Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #32

Nama yang Tersisa Diingatan


Mahardika berusaha menenangkan Adikarsa yang masih menggenggam erat pedangnya. Napas pemuda itu memburu. Tatapannya masih dipenuhi amarah yang belum sepenuhnya padam.

"Perang sudah kita menangkan. Tidak perlu lagi membunuh." Teriak Mahardika sambil mencoba menarik tubuh Adikarsa menjauh dari para prajurit yang gugur terbaring diatas tanah.

"Di mana dia?" tanya Adikarsa di sela napasnya yang masih menggebu.

"Siapa?" Mahardika mendekat, nyaris berbisik di tengah riuh sorak kemenangan yang mengguncang medan perang.

"Tarakirana." Mahardika seakan tak percaya, setelah membunuh sekian banyak prajurit dan jenderal musuh, yang ada diingatan Adikarsa adalah Tarakirana.

Jari-jari Adikarsa semakin mengerat pada gagang pedangnya.

Mahardika menghela napas panjang. Ia baru menyadari satu hal- bahwa Adikarsa sempat kehilangan kendali atas dirinya sendiri, dan kini pemuda itu menyadari bahwa ia merindukan seseorang yang sangat ingin di lindungi nya.

"Sebelum pertempuran dimulai, aku melihatnya bersama pasukannya di perbukitan sana." Mahardika menunjuk ke arah timur, tempat bukit-bukit kecil berjajar di bawah langit yang mulai diselimuti debu perang.

Adikarsa mengikuti arah tangannya. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan berlari menuju seekor kuda yang berdiri tanpa tuan tidak jauh dari sana.

Perwira yang kebetulan berdiri dekat kuda itu sempat terkejut. Namun setelah menyaksikan sendiri bagaimana Adikarsa bertarung sepanjang siang, ia segera menjauh dari kuda itu.

Adikarsa menaiki kuda itu, tanpa ada rasa ragu, Tanpa menoleh kepada siapa pun, ia memacu kudanya menuju perbukitan timur.

Mahardika hanya bisa memandanginya pergi. Di tengah kemenangan yang baru saja mereka raih, Adikarsa tidak mencari penghormatan, tidak mencari kawan seperjuangan, bahkan tidak memedulikan luka-lukanya sendiri.

Ia hanya ingin bersama satu orang. Tarakirana.

Tubuhnya terasa pedih karena luka luka sayatan yang diterima, sesungguhnya tubuh Adikarsa ingin menyerah, tapi pemuda itu seolah tidak memedulikan apa pun.

Bahkan ketika ia kehilangan arah. Pikirannya masih kacau, dipenuhi sisa amarah dan hiruk-pikuk pertempuran yang belum sepenuhnya lenyap dari kepalanya.

Di sebuah persimpangan, ia menghentikan kudanya. Matanya menyapu perbukitan di hadapannya, berusaha memastikan bukit mana yang tadi ditunjukkan Mahardika.

Ia tak mampu menemukan arah yang harus ditempuh, sampai suara derap kuda terdengar dari ujung jalan.

Tubuh Adikarsa seketika menegang. Tangannya kembali menggenggam pedang. Naluri bertarungnya mengambil alih. Bahunya mengeras, tubuhnya bersiap menghadapi siapa pun yang datang.

Hingga akhirnya ia melihat warna merah. Sekelompok pasukan selendang merah muncul dari balik jalan, bergerak mendekatinya.

Dan di antara mereka-

Ada sosok yang sangat dirindukannya, Tarakirana.

Gadis itu menunggang kuda paling depan. Rambut panjangnya terikat rapi dengan pita merah, sementara selendang merah di lehernya berkibar diterpa angin.

Adikarsa hanya terdiam.

Melihat gadis ber selendang merah itu memacu kudanya dengan cepat kearahnya.

Entah mengapa, ada kelegaan yang tiba-tiba memenuhi dadanya, senyum merekah diwajah Adikarsa, menyadari

Gadis itu datang mencarinya.

Setelah pertarungan panjang yang melelahkan dan sayatan di kulit yang semakin terasa perih. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh.

Dunia mendadak terasa berat.

"Bertahanlah Adikarsa, aku ingin memeluknya.." Bisik hati pria itu.

Tetapi kelopak matanya terasa semakin sulit terbuka. Tubuhnya yang sejak tadi dipaksa bergerak mulai kehilangan tenaga. Lelah yang tertahan selama pertempuran datang sekaligus, menghantam tubuhnya tanpa ampun.

Adikarsa masih berusaha tetap tegak di atas kudanya. Ia masih ingin menunggu Tarakirana mendekat, ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar ada di hadapannya dan memeluknya dengan hangat.

