Seperti malam-malam sebelumnya, Mahardika berjalan seorang diri menuju kolam mata air di bawah bukit.
Ia kembali merendam tubuhnya di dalam air yang dingin, membiarkan kesunyian malam menenangkan pikirannya.
Dari kejauhan, Adikarsa memperhatikan kebiasaan baru sahabatnya itu.
Ia tidak menghampiri.
Ia tahu Mahardika sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri
Adikarsa memilih melangkah menuju Kuil Batu Merah. Pelataran kuil yang dahulu ditempati Sang Pertapa kini telah kosong.
Kesunyian memenuhi setiap sudutnya. Pemuda itu duduk bersandar pada tiang kayu, memandang altar yang tak lagi berpenghuni.
Entah mengapa, tempat itu justru mengingatkannya pada Tarakirana.
Senyumnya.
Tatapan tajamnya
Dan janji yang pernah ia ucapkan kepada gadis itu. "Aku tidak akan meninggalkanmu." Adikarsa mengembuskan napas panjang.
Pada akhirnya, ia merasa telah gagal menepati janji itu. Ia merebahkan tubuhnya di pelataran batu, menatap langit yang dipenuhi ribuan bintang.
Malam terasa begitu tenang.
Namun pemikiran Adikarsa sangat riuh hingga membuat pemuda itu melenguh berulang kali.
Hingga kemudian...
_Sret!_
Sebuah anak panah melesat membelah udara. Refleks Adikarsa berguling menjauh. Anak panah itu tidak mengarah ke tubuhnya.
_TAK_
Panah itu justru menancap di sela-sela dinding kayu pelataran, hanya beberapa jengkal dari tempat ia berbaring.
Adikarsa segera bangkit. Tangannya mencabut anak panah itu.Di batang panah, selembar kertas digulung rapi dan diikat dengan benang merah.
Tatapannya langsung berubah.
"Kertas ini!! "Seketika Adikarsa menyadari kualitas kertas buatan keluarganya sendiri.
Tak banyak pengrajin kertas di ibukota yang mampu menghasilkan serat seperti itu.
Jantung Adikarsa berdegup lebih cepat.Pikirannya segera tertuju kepada Tarakirana. Ia mengenali anak panah dan kualitas kertas.
Tanpa membuang waktu, Adikarsa mengedarkan pandangan ke segala arah.
Pepohonan.
Atap-atap rumah.
Puncak bukit.
Berharap menemukan sosok gadis itu dalam bayang-bayang malam.
Namun tak ada siapa pun.
Seolah sang pemanah telah menyatu dengan gelapnya malam sebelum sempat terlihat.
Adikarsa mengepalkan tangannya menggenggam erat anak panah itu Walaupun ada rasa kecewa namun
Bibirnya membentuk senyum tipis."Setidaknya... kau masih mengingatku." Dengan hati yang berdebar, ia melepaskan ikatan benang merah itu.
Perlahan, ia membuka surat yang dikirim oleh gadis yang telah mencuri hatinya.
Dengan mata berbinar Adikarsa membuka gulungan kertas itu perlahan.
Saat melihat tulisan yang tidak rapi Adikarsa tersenyum karena mengenali tulisan itu.
Aku masih mengingat janjiku untuk mengabarimu.
Jika ingin membalas surat ini, letakkan saja balasanmu di sela akar pohon beringin di belakang kuil.
Adikarsa memandangi surat itu cukup lama.
Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak Tarakirana memilih jalannya sendiri. Gadis itu mencoba berkomunikasi melalui surat panah untuk janjinya.
Adikarsa melipat kembali surat itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya di balik pakaiannya.
Senyum tipis tak mampu lagi ia sembunyikan.
Langkahnya terasa jauh lebih ringan ketika ia menuruni bukit dari Kuil Batu Merah. Ia ingin segera membalas surat itu.
Ketika hampir tiba di halaman rumah yang dahulu ditempati Tarakirana dan keluarganya, suara derap kaki kuda memecah kesunyian malam.
Adikarsa menoleh.
Mahardika memacu kudanya tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan.
Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menyimpan tekad yang sulit diartikan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Mahardika melewati jalan utama desa, melintasi gerbang, lalu menghilang di balik tikungan yang gelap.
Adikarsa hanya memandang kepergian sahabatnya.
" Mau ke mana dia ...? Malam-malam begini? " Tanya Adikarsa dalam hati, namun ia tidak ingin mengejar ia hanya ingin membalas surat dari Tarakirana secepat mungkin
Gema derap kaki kuda yang perlahan menghilang, ditelan sunyinya malam.
Mahardika memacu kudanya menembus gelapnya malam.
Ada gelora yang tak mampu lagi ia bendung.
Kerinduan yang selama ini ia pendam berubah menjadi kegelisahan yang terus mengusik pikirannya.
Semakin ia berusaha melupakan Anindita, semakin kuat bayangan gadis itu memenuhi benaknya.
Tanpa sadar,
kudanya membawanya menuju sebuah kedai hiburan yang biasa disinggahi para saudagar dan pengembara.
Suara gamelan mengalun lembut dari dalam. Beberapa penari menari gemulai di bawah cahaya lampu minyak, sementara para tamu menikmati tuak dan bercakap-cakap.
Mahardika memilih duduk di sudut ruangan. Ia hanya meminta semangkuk tuak.