Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #25

Irama Perang

Mentari pagi kembali hadir di langit Desa Batu Merah.


Mahardika berdiri seorang diri memandangi semburat merah yang perlahan memudar di balik perbukitan. Hatinya kembali bergejolak. ketika mata Mahardika terbuka, bayangan wajah Aninditha kembali datang, menghadirkan kerinduan yang tak sanggup ia usir.


Hati Mahardika ingin kembali merasakan hangat pelukan gadis itu. Namun kenyataan telah menjadi tembok yang tak mungkin ia lewati.

Anindita kini telah menjadi milik seorang jenderal yang Mahardika hormati.

Berebut seorang wanita dengan sang jenderal bukanlah hal yang pernah terlintas di pikiran Mahardika. 

Mahardika memejamkan mata sejenak. Tidak ada gunanya terus mengejar sesuatu yang bukan lagi takdirnya.

Untuk menenangkan pikirannya, ia berjalan meninggalkan pondok-pondok pelatihan menuju sebuah kolam mata air di bawah bukit. Air pegunungan yang jernih mengalir tanpa henti. Matahari belum benar-benar menampakkan dirinya ketika Mahardika menceburkan diri ke dalam air yang begitu dingin.


Ia membiarkan hawa beku meresap hingga ke tulang, berharap mampu memadamkan gejolak rindu di dalam dadanya.

Tanpa sengaja, 

Adikarsa melihat sahabatnya melewati depan pondok pelatihan. Rasa penasaran membuatnya mengikuti dari kejauhan hingga Mahardika membenamkan tubuhnya di air yang dingin. 

Adikarsa hanya terdiam.

Ia memahami bahwa tidak semua luka dapat disembuhkan dengan kata-kata. Ada kalanya seseorang membutuhkan kesunyian untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Karena itu, Adikarsa memilih kembali ke pondoknya tanpa mengganggu sahabatnya.


Matahari telah benar-benar bersinar hangat ketika Mahardika akhirnya kembali. Wajahnya masih menyimpan rasa sedih kehilangan, tetapi sorot matanya tampak lebih tenang dan segar daripada sebelumnya.

Dibawah hangatnya mentari seluruh prajurit berkumpul di lapangan pelatihan Desa Batu Merah.

Hari yang telah lama mereka nantikan akhirnya tiba.

Setelah bertahun-tahun berlatih dalam diam, kini mereka akan menjalankan misi mereka.


Di hadapan mereka berdiri Sang Pertapa dan Rakyan Wicaksono, Sang Pertapa tampak memanjatkan doa dan memberikan restu kepada seluruh pasukan.


Mahardika.

Adikarsa.

Danang.

Jayantara.

Satria.


Masing-masing telah mendapat pembagian tugasnya untuk memimpin para prajurit.


***

Siang semakin terik ketika para prajurit itu sampai di perbukitan , 

Mereka berpisah di persimpangan- persimpangan menuju ke jalan jalur pos 1,2 dan 3.


Tiga regu prajurit Desa Batu Merah bergerak dalam senyap, meninggalkan perkemahan mereka. Setiap langkah telah diatur oleh Rakyan Wicaksono dan Adikarsa sebagai penasehat strategi. 


Danang dan Jayantara memimpin dua puluh prajurit menuju jalur Pos Jaga Satu.

Adikarsa dan Satria juga membawa dua puluh prajurit menuju jalur Pos Jaga Dua.

Sementara Mahardika memimpin tiga puluh prajurit menuju jalur Pos Jaga Tiga. 


Tujuan penyerangan itu bukan untuk menduduki wilayah.

Mereka hanya ingin memancing perhatian Jatiwangsa agar kekuatan musuh terpencar.

Namun, semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak kejanggalan yang mereka temukan.

Ketiga pasukan bergerak meninggalkan Desa Batu Merah ketika malam telah benar-benar menguasai langit.

Hanya suara langkah kaki dan derap napas kuda yang memecah kesunyian.

Semakin jauh mereka memasuki wilayah Jatiwangsa, semakin jelas tanda-tanda kehancuran yang mereka temukan.

Jalur Menuju Pos Jaga Satu

Danang dan Jayantara memimpin dua puluh prajurit melewati jalan berbatu di lereng bukit.

Mereka tiba-tiba menghentikan langkah. Beberapa gerobak pengangkut teronggok di tepi jalan dalam keadaan kosong. Roda-roda kayunya patah, sementara kain penutup muatan tercabik-cabik.

Bercak darah memenuhi tanah.

Sebagian bahkan memercik hingga ke batang-batang pohon dan dedaunan di sekitarnya.

Jayantara berlutut memeriksa jejak-jejak itu.

"Darah ini belum lama mengering."

"Telah terjadi pertempuran sebelum kita datang."Danang mengangguk pelan.

Tanpa membuang waktu, mereka melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian, Pos Jaga Satu terlihat di kejauhan. Begitu panah pertama dilepaskan, para prajurit Desa Batu Merah menyerbu dari dua sisi.

Prajurit Jatiwangsa mencoba bertahan, tetapi tubuh mereka tampak lemah dan kehilangan tenaga.

Pertempuran berlangsung singkat. Danang dan Jayantara memimpin barisan depan hingga pertahanan pos runtuh.

Sebagian prajurit Jatiwangsa tewas dalam pertempuran, sementara sisanya melarikan diri meninggalkan pos.

Di sebuah bangunan kayu di belakang pos, mereka menemukan beberapa prajurit lurah prajurit Argapura yang selama ini ditawan.

Dengan tubuh lemah dan beberapa luka, para tawanan itu memandang Danang dan Jayantara dengan mata berkaca-kaca.

"Kalian..akhirnya. datang..." Jayantara segera memutuskan belenggu mereka.

Lihat selengkapnya