Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #22

Memeluk Takdir

Malam telah larut ketika Adikarsa dan Mahardika berjalan menyusuri jalan menuju ibu kota. Langkah keduanya tenang, sementara cahaya bulan purnama membuat malam itu terlihat lebih benderang dari biasanya

Keindahan cahaya purnama tak mampu mengusir rasa gundah dan kehilangan kedua pemuda itu.

"Aku yakin ada pengkhianat di antara kita," bisik Adikarsa tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.

Mahardika mengangguk pelan. "Semua pasukan pos jaga 1 juga merasakan hal yang sama. Hanya saja... kita belum tahu siapa orangnya."


Adikarsa menghela napas panjang. "Itulah yang membuat semuanya menjadi jauh lebih sulit. Musuh yang berdiri di hadapan kita masih bisa ditebas dengan pedang. Namun pengkhianat yang berjalan di sisi kita... jauh lebih berbahaya."

Mahardika menatap gelapnya jalan di depan. "Kalau begitu, untuk sementara kita hanya bisa mengamati. Cepat atau lambat, kita pasti akan menemukan jejaknya."

"Apakah rencanamu selanjutnya?" tanya Mahardika Kembali

Mendengar pertanyaan itu Adikarsa mengembuskan napas pelan. "Entahlah. Yang pasti, aku harus berbicara dengan Rakyan Wicaksono."


Keduanya kembali terdiam. Mereka melangkah perlahan di bawah langit malam,  sementara cahaya obor yang berjajar di sepanjang jalan memantulkan bayangan panjang ditanah.

Setelah beberapa saat, Adikarsa kembali membuka suara.

"Bisakah kau memberiku sedikit gambaran tentang Tarakirana?"Tanya Adikarsa mengalihkan pembicaraan.

Mahardika menggeleng pelan.

"Aku tidak pernah benar-benar bisa membaca jalan pikirannya." Jawab Mahardika.

Adikarsa tidak menyela. Ia hanya menunggu Mahardika melanjutkan.

"Namun malam ini..." Mahardika menatap lurus ke depan. "Saat kulihat ia memimpin Pasukan Selendang Merah, aku merasa ia telah mengambil keputusan. Mungkin... ia memilih menjalani jalan takdirnya sendiri."

Adikarsa terdiam. Entah mengapa, kalimat Mahardika itu terasa lebih berat daripada yang dibayangkannya.

Mahardika lalu menoleh kepada Adikarsa.


Perjalanan ke gerbang ibukota seakan menjadi panjang karena keadaan hati yang tidak tenang.

Ketidakhadiran Tarakirana, hancurnya pasukan yang di pimpin Argapura.

Kekalahan yang harus diakui oleh kedua pemuda itu.

Namun

Di tengah perjalanan panjang itu,

Di belakang mereka terdengar pacu kuda.

Adikarsa dan Mahardika menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang.

Ternyata Wulandari dan Cempaka yang tengah menunggangi kuda-kuda itu.


Kedua gadis itu menarik tali kekang dan menghentikan kudanya tepat di samping Adikarsa dan Mahardika.

"Adikarsa, ikutlah bersamaku."

Wulandari mengulurkan tangannya dari atas pelana.

Adikarsa tersenyum tipis sebelum menggeleng pelan. "Terima kasih. Aku ingin berjalan bersama Mahardika." Jawaban Adikarsa tetap sopan, tetapi tegas.

Mendengar penolakan itu,

Wulandari tidak marah ia justru turun dari kudanya. Ia memegang tali kekang ditangan kirinya , lalu berjalan di sisi Adikarsa.

Jarak mereka sengaja dibuat begitu dekat oleh Wulandari hingga beberapa kali lengan keduanya saling bersentuhan.


Di bawah sinar bulan purnama, senyum Wulandari tampak semakin memikat.

"Di mana Tarakirana?" tanyanya sambil melirik Mahardika. "Biasanya kalian selalu bersama."

Mahardika tersenyum samar, mendengar pertanyaan Wulandari.

"Dia sudah memilih pria lain." Jawab Mahardika.

Kalimat itu sengaja diucapkannya untuk menyindir Adikarsa.

Wulandari langsung menoleh.

"Ah... jadi kau ditolak oleh Tarakirana?" godanya sambil terkekeh.

Di belakang mereka, Cempaka ikut turun dari kudanya dan memilih berjalan perlahan sambil menuntun hewan itu.

"Bagaimana bisa kau kehilangan cintamu?" tambah Cempaka dengan nada menggoda.

Mahardika hanya tertawa kecil.

"Lalu bagaimana denganmu, Wulandari? Apa Adikarsa sudah menerima cintamu?"

Sambil berkata demikian, Mahardika menepuk pelan bahu Adikarsa.

