Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #23

Jurang perbedaan

Setelah perpisahan Mahardika dengan Adikarsa di ujung persimpangan, 

Mahardika melanjutkan langkah seorang diri.

Namun gelora muda yang selama ini ia tahan seolah kembali bergejolak ketika jalan membawanya melewati rumah kekasihnya.Anindita.

Hanya dengan mengingat sosok dan wajah gadis itu, langkah Mahardika sudah kehilangan arah.

Ia berhenti, Memandangi pagar halaman rumah Anindita beberapa saat, lalu mengembuskan napas pendek.

"Ah, persetan."Tanpa berpikir panjang, Mahardika melompati pagar halaman.


Ia bergerak cepat melewati bayang-bayang pepohonan, kemudian memanjat bagian rendah bangunan hingga tubuhnya mencapai atap rumah. Di sana ia berhenti sejenak, menundukkan badan sembari mengawasi keadaan di sekeliling.

Sepi.

Beberapa penjaga melintas namun tidak banyak. Pelayan sudah terlihat, mungkin mereka sudah beristirahat di kamar masing-masing. 


Setelah merasa aman, Mahardika turun perlahan menuju jendela kamar Anindita.

Seperti dugaannya.

Jendela itu tertutup, tetapi tidak terkunci.


Seakan-akan jendela tersebut memang sengaja dibiarkan menunggu kedatangannya-kapan pun pemuda itu memutuskan untuk datang.

Senyum kecil muncul di bibir Mahardika.

Dengan satu gerakan ringan, ia membuka jendela dan melompat masuk.

Tubuhnya mendarat nyaris tanpa suara.


Kamar Aninditha dipenuhi aroma harum dupa yang lembut. Cahaya bulan menyelinap melalui celah jendela, menorehkan bayang-bayang pucat di lantai.

Mahardika mengangkat pandangan.

Di balik tirai kelambu tipis yang menjuntai hingga ke lantai, tampak sosok Anindita tertidur pulas.


Untuk sesaat, semua kegaduhan di dalam kepalanya lenyap.

Ia mendekat.

Perlahan, Mahardika menyelinap ke balik kelambu. Kemudian ia membaringkan diri di sisi gadis itu dan merengkuh tubuh Anindita dengan lembut.


Anindita bergerak kecil.

Kelopak matanya terbuka sedikit.

Namun begitu pandangannya menangkap wajah yang begitu dikenalnya, kegelisahan itu segera sirna.

"Mahardika...?"Suara Anindita nyaris hanya berupa bisikan.

"Hmm." jawab Mahardika sambil memeluk Anindhita lebih erat. "Aku merindukanmu."

Jawaban itu begitu sederhana hingga Anindita hanya bisa tersenyum dalam kantuknya

Gadis itu kemudian membalas pelukannya, menyandarkan wajahnya ke dada Mahardika.


Untuk beberapa saat, keduanya tidak mengatakan apa-apa.

Tidak perlu!!.

Hangat tubuh dan detak jantung yang saling berdekatan sudah cukup menjadi bahasa bagi kerinduan yang tidak sempat mereka ucapkan.


Mahardika memejamkan mata.

Di luar sana ada persimpangan, perjalanan, pertarungan, pengkhianatan, dan segala perkara yang menunggu mereka esok hari.

Tetapi malam ini, di balik kelambu tipis dan aroma dupa yang menenangkan, Mahardika hanya ingin menjadi seorang pemuda yang sedang memeluk gadis yang dicintainya.

Cinta rupanya memiliki medan pertempurannya sendiri.

Bukan dengan pedang.

Bukan dengan darah.

Melainkan dengan kerinduan yang menggebu, peluka erat yang menghangatkan dan hati yang perlahan-lahan menyerah kepada seseorang.

Dan malam itu, Mahardika tidak ingin menang.

Ia hanya ingin tinggal sedikit lebih lama dalam keindahan dan kehangatan dari gadis yang telah memiliki seluruh hatinya. 


Sebelum fajar benar-benar datang, Anindita perlahan membuka matanya.


Cahaya malam yang tersisa masih menggantung pucat di balik jendela. Di sampingnya, Mahardika tertidur lelap, seolah seluruh dunia tidak memiliki kuasa untuk membangunkannya.

Anindita tersenyum kecil.

Tangannya terulur, menyentuh bahu pemuda itu dengan lembut.

"Bangunlah. Sebentar lagi pagi datang." bisik Anindhita membuat Mahardika mengerang pelan sebelum membuka mata.

Ia menatap Anindita dalam diam, masih diselimuti sisa kantuk.

"Jika keluargamu mengetahui hal ini," gumam Mahardika spontan, "aku akan bertanggung jawab."

Anindita terdiam sesaat.