Namun pandangannya mulai kabur, berulang kali Adikarsa mencoba mengusir rasa berat dimatanya dengan berkedip dan menggelengkan kepalanya.

Dari kejauhan, Tarakirana yang semakin dekat melompat turun dari kudanya. Dengan gerakan cepat, ia beralih ke kuda yang ditunggangi Adikarsa dan segera meraih tubuh pemuda itu sebelum kehilangan keseimbangan.

"Adikarsa..." suara Tarakirana terdengar agak panik. Tangan Adikarsa perlahan menyentuh jemari Tarakirana yang mengambil alih tali kekang kuda. Dan Kepala Adikarsa perlahan bersandar di bahu Tarakirana. Napasnya masih berat, tetapi matanya akhirnya terpejam.

Gadis itu membiarkan Adikarsa terkulai bersandar ditubuhnya.

Tarakirana memeluk tubuh Adikarsa erat, menahan agar pemuda itu tidak terjatuh dari pelana. Darah musuh masih memenuhi pakaian dan tubuh Adikarsa, tetapi Tarakirana tidak memedulikannya.


Ia mengambil kendali kuda dan mulai memacunya dengan tenang.

Tidak terlalu cepat.

Tidak pula terlalu lambat.

Hanya cukup untuk membawa Adikarsa pergi ke tempat yang lebih nyaman, tenda pasukan tempat terbaik bagi pria itu saat ini. 


Di belakang mereka, pasukan selendang merah mengikuti dalam keheningan, membiarkan pemimpin mereka membawa seorang prajurit yang akhirnya menyerah bukan kepada musuh- melainkan kepada kelelahan yang sejak tadi ia abaikan.


"Aku akan mengantar Adikarsa kembali ke tenda prajurit pasukan Jenderal Wirabhumi," kata Tarakirana sambil terus menahan tubuh Adikarsa yang jauh lebih besar darinya agar tidak terjatuh dari kuda.

"Tapi..." suara Ranti terdengar ragu. "Kita adalah pasukan yang belum diakui. Jika Mbakyu mengantarkan Kangmas sendiri, bukankah itu sama saja dengan menyerahkan diri?"

Anggara segera memajukan kudanya, berdiri tepat di hadapan kuda Tarakirana untuk mencegah gadis itu melaju.

Ada kecemasan jelas di matanya.

"Keselamatanmu lebih penting daripada hidup kami." tegas Anggara. 

Ucapan itu disusul anggukan anggota pasukan lainnya. Satu demi satu mereka mendekat, seolah sepakat untuk tidak membiarkan pemimpin mereka menghadapi bahaya seorang diri.

"Begitupun aku..." jawab Tarakirana pelan, seolah gadis itu takut membangunkan Adikarsa yang terkulai dalam pelukannya. "Aku tidak akan menyerah begitu mudah."

"Kalau begitu, kita masuk bersama." seseorang yang berada di belakang Tarakirana memberi ide. 

Tarakirana menoleh.

Anggara menatapnya tegas.

"tidak bisa bertindak ceroboh. Jika sesuatu terjadi padaku, apakah kau kira Mahardika akan diam saja?" tanya Tarakirana tegas kepada pasukannya. Tak ada yang menjawab, semua mengetahui kedekatan hubungan Tarakirana dan Mahardika. 

Tarakirana menatap anggota pasukannya satu per satu, seolah menunggu seseorang menjawab

Lalu

Anggara melirik Adikarsa yang masih tak sadarkan diri.

"Dan pemuda tampan ini..." ucap Anggara kemudian. "pria ini tidak akan diam saja, jika sesuatu terjadi padamu." Mendengar ucapan itu Tarakirana tersenyum tipis, 

Tak seorang pun menyangkal ucapan Anggara. Mencelakai Tarakirana berarti mencelakai jenderal Wirabhumi sendiri. 

"Meskipun begitu, jangan mudah percaya" Kata-kata Tarakirana terdengar tenang, tetapi tegas. Pasukannya pun terdiam."Sekarang ikutlah bersamaku sampai ke bukit sana."

Tarakirana mengeratkan lengannya di tubuh Adikarsa agar tidak tergelincir.

"Jika aku tidak juga keluar dari tempat itu sampai tengah malam, maka bertindaklah. Cari cara untuk menemuiku."

Tatapan Tarakirana mengeras.

Tidak ada lagi bantahan dari pasukannya.

Namun tetap saja 

Untuk beberapa saat, tak seorang pun bergerak.

Hingga Anggara menggeser kudanya ke samping. Anggota pasukan lainnya pun melakukan hal yang sama. Akhirnya mereka membuka jalan.

Lihat selengkapnya