Adikarsa membalasnya dengan tatapan dingin, tampak jelas pemuda itu tidak menyukai arah candaan Mahardika.

Namun Wulandari sama sekali tidak merasa malu.

"Aku akan membuat Adikarsa memilihku." Wulandari mengucapkan kalimat itu dengan penuh keyakinan, lalu menatap Adikarsa dengan senyum yang sarat godaan.

Mahardika mengangkat kedua alisnya.

"Ah... semoga kau beruntung." Goda Mahardika "sayang sekali kecantikan yang kau miliki jika harus menunggu pemuda ini. "

Wulandari tersenyum semakin lebar.

"Aku selalu beruntung." Jawab gadis itu penuh rasa bangga.


Tak seorang pun mengetahui bahwa hati Adikarsa telah jatuh kepada Tarakirana.

Hanya Mahardika yang memahami ke mana arah perasaan sahabatnya itu saat ini

Namun sejak mereka masih menjalani pelatihan sebagai prajurit, semua orang telah mengetahui bahwa Wulandari menaruh hati kepada Adikarsa. Gadis itu bahkan tidak pernah berusaha menyembunyikannya.

"Beberapa hari yang lalu kami bertemu dengan Tarakirana," ucap Cempaka, memecah keheningan.

"Ya," sambung Wulandari dengan senyum memikatnya. "Namun ada luka bekas pedang di wajahnya."

Tatapan Wulandari beralih kepada Mahardika, seolah menunggu penjelasan darinya.

Mahardika justru menoleh kepada Adikarsa.

Sorot matanya seakan berkata bahwa penjelasan itu seharusnya datang dari pemuda itu sendiri.

"Ya..." Adikarsa mengembuskan napas panjang. "Luka itu didapatnya, saat ia menyelamatkan adikku."

Mendengar penjelasan itu kening Wulandari berkerut. Cempaka pun tampak mengernyitkan satu matanya. Tanda keduanya sedang berpikir.

"Begitu rupanya..." gumam Wulandari lirih.

"Wah... benar-benar dramatis," sela Cempaka dengan senyum tipis.

Setelah itu

Wulandari terdiam sesaat.

Perlahan, seolah menyusun kepingan-kepingan yang selama ini terpisah, ia menyadari sesuatu.

Matanya membelalak.

"Tunggu..."

Ia menatap Mahardika, lalu beralih kepada Adikarsa.

"Jangan-jangan... pria yang dipilih Tarakirana adalah Adikarsa?" Wulandari mendekatkan wajahnya ke arah Mahardika seolah sedang mencari jawaban di antara wajah Mahardika.


Mahardika hanya mengangkat bahu sambil tersenyum samar.

Sementara itu, Adikarsa tetap terdiam.

Ia tidak mampu mengiyakan.

Namun ia juga tidak sanggup menyangkal.

Sebab Tarakirana tidak pernah sekalipun mengucapkan bahwa dirinya telah memilih Adikarsa sebagai pria yang dipilihnya untuk berjalan bersama dalam hidup Tarakirana.

Yang ada hanyalah perasaan yang tumbuh diam-diam di antara mereka, tanpa satu pun janji yang pernah terucap.

"Kami bertemu Tarakirana beberapa hari yang lalu di pasar dagang," ujar Cempaka dengan nada ringan.

Wulandari dan Cempaka saling berpandangan.

" cerita kalian berdua sangat dramatis" gumam Cempaka dengan senyum tipis. "Lalu kenapa Tarakirana tidak hadir malam ini di Kuil Watu Kendil?" tanyanya lagi.

Baik Mahardika maupun Adikarsa memilih diam.

Wulandari kemudian terkekeh pelan.

"Mungkin... dia malu dengan bekas luka di wajahnya." Kata Wulandari sambil tertawa kecil.

Belum sempat tawanya reda, Adikarsa menghentikan langkahnya.

Ia menoleh perlahan. Tatapannya yang dingin kini berubah tajam, dipenuhi kemarahan yang belum pernah dilihat Wulandari sebelumnya.

Senyum di wajah gadis itu perlahan menghilang.

"Jangan pernah menjadikan luka di wajah Tarakirana sebagai bahan lelucon." Suara Adikarsa terdengar rendah, tetapi sarat ancaman.

"Atau aku sendiri yang akan mencabik wajahmu yang cantik itu."

Wulandari refleks melangkah mundur. Dadanya berdebar hebat.

Untuk pertama kalinya, Adikarsa menatapnya bukan dengan kesopanan, melainkan dengan kemarahan yang begitu nyata.

Tatapan itu lebih menyakitkan daripada kata-kata yang baru saja diucapkan Adikarsa.

Perlahan, Wulandari membuang wajahnya kesamping. Kekecewaan memenuhi hati dan wajahnya.

Lihat selengkapnya