Lalu senyum manis perlahan menghiasi wajahnya.

"Setidaknya kau mau bertanggung jawab menjaga kehormatanku di hadapan keluargaku."

Mahardika langsung memahami maksud perkataan itu.

Ia seharusnya segera bangkit.

Seharusnya membuka jendela, keluar dari kamar itu, lalu kembali ke rumahnya sebelum seorang pun mengetahui keberadaannya.


Namun Mahardika justru menarik Anindita kembali ke dalam pelukannya.

"Mahardika..." Anindhita berniat untuk menolak pemuda itu. 

"Aku masih ingin sebentar." bisik Mahardika ke telinga gadis itu, membuat Anindita terkekeh lirih.

Mahardika kembali memeluk gadis itu dengan hangat. Berada sedekat ini dengan Anindita membuat seluruh keteguhan hatinya runtuh

Gelora cintanya kembali menyambar

Kali ini Mahardika bahkan tidak berusaha melawannya.

Anindita pun tidak.

Untuk sesaat, mereka berhenti memikirkan waktu. Tidak ada persimpangan jalan, tidak ada pertarungan, tidak ada kewajiban yang menunggu.

Hanya mereka berdua.

Dan ketika hati telah menemukan tempat untuk beristirahat, terkadang manusia memang tidak ingin segera beranjak.

Malam perlahan menyerahkan dirinya kepada fajar.

Ketika semburat merah mulai muncul di ufuk timur.

Mahardika akhirnya bersiap meninggalkan kamar itu.


Rambut Anindita masih sedikit berantakan. Napas gadis itu masih belum sepenuhnya teratur setelah malam panjang yang mereka lalui bersama.

Mahardika menatapnya dengan senyum lembut.

Kemudian ia membungkuk dan mengecup kening kekasihnya.

"Kembalilah tidur, cantikku."

Anindita memandangnya dari balik kelopak mata yang berat.

"Kau benar-benar akan pergi sekarang?" Tanya Anindhita. 

"Kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah keluar dari kamar ini." Anindita menahan tawa mendengar jawaban pemuda itu. 

Mahardika tersenyum sambil membuka jendela dengan hati-hati, memastikan keadaan di luar masih aman.


Namun ketika kakinya menginjak pelataran belakang, suasana rumah Anindita rupanya telah mulai berubah.

Beberapa pelayan sudah beraktivitas. Ada yang membawa kendi air. Ada yang membuka pintu samping. Dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil pelayan lainnya.

Mahardika segera merendahkan tubuhnya.

Untungnya tidak ada seorang pun yang melihat.

Dengan gerakan cekatan ia memanjat pagar belakang, kemudian mendarat di sisi luar.

Sebelum pergi, Mahardika menoleh.Rumah itu masih tampak tenang di bawah cahaya fajar.

Ia tersenyum.

Senyum seorang pemuda yang baru saja mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam pertempuran

Ia pun berbalik.

Dengan langkah ringan, Mahardika meninggalkan kediaman Anindita menuju rumahnya sendiri yang tidak terlalu jauh.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkahnya terasa begitu ringan.

Seolah dunia sedang berpihak kepadanya.


***

Siang itu matahari begitu terik.

Namun panasnya udara seakan tidak mampu meredam kegaduhan yang memenuhi jalan-jalan utama ibu kota.

"jenderal singa putih datang!"

Teriakan itu terdengar dari satu sudut jalan, lalu disambut sorak-sorai dari berbagai penjuru.


Penduduk berdesakan di sepanjang jalan. Sebagian berdiri di depan kedai dan rumah-rumah mereka, sementara yang lain memenuhi tepian jalan hanya untuk melihat sosok yang selama ini lebih sering mereka dengar namanya melalui cerita kemenangan di medan perang.

Dari kejauhan, derap kaki kuda mulai terdengar.

Tak lama kemudian, barisan puluhan prajurit muncul dari balik kerumunan.

Mereka mengenakan pakaian prajurit dengan ikat kepala putih dan jarik batik putih yang dililitkan di pinggang. Kain batik putih itu berkibar ringan diterpa angin setiap kali kuda dan langkah kaki mereka bergerak maju.


Di tengah barisan itulah sang jendral tampak gagah berkharisma.

Ia menunggang seekor kuda dengan sikap tegap dan tenang. Ikat kepala putih membingkai wajahnya yang tegas dan tak kenal takut itu, sementara jarik batik putih terlilit kokoh di pinggangnya.


Tidak ada mahkota.

Tidak ada perhiasan berlebihan.

Namun keberadaannya saja sudah cukup membuat seluruh jalan seolah kehilangan ruang.

"Jenderal!" teriak beberapa pria

Lihat selengkapnya