Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #27

Harga Sebuah Kesetiaan

Ketika para sahabatnya masih sibuk berbincang, Adikarsa memilih meninggalkan mereka.

Ia berjalan menuju pohon beringin tua di belakang kuil. Di tangannya tergenggam gulungan kertas dan sebuah botol kecil berisi tinta. 

Dibawah pohon beringin tua itulah ia menunggu seseorang yang diam-diam dirindukannya.

Dalam keheningan Adikarsa menghitung waktu, malam semakin larut. Namun sosok gadis yang ditunggunya itu tak juga muncul di hadapannya.

Tiba-tiba tanpa disangkanya. 

Sebuah anak panah melesat dari kejauhan.

_syuuuh_

Anak panah itu menancap di tanah, hanya beberapa langkah dari kaki Adikarsa.  Pada batangnya terikat seutas tali merah.Adikarsa segera memungut anak panah itu.

Selembar kertas kecil tergulung pada batang anak panah.

Adikarsa membukanya.

Hanya ada beberapa baris tulisan Yang berantakan


Mata-mata di Pos Jaga 1 sedang berada di perbukitan.

Temui aku di puncak bukit.


Adikarsa terdiam sejenak.

Lalu

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Ia mengenali tulisan itu.

Sebagai tulisan Tarakirana yang tidak pernah rapi. 


Matanya segera beralih ke arah barat. Puncak bukit yang dimaksud terlihat di balik pepohonan, tidak terlalu jauh dari tempat Adikarsa menunggu.

Puncak bukit itu cukup tinggi untuk mengawasi pergerakan pasukan di sekitar desa Baru Merah.

Adikarsa menggulung kembali surat tersebut dan menyelipkannya ke dalam pakaiannya.

Ia bahkan tidak berpikir untuk kembali menemui para sahabatnya, seakan ingin hanya dia dan Tarakirana malam ini. Dengan langkah cepat ia berlari menuju perbukitan.


Semakin ia menjauh dari kuil, semakin rapat pepohonan yang dilaluinya. Angin malam menerpa wajahnya. Ia hanya ingin segera sampai ke puncak.

Selain disana ada seorang gadis yang ia rindukan Juga ada sebuah misteri mata-mata yang sangat ingin di ketahuinya. 

Di puncak bukit, 

Dalam gelapnya malam yang pekat. Bulan tidak lagi penuh, sebagian tertutup awan tipis ditemani beberapa bintang yang bersinar indah. Namun tubuh Tarakirana justru bersembunyi di balik sebuah batu besar. Seakan keindahan langit malam tidak seindah pemikiran gadis itu. 

Tubuh Tarakirana merunduk, sementara matanya terus mengawasi lembah yang terbentang di hadapannya. Di kejauhan tampak Desa Batu Merah diterangi beberapa cahaya obor yang kadang meredup karena angin. .


Desa yang dahulu sangat hidup karena ada tawa dan canda keluarga sederhana, kini desa itu memiliki nuansa yang berbeda,  Batu Merah telah menjadi tempat berkumpulnya para prajurit Rakyan Wicaksono.

Sesekali di luar desa itu beberapa bayangan bergerak cepat di antara pepohonan. Mereka mendekati perkampungan, lalu menghilang kembali ke dalam gelapnya hutan.

Tarakirana mengamati gerakan itu dengan saksama.


Ketika mendengar suara langkah dari arah belakang, tangan Tarakirana segera meraih gagang pedang.

Namun

Ketika melihat sosok yang muncul di antara pepohonan adalah Adikarsa, ketegangan di wajahnya berubah menjadi senyum kecil.

Pemuda itu menaiki lereng terakhir dengan cepat. Sesampainya di puncak, ia melompat melewati batu dan mendarat ringan di tanah.

Tarakirana melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Adikarsa mendekat.

Adikarsa merunduk dan berjalan menuju tempat persembunyian Tarakirana.

"Dimana mata-mata itui?" bisik Adikarsa. Tarakirana tak menjawab pertanyaan itu, gadis itu hanya kembali mengarahkan pandangannya ke lembah.

Adikarsa ikut mengintip dari balik batu. Beberapa bayangan kembali bergerak di kejauhan.

Dan kali ini, 

Adikarsa menyadari bahwa pergerakan sosok dalam gelap itu bukan sekadar orang yang sedang melintas.

Melainkan bergerak di sekitar desa Batu merah, seakan sedang mengawasi kegiatan di desa yang kini telah berubah fungsi itu.

Adikarsa menoleh cepat, menatap Tarakirana sekilas, lalu pandangannya kembali mengamati suasana sekitar desa. 

"Sejak kapan mereka memantau pergerakan di desa baru merah?" Tanya Adikarsa dengan suara sangat pelan. 

Tarakirana menjawab pertanyaan itu dengan dua jari yang teracung. 

Adikarsa mengangguk mengerti. "Ehmm dua hari" Keheningan malam kembali menguasai tempat itu, sesekali angin bertiup sangat kuat membuat rambut dan pakaian mereka berkibar. 

"Kau memantau mereka selama itu?" Tanya Adikarsa kembali Tarakirana menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu. 

Adikarsa merasa sedikit terganggu dengan cara Tarakirana menjawab malam ini. 

Pemuda itu menggeser badannya agar mampu melihat gadis itu seutuhnya, Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berucap lembut. 

"Apakah suaramu hilang? "

Pertanyaan Adikarsa kali ini membuat Tarakirana terhenyak seakan menyadari sejak kedatangan Adikarsa ia belum berkata-kata apapun.  Gadis itu berdeham seakan sedang mengatur volume suaranya. 

"Kami bergantian berjaga disekitar sini." Akhirnya suara Tarakirana terdengar walaupun masih sangat lirih

Adikarsa tersenyum mendengar suara Tarakirana, namun pandangan pemuda itu kembali mengedar ke sekeliling.

Tatapannya jauh lebih waspada

memperhatikan hal-hal yang sebelumnya luput dari matanya.

Semak-semak yang tampak biasa.

Lihat selengkapnya