampak beberapa kali melirik ke arah pintu lorong. Wajahnya menyimpan kegelisahan.

Adikarsa dan Tarakirana belum juga datang.

Danang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. Ia mendekat, lalu berbisik pelan.

"Kau tidak bersama Tarakirana?"

Mahardika menggeleng singkat mendengar pertanyaan Danang

"Kenapa?" Danang kembali bertanya

Namun tidak ada jawaban dari Mahardika.

"Di mana Tarakirana? Apa dia masih bersama Adikarsa?" Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari Danang tanpa jeda hingga Mahardika mengembuskan napas panjang.

"Diamlah." Akhirnya Mahardika bersuara.

Tatapannya beralih kepada Danang dengan wajah datar.

"Kuil ini menjadi berisik sekali sejak kedatanganmu." Lanjut Mahardika.

Ucapan Mahardika itu sontak membuat Jayantara dan Lurah prajurit Argapura yang mendengarnya menahan tawa, sementara Danang hanya menggaruk tengkuknya sambil menyeringai, sama sekali tidak merasa bersalah.

Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar dari lorong batu.

Dua sosok wanita memasuki pelataran kuil.

Yang satu memiliki wajah yang sangat cantik, dia adalah Wulandari,

ia memasuki ruangan kuil dengan langkah tenang. Rambut hitamnya tergerai halus hingga melewati pinggang, sementara beberapa kepang kecil menghiasi kedua sisi kepalanya. mempermanis penampilannya malam itu.

Wulandari mengenakan pakaian seorang pendekar, namun pembawaannya yang anggun membuatnya lebih menyerupai seorang putri kerajaan yang sedang menyamar. Setiap langkahnya ringan dan berwibawa, seolah keanggunan itu telah menyatu dengan dirinya sejak lahir.

Di sisinya berjalan seorang gadis lain bernama Cempaka, gadis itu bertubuh tinggi semampai, sorot matanya tajam, dan setiap gerakannya penuh kewaspadaan. Ia melangkah setengah langkah di belakang Wulandari seakan siap menjadi perisai kapan pun bahaya datang.

Keduanya memasuki ruangan tanpa banyak bicara.

Untuk sesaat, percakapan di dalam kuil terhenti. Beberapa pasang mata beralih kepada mereka.

Hampir seluruh pria yang berada di dalam kuil sejenak terpaku menatap Wulandari. Bukan hanya karena parasnya yang cantik, tetapi juga karena wibawa gadis itu.

" Wulandari. " Beberapa pria membisikkan nama gadis itu.

Cempaka yang tidak terlalu cantik tampak hanya sebagai bayangan disisi Wulandari.

Namun sepertinya Cempaka tidak mempermasalahkan hal itu.

Wulandari membalas dengan anggukan kecil, kepada para pria yang sedang mengaguminya.

Tanpa banyak bicara, ia melangkah menuju pelataran batu dan duduk bersila dengan anggun bersama para prajurit lainnya.

Serta merta para prajurit berusaha berbincang dengannya.

Terlebih Danang.

Suasana pelataran jadi semakin hangat dengan kehadiran Wulandari dan Cempaka.

Cahaya purnama jatuh di sekeliling mereka, seolah bulan menjadi saksi pertemuan rahasia yang mempertemukan para prajurit setelah berminggu-minggu menyembunyikan diri.

Di sudut ruangan, Mahardika kembali melirik ke arah lorong.

Namun sosok yang dinantikannya tak kunjung muncul.

"Ah... sudahlah."

Ia mengembuskan napas panjang, lalu memalingkan pandangan. Malam telah semakin larut. Mungkin Adikarsa dan Tarakirana memang tidak akan datang.

Setelah semua percakapan mereda, Lurah Prajurit Argapura akhirnya berbicara.

"Aku memanggil kalian malam ini karena kita tidak bisa terus bersembunyi." Suaranya menggema di antara dinding batu kuil. "Sudah saatnya kita merebut kembali Pos Jaga Satu dan membalas kematian saudara-saudara kita yang gugur."

Sorak persetujuan langsung memenuhi ruangan.

"Kami siap bertempur!"

"Ya rebut kembali pos jaga 1"

"Balaskan dendam kawan-kawan kita yang telah gugur. "

Silih berganti para prajurit berusaha untuk saling membakar semangat juang.

Belum sempat Argapura melanjutkan ucapannya, sebuah teriakan keras menggema dari luar.

"Ada Musuh!"Suara teriakan itu berasal dari Mahesa yang berjaga di depan.

Disusul dentingan logam yang saling beradu dan jerit seseorang yang roboh.

Semua prajurit serempak berdiri. Pedang-pedang segera terhunus dari sarungnya, sementara tombak dan perisai diangkat dalam satu gerakan.

"Bagaiman Mereka bisa menemukan kita!" seru Jayantara.

Belum sempat rombongan mencapai gerbang kuil, beberapa prajurit Rakyan Jatiwangsa telah lebih dahulu menerobos masuk ke pelataran.

"Serang! Jangan biarkan seorang pun lolos!" teriak salah seorang pemimpin mereka.

Pertempuran pun meledak.

Dentang baja memekakkan telinga. Kilatan pedang memantulkan cahaya purnama setiap kali saling beradu. Tombak-tombak meluncur membelah udara, memaksa para prajurit Argapura melompat menghindar sebelum membalas dengan tebasan cepat.

Danang menjadi orang pertama yang menerjang. Pedangnya berputar dari bawah ke atas, menangkis serangan lawan sebelum membalikkan tubuh dan menghantamkan gagangnya ke wajah seorang prajurit.

Di sisi lain, Jayantara memanfaatkan tombaknya untuk menjaga jarak. Ujung tombaknya menusuk cepat seperti sambaran ular. .

Mahardika bertarung jauh lebih ganas. Pedangnya bergerak tanpa ragu,

Di dekat gerbang, Mahesa menjadi benteng pertama. Dengan tubuhnya yang kekar, ia menahan dua prajurit sekaligus.

Jerit kesakitan, benturan baja, dan teriakan komando saling bersahutan memenuhi pelataran Kuil Watu Kendil.

Lihat selengkapnya