Pertarungan di medan perang bukanlah sebuah permainan. Di medan perang yang sesungguhnya, tidak ada belas kasihan. Tidak ada kesempatan untuk mengulang kesalahan.
Yang terlambat mengangkat pedang akan mati. Yang kehilangan keberanian akan diinjak. Dan mereka yang jatuh, belum tentu sempat bangkit kembali.
Teriakan para prajurit bercampur dengan dentang senjata dan derap kaki yang menghantam tanah kering berbatu. Darah mengalir disela-sela bebatuan
Mahardika berdiri di tengah kekacauan itu. Di tangan kirinya menggenggam sebuah panji yang berkibar liar diterpa angin.
Tiangnya telah beberapa kali dihantam senjata. Kainnya robek di beberapa bagian dan ujungnya telah berlumuran darah.
Namun panji itu masih berdiri.
Dan selama panji itu berdiri, pasukan mereka masih memiliki sesuatu untuk dipertahankan.
"Jangan patah semangat selama panji ini masih tegak ditanganku!" Teriakan Mahardika menggema.
Ia mencoba membakar semangat pasukannya, Suara teriakan Mahardika menggema menembus denting senjata,
Tak jauh dari sana jendral Wirabhumi mendengar teriakan itu, ia menghentikan kudanya, mencari sumber suara,
Ia melihat
Seorang pemuda berdiri di tengah kekacauan sambil menggenggam panji yang hampir koyak.
Setiap kali Mahardika bergerak, prajurit di sekitarnya ikut bergerak.
Seolah-olah seluruh kelompok itu bergerak mengikuti satu irama yang sama.
Seorang prajurit musuh menerjang dari samping Mahardika, ia harus memutar tubuhnya, untuk menghindar
Pedang mereka beradu keras.
_Trang!_
Serangan pertama berhasil ditahan.
Namun.
Serangan kedua hampir mengenai lehernya.
Mahardika menunduk.
Ujung pedang melintas begitu dekat di atas kepalanya.
Mahardika membalas dengan tebasan keras yang membuat lawannya terhuyung.
Namun sebelum Mahardika sempat mengejar, dua prajurit lain sudah datang dari belakang.
"Mahardika!" Adikarsa berteriak sambil datang menerjang.
Pedang Adikarsa menghantam senjata salah satu prajurit hingga terlempar. Prajurit kedua mencoba menikam Mahardika dari belakang.
Adikarsa memutar tubuh dan menahan serangan itu. Ujung pedang menggores lengan Adikarsa, Darah segar segera mengalir.
"Adikarsa!" Mahardika datang membantu dengan menusuk lawan dengan pedang.
"Aku tidak apa-apa!" Ucap Adikarsa sambil menendang lawannya hingga terjatuh.
Namun pertempuran bukanlah melawan 5 orang lalu bisa beristirahat, jumlah musuh bisa datang tanpa mampu di perhitungkan.
Satu demi satu prajurit musuh terus menerobos. Mahardika menggenggam tiang panji semakin erat.
"Kau jangan lepaskan itu!" Adikarsa berteriak.
"Aku tahu!" Balas Mahardika dengan teriakan
"Aku akan melindungimu. " Ucap Adikarsa sambil mendekat kearah Mahardika.
Mahardika mengangkat pedangnya.
"Selama panji ini berdiri, mereka akan tahu kita masih bertahan!"
Selesai ucapan itu.
Tiba-tiba Sebuah tombak melesat. Adikarsa melihatnya lebih dahulu.
"Mahardika!" Adikarsa mendorong sahabatnya dengan tendangan kuat sehingga Mahardika harus mengimbangi gerakannya agar tidak terjungkal.
Tombak itu melintas di antara mereka dan menghantam tanah.
Belum sempat mereka bernapas, tiga prajurit kembali menyerbu.
Adikarsa berdiri di depan Mahardika.
Pedangnya bergerak cepat.
Satu serangan ditangkis.
Serangan kedua berhasil dihindari.
Serangan ketiga menghantam bahunya.
Adikarsa terhuyung.
Mahardika hendak membantu, tetapi ia tidak dapat meninggalkan panji.
Ia menatap kain yang berkibar di atas kepalanya.
Lalu menatap pasukannya.
Beberapa prajurit telah jatuh.
Beberapa lainnya mulai mundur.
Namun ketika mereka melihat panji itu masih berdiri, mereka kembali mengangkat senjata.
Adikarsa berdiri kembali meskipun darah mengalir dari bahunya. Adikarsa kembali mengangkat pedangnya.
Di tengah terik matahari , tanah kering berbatu, darah yang mengalir membuat tanah kering berubah merah dan sedikit basah, langkah kaki prajurit mengaduk darah dan tanah, jeritan manusia yang terluka, yang merenggangkan nyawanya di medan perang, suasana yang sungguh menyeramkan, diantara itu beberapa sahabat masih terus bertarung berdampingan, saling melindungi sambil berharap perang usai dan kembali dengan nafas.
Mahardika menggenggam erat bendera panji, sambil terus melawan musuh yang mengharapkan kematiannya.
Adikarsa mempertahankan Mahardika. Dan di antara keduanya, panji yang telah robek itu terus berkibar.
Danang dan Jayantara juga bertarung tidak jauh dari mereka.
Ketika tanpa diduga seorang prajurit musuh menerobos dari sisi kanan. Pedangnya terangkat.
Jayantara terlambat menyadarinya.
"Jayantara!" Danang menerjang,
Namun sangat di sayangkan sekelebat Pedang musuh justru menebas tubuh Danang.
Danang terhuyung.
Jayantara menangkap tubuh sahabat nya sebelum jatuh ke tanah.