Adikarsa terus berjalan mengikuti jejak mereka.
Suara aliran sungai akhirnya terdengar di antara pepohonan. Ia memperlambat langkah.
Di kejauhan, dua sosok terlihat duduk di tepi sungai, di sebuah batang pohon yang rebah.
Mahardika dan Tarakirana.
Mereka duduk begitu dekat.
Adikarsa berhenti di balik sebuah pohon. Ia tidak ingin mengganggu, namun matanya tetap tertuju pada keduanya.
Mahardika menundukkan wajahnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.
Tarakirana kemudian mengangkat tangannya. Telapak tangan Tarakirana menyentuh kepala Mahardika.
Perlahan, ia meletakkan kepala pemuda itu di pundaknya. Tangannya mulai mengelus rambut Mahardika dengan lembut.
Gerakan yang begitu akrab.
Begitu penuh kasih.
Adikarsa membeku melihat kedekatan mereka, jari-jarinya perlahan mengepal tanpa disengaja.
Rahangnya mengeras, Adikarsa mencoba mengendalikan emosinya.
_"Tenang"_. Bisik Adikarsa kepada dirinya sendiri, Ia menarik napas dalam-dalam.
Namun pemandangan di hadapannya justru membuat dadanya semakin sesak.
Adikarsa tahu Mahardika hanya menganggap Tarakirana sebagai seorang kakak. Ia juga tahu Tarakirana tidak sedang melakukan sesuatu yang salah.
Tetapi mengetahui semuanya kenyataan itu, tidak membuat rasa cemburu Adikarsa menghilang. Adikarsa tetap berdiri di balik pohon.
Tidak bergerak.
Tidak pula pergi.
Hanya menatap diam, sembari berusaha keras agar emosinya tidak meledak.
***
Aliran air bergerak perlahan di hadapan mereka, membawa dedaunan kecil yang jatuh dari pepohonan.
Tarakirana tidak bertanya apa pun. Ia hanya duduk di samping Mahardika
Untuk beberapa saat, pemuda itu berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Hingga akhirnya pertahanannya runtuh.
“Aku tidak mengerti…” suaranya bergetar. “Kenapa dia memilih orang lain?” Tarakirana tetap diam, mendengar suara kepedihan Mahardika.
“Setelah semua yang kami lakukan…” Mahardika menarik napas panjang, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku pikir… setidaknya dia akan memilihku.” Air mata Mahardika jatuh dari sudut matanya.
Mahardika segera mengusap wajahnya, seolah malu jika seseorang melihat kelemahannya.
Tetapi Tarakirana tetap tidak mengatakan apa-apa. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Mahardika menangis.
Jemarinya menyentuh kepala Mahardika dengan lembut.
Gerakan yang sama.
Persis seperti tahun- tahun yang lalu. Saat Mahardika masih jauh lebih muda.
Ibunya baru saja pergi meninggalkan negeri itu untuk menjadi selir di kerajaan sahabat.
Mahardika tidak memahami mengapa orang yang paling ia cintai harus pergi. Ia hanya tahu bahwa rumahnya terasa begitu kosong dan sepi.
Hari itu Mahardika kecil datang kepada Tarakirana dengan mata sembab.
Tidak banyak bicara.
Hanya menangis.
Tarakirana pun tidak pernah memaksanya untuk berhenti.
Ia hanya membiarkan Mahardika menangis di sisinya.
Tangan Tarakirana yang kecil kala itu juga mengelus rambut pemuda itu perlahan. Tidak ada kata-kata penyemangat.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hanya keheningan.
Namun keheningan itu cukup.
Sampai akhirnya tangis Mahardika berhenti dengan sendirinya.
Tahun-tahun telah berlalu.
Dan sekarang, ketika hatinya kembali terasa hancur, tanpa sadar Mahardika kembali kepada orang yang sama.
Tarakirana.
Tempat yang entah bagaimana selalu membuat rasa sakitnya sedikit lebih ringan.
Tangis pemuda itu pecah di balik pohon tidak jauh dari mereka, Adikarsa berdiri terpaku. Tangannya masih mengepal.
Namun kali ini ia tidak lagi merasa marah. Ia melihat bahu Mahardika bergetar
Melihat tangan Tarakirana yang terus mengelus rambut Mahardika.
Mahardika hanya sedang menjadi seorang adik yang kembali ketika hatinya terluka.
Adikarsa menghela napas panjang. Rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.
Tetapi setidaknya kini ia tahu alasan di balik kedekatan itu.
Adikarsa hanya menunggu.
Ia tetap berdiri di tempatnya, membiarkan keduanya menyelesaikan percakapan tanpa berniat mengganggu.
Beberapa saat kemudian, Mahardika dan Tarakirana akhirnya bangkit dari batang pohon yang tumbang tempat mereka duduk.
Mahardika dan Tarakirana berbalik hendak meninggalkan tepian sungai itu,
Namun Langkahnya terhenti.
Ketika Tatapan mereka bertemu dengan mata Adikarsa yang keluar dari balik pohon.