Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #28

Misi yang Berubah

Tarakirana kemudian menatap orang ketiga.

Adikarsa mengetahui tatapan itu, ia segera membuka penutup wajahnya. 

Seorang pria.

Wajahnya sama sekali tidak dikenalnya.

Namun sebelum Adikarsa sempat bertanya, terdengar beberapa suara langkah dari kejauhan.

Mahardika telah mendekat.

Pemuda itu menatap ketiga orang yang dipaksa berlutut oleh pasukan selendang merah.

Mata Mahardika melebar ketika melihat Wulandari dan Cempaka.

"Wulandari..."

"Cempaka" Mahardika hampir tidak percaya, melihat kedua gadis itu sebagai tawanan pasukan selendang merah.

Wulandari justru tertawa kecil.

Lalu mata Mahardika beralih dari Adikarsa kepada Tarakirana. Suasana hening yang canggung itu tiba-tiba berubah ketika senyum Wulandari berubah menjadi senyum mengejek.

Wulandari tertawa kecil.

"Apakah kau sengaja melukai wajah jelekmu untuk membuat Adikarsa memilihmu?" Mendengar ejekan itu Tarakirana terdiam.

"Kau memang sangat licik, " Wulandari melanjutkan ejekannya. "Kau bahkan membuat dia merasa berutang budi kepadamu?" Suara Wulandari terasa penuh dengan emosi, 

Prajurit yang menahan kedua tangannya mengeratkan himpitan di lengan Wulandari, sehingga gadis itu meringis kesakitan. 

Suasana mendadak hening.

Tarakirana sama sekali tidak menyangka kalimat pertama yang keluar dari mulut Wulandari adalah penghinaan terhadap luka di wajahnya.

Namun sebelum Tarakirana sempat menjawab-

_Plak!_

Adikarsa bergerak cepat tamparan keras mendarat di wajah Wulandari.

Kepala gadis itu terlempar ke samping. Semua orang terdiam.

Adikarsa berdiri di hadapan Wulandari. Tatapannya penuh kemarahan.

"Sudah kukatakan." Suaranya rendah. "Jangan berkata sembarangan tentang luka itu."

Wulandari menatap Adikarsa dengan mata berkaca, pipinya merah bekas tamparan tangan Adikarsa.

Namun Adikarsa belum selesai dengan kemarahannya. Mendadak tangan kekar Adikarsa mencengkeram rambut Wulandari dan menarik kepalanya ke belakang.

Wulandari meringis kesakitan.

Adikarsa menatapnya tajam.

Bersamaan dengan itu Danang datang dari antara pepohonan. Di belakangnya Jayantara, Satria, dan Mahesa menyusul.

Mereka berhenti dan mematung seribu kata melihat keadaan di hadapan mereka.

Adikarsa tampak tak peduli dengan siapapun yang hadir pada malam itu, matanya hanya terpusat pada wajah Wulandari yang mendongak paksa karena rambutnya di tarik secara kasar oleh Adikarsa.

"Aku tidak pernah menganggap luka itu sebagai sesuatu yang pantas untuk dijadikan bahan lelucon." Tatapan Adikarsa sangat tajam seakan ingin mencabik wajah cantik gadis di hadapannya. 

Wulandari tidak lagi tertawa, karena ia merasakan kepalanya terasa pedih oleh tarikan rambut yang semakin dipaksa oleh Adikarsa

Tarakiranapun memandang Adikarsa dalam diam.

Semua yang mengenal Adikarsa, malam itu tidak akan menyangka pemuda yang biasanya sopan dan lemah lembut akan menjadi marah sebesar itu.

Mahardika mengangkat alis.

Matanya tertuju pada Adikarsa yang masih mencengkeram rambut Wulandari. Sorot mata sahabatnya itu begitu penuh kemarahan hingga Mahardika hampir tidak mengenalinya.

Mahardika perlahan mendekati Adikarsa.  Menyentuh bahu pemuda itu, Adikarsa menoleh.Tangannya masih mencengkeram kuat rambut Wulandari, seakan pemuda itu sedang berpikir bersama emosi yang terus memuncak. 

Untuk beberapa saat keduanya saling menatap.

"Lepaskan dia." Mahardika berkata pelan,

Adikarsa masih diam.

Rahangnya mengeras.

Namun akhirnya tangannya perlahan terlepas dari rambut Wulandari.

Kemudian pandangan Adikarsa beralih kepada Tarakirana. Gadis itu tetap berdiri tenang memperhatikan, ketika akhirnya Adikarsa memilih berjalan menuju Tarakirana dan berdiri disampingnya, seakan mengatakan pada Wulandari bahwa ia memilih Tarakirana. Gadis yang memakai Seragam pasukan Selendang Merah dengan kain merah yang bergerak perlahan tertiup angin.

Suasana hening

Mereka semua saling berpandangan. Mereka saling mengenali namun situasi canggung ini benar-benar membingungkan 


Pasukan Selendang Merah, yang kini sedang menawan Wulandari , Cempaka dan seorang pria. 

Disisi lain.  Danang, jayantara, Mahesa dan Satria mengenali Pasukan yang berdiri itu adalah pasukan yang datang membantu ketika Kuil Watu Kendil diserang.

Pasukan berselendang merah yang muncul tiba-tiba di tengah kekacauan perang, lalu menghilang sebelum mereka sempat mengetahui siapa sebenarnya yang memimpin mereka.

Dan kini mereka mendapati Tarakirana berdiri tenang dengan seragam pasukan itu.  Meskipun mereka tidak memahami sepenuhnya, mereka memilih untuk diam dan tidak bertindak gegabah. 

Agar situasi tidak semakin canggung, Tarakirana memilih mendekati Wulandari kembali

Ia memperhatikan wajah cantik gadis itu dari dekat. Tidak ada lagi senyum di wajah Wulandari.  Hanya tatapan Wulandari kecemburuan yang dingin dan penuh kemarahan.

Tarakirana kemudian menunduk sedikit dan berbisik,

"Kenapa kalian mengkhianati kami?" Tanya Tarakirana namun Wulandari tidak menjawab.

Cempaka mengangkat wajahnya, untuk melihat apa yang akan dilakukan Tarakirana kepada Wulandari. 

Tarakirana mendekat kembali ke telinga Wulandari. Suaranya begitu pelan hingga hanya gadis itu yang dapat mendengarnya.

"Aku tahu kau adalah murid kesayangan Jatiwangsa." Ucapan lirih Tarakirana berhasil membuat Mata Wulandari perlahan membesar.


Tarakirana melanjutkan dengan tenang.

"Selain cantik, kau juga pintar." Ia berhenti sejenak. "Dan Jatiwangsa menyukai gadis seperti dirimu." Mendengar bisikan Tarakirana, Wajah Wulandari seketika berubah.

Untuk kesekian kalinya, wajah cantik Wulandari dipenuhi emosi. Ia menatap Tarakirana dengan mata membesar. Tidak disangkanya gadis itu mengetahui begitu banyak tentang dirinya.

Tarakirana kemudian melirik ke arah Adikarsa. "Dan tentang Adikarsa.. " Senyum tipis muncul di wajah Tarakirana. "Aku menang satu langkah darimu."

Lihat selengkapnya