Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #24

Dibawah Langit yang Sama

Mahardika membiarkan Adikarsa terus mengikutinya dalam diam.

Lelaki itu berjalan menuju kandang kuda, lalu melepaskan ikatan kudanya.

Dengan gegabah karena emosi yang tak sanggup ia tahan. Gerakan tangan Mahardika sedikit kasar dan tergesa. 

Disisi lain Adikarsa membuka ikatan tapi kekang kuda dengan lebih halus dan hati-hati.

Begitu naik ke punggung kuda, Mahardika langsung memacunya.  Kuda itu melaju kencang, seakan Mahardika ingin menghilang secepat mungkin dari ibu kota.

Adikarsa tetap mengikutinya.

Mereka terus memacu kuda, sekencang yang mereka bisa. Sinar bulan purnama menjadi satu-satunya penerang di jalan yang semakin pekat oleh malam.


Adikarsa tidak memahami ke mana arah perjalanan itu. Namun, ia tidak ingin membiarkan Mahardika menjalani semuanya seorang diri.

Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah persimpangan.

Mahardika membelokkan kudanya menuju jalan ke Batu Merah.


Entah mengapa, setiap kali keadaan menjadi sulit, ia selalu ingin kembali ke desa itu.

Malam telah larut ketika mereka akhirnya tiba di rumah sederhana Tarakirana.

Tidak ada sosok gadis itu di sana.

Hanya Mbok Jarni yang menyambut mereka dengan wajah mengantuk.

"Den Mahardika?" Mbok Jarni bertanya sambil mengerjapkan mata, seakan tidak percaya melihat Mahardika berdiri di hadapannya.

"Den Adikarsa?" Kali ini wajah wanita itu semakin tak mampu menyembunyikan rasa keterkejutan ketika melihat juga Adikarsa turun dari kudanya dan menyusul Mahardika. 

Mbok Jarni tampak bingung melihat kedua pemuda yang memiliki pesona ketampanan yang berbeda itu datang di tengah malam.

Mahardika tidak memedulikan kudanya. Adikarsa membantunya dengan mengikat tali kekang kuda Mahardika disebelah kuda miliknya.

Mahardika berjalan menuju bale di bawah pohon mangga, lalu merebahkan tubuhnya diatas bale bambu itu. 

Tempat di mana mereka pernah bercanda bersama beberapa minggu yang lalu.

"Mau wedang, Den?" tanya Mbok Jarni. Namun Mahardika tidak terlalu peduli dengan pertanyaan itu.

Sementara Adikarsa mengangguk sambil tersenyum. "Boleh, Mbok," jawab Adikarsa lembut.

Tubuh Mahardika telentang di atas bale luar. Kedua tangannya diletakkan di belakang kepala, sementara tatapannya tertuju pada langit malam di sela-sela dedaunan pohon mangga.

Adikarsa duduk tidak jauh darinya. Untuk beberapa saat, ia membiarkan kesunyian menemani mereka.

Namun ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikiran Adikarsa.

"Mahardika," panggil Adikarsa pelan.

"Hmm?" Mahardika tampak malas menjawab panggilan itu. 

"Aku ingin bertanya sesuatu. Kalau kau tidak ingin menjawab, katakan saja."

Mahardika tidak menoleh.

Tidak juga menjawab. 

Adikarsa menarik napas perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Sebelum kau bersama Anindhita... apakah kau sudah mengetahui banyak hal tentang kehidupan pribadinya?"

Mahardika terdiam sejenak.

Lalu Mahardika menggeleng.

Adikarsa menatap sahabatnya.

"Apakah kau tahu bahwa ada perbedaan antara seorang perempuan yang belum pernah berhubungan dengan seorang pria dan seorang perempuan yang memang belum pernah melakukan hubungan badan sama sekali?" Adikarsa mencoba memilih kalimat yang pantas untuk menyampaikan pertanyaan itu

Kali ini pertanyaan Adikarsa membuat Mahardika menatapnya. 

Lalu

Mahardika kembali menggeleng.

Adikarsa mengembuskan napas berat kembali. 

Ia menyadari percakapan malam ini tidak akan mudah.

"Kalau begitu, ..." Suara Adikarsa menjadi lebih pelan. "Ada kemungkinan Sebelum bersamamu, Anindhita mungkin memang sudah menjadi milik Jenderal Singa Putih."

Kedua sahabat itu bertatapan penuh arti


Ada keraguan di mata Adikarsa seolah dirinya sendiri tidak mengetahui hal yang akan di ucapkan berikutnya layak atau tidak. 

Disisi lain

Tubuh Mahardika yang semula berbaring mendadak kaku.

Tatapannya berubah.Adikarsa tidak segera melanjutkan.

Adikarsa seperti sedang menimbang, kalimat selanjutnya mungkin akan jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang bisa ia katakan malam ini.

"Jadi maksudmu..." Mahardika akhirnya bersuara. "Aku bukan pria pertama bagi Anindhita?"

Adikarsa tidak segera menjawab.

Untungnya, sebelum percakapan itu menjadi semakin canggung, Mbok Jarni datang membawa sebuah kendi wedang, dua cangkir tanah liat, serta beberapa pisang rebus di atas tampah kecil.

"Ini wedangnya, Den." kata mbok Jarni sambil meletakkan baki wedang dan pisang rebus di atas bale. 

"Terima kasih, Mbok," jawab Adikarsa. Sementara Mahardika hanya sibuk oleh pemikirannya sendiri. 

Mbok Jarni sempat melihat Mahardika dengan pandangan ragu. 

Namun kemudian

Wanita itu tersenyum, lalu kembali masuk ke rumah.


Adikarsa menunggu sampai suara langkah wanita itu benar-benar menghilang sebelum kembali menatap Mahardika.

"Seharusnya kau memiliki pengetahuan tentang hal semacam itu sebelum melakukannya." setengah berbisik Adikarsa mencoba mengurai pemikiran sahabatnya 

Mahardika mengerutkan kening.

"Pengetahuan tentang apa?" tanya Mahardika. 

Adikarsa menghela napas kembali mendengar pertanyaan itu. 

"Apakah ada bercak merah?" Wajah Adikarsa sedikit tersipu ketika mengucapkan pertanyaan itu.

Mahardika justru menatapnya tanpa mengerti.

"Bercak merah apa?" Raut wajah Mahardika benar-benar menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuan pemuda itu tentang perkara perempuan.

Adikarsa langsung memejamkan mata.Pemuda itu berpikir keras. 

Sungguh!!, bagaimana mungkin ia harus menjelaskan hal seperti ini kepada Mahardika? Umpat Batin Adikarsa

Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat dan merendahkan suara.

"Darah. Ada perempuan yang mengalami sedikit perdarahan ketika pertama kali melakukan hubungan badan. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan bukti pasti bahwa seseorang pernah atau belum pernah bersama pria. Namun setidaknya ada bercak darah"


Mahardika mengerjapkan mata, seolah itu pengetahuan pertamanya tentang seorang wanita. 

"Darimana kau tahu hal itu?" tanya Mahardika semakin antusias

Adikarsa menoleh mencoba menelaah pemikiran Mahardika. 

"Apakah kau pernah melakukannya?" pertanyaan Mahardika kali ini membuat mata Adikarsa terbelalak karena terkejut. 

Lihat selengkapnya