Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #30

Ruang Tanpa Rasa Aman

Pagi kembali hadir.

Seperti sebuah janji yang tak pernah di ingkari. Bagaimanapun malam mencoba memperpanjang gelapnya, pagi selalu datang pada waktunya.

Mungkin beberapa manusia lebih menyukai malam. Namun semburat cahaya pagi selalu setia menyusup di antara gelap, perlahan mengusir bayang-bayang gelap yang tersisa.

Matahari masih bersinar lembut, ketika Cempaka perlahan membuka mata.

Pandangannya masih kabur. Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh tenaganya tertinggal bersama malam yang baru saja berlalu.

Tetapi matanya masih mampu mengenali seseorang yang duduk di sampingnya. Seorang pria bernama Bratawijaya.

Pemuda berambut gelombang sebahu itu tampaknya telah tertidur di sisi Cempaka. Kepalanya tersandar diatas kedua lengan yang tertangkup di atas ranjang, 

Matanya tertutup tenang sementara wajahnya masih menyimpan sisa kekhawatiran yang mungkin telah menemaninya sepanjang malam.

Cempaka menatap pria itu beberapa saat. Bratawijaya belum menyadari bahwa gadis itu telah membuka mata.

Cempaka mencoba mengulurkan tangan, lalu menyentuh tangan Bratawijaya. Gadis itu berusaha membangunkan pemuda tersebut, tetapi entah mengapa tubuhnya seakan kehilangan seluruh tenaga.

Cempaka mencoba menggerakkan tangannya sekali lagi. Namun hanya sedikit gerakan yang mampu dilakukannya.

Napasnya terdengar lemah. Kelopak matanya pun terasa begitu berat. Hingga akhirnya, gerakan kecil itu membuat kepala Bratawijaya terangkat.

Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, pemuda itu hanya terdiam. Ada percikan haru, bahagia, sekaligus keterkejutan yang jelas terpancar dari wajahnya.

Cempaka telah siuman.

Sesuatu yang hampir tidak lagi berani ia harapkan.

Sebab tabib telah mengatakan bahwa kemungkinan gadis itu untuk bertahan hidup sangatlah kecil.

Bratawijaya bergerak cepat meninggalkan ruangan untuk menemui tabib dan mengabarkan bahwa Cempaka telah sadar.

Kini hanya kesunyian yang tersisa, sejak Bratawijaya meninggalkan kamar itu. 

Cempaka menatap langit-langit ruangan. Untuk beberapa saat, semuanya terasa tenang.

Terlalu tenang.

Lalu 

Tiba-tiba suara itu datang kembali.

Suara anak panah yang melesat.

Teriakan para prajurit.

Dentang senjata.

Tubuh Cempaka mendadak menegang.

Napasnya menjadi pendek.

Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, tetapi dadanya justru terasa semakin sesak.

Tangannya mencengkeram kain tempat tidur.


_"Tidak."_ Cempaka mencoba menjerit namun tenggorokannya terasa cekat

_"Bukan di sini."_ batinnya menjerit _"Aku sudah selamat."_ Namun pikiran Cempaka tidak mau mempercayainya.

Dalam ingatannya, ia kembali melihat wajah-wajah prajurit elit Jatiwangsa.

Mereka bukan orang asing.

Itulah yang paling menakutkan.

Cempaka mengenal mereka.

Pernah mempercayai mereka.

Pernah merasa aman ketika berada di dekat mereka.

Namun malam itu, orang-orang yang sama datang membawa senjata untuk membunuhnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kenapa...?"

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Mengapa mereka ingin membunuhnya?

Apa yang telah ia lakukan?

Selama ini ia mengira dirinya berada di pihak yang benar. Ia percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang dapat melindunginya.

Airmatanya mengalir tak terbendung, membuatnya dadanya terasa pedih. 

Suara isak tangisnya mulai terdengar.  Cempaka menoleh ke arah pintu.

_Kosong._

Namun pikirannya mulai membayangkan seseorang berdiri di baliknya.

Tangannya gemetar.

Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, seolah kain tipis itu mampu melindunginya dari pedang dan anak panah.


Kemudian terdengar langkah kaki dari kejauhan.

Cempaka tersentak.

Napasnya tercekat.

Matanya terpaku pada pintu.

Airmatanya mengalir semakin deras

Ketika 

Langkah-langlah itu semakin dekat.


Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan.

"Mereka..." Bibirnya bergetar."Mereka datang lagi ?."

Tubuhnya berusaha bergerak menjauh dari pintu, tetapi tenaganya belum pulih. Ia hanya mampu bergeser sedikit sebelum tubuhnya kembali terkulai.

Lihat selengkapnya