Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #33

Janji diujung Pedang

Beberapa jenazah prajurit yang gugur dalam pertempuran dimakamkan di dekat medan perang. 

Namun, jenazah Danang dan Mahesa tidak ikut dikebumikan di sana. Keduanya akan diantar pulang ke desa mereka agar dapat dimakamkan oleh keluarga dan orang-orang yang mereka cintai.


Beberapa prajurit ditugaskan mengiringi perjalanan kedua jenazah prajurit yang gugur itu.

Dalam keheningan, Mahardika, Adikarsa, Satria, dan Jayantara berjalan mengiringi kereta gerobak yang mengantar jenazah Danang dan Mahesa hingga sampai di gerbang perkemahan prajurit.

Di gerbang itu , langkah mereka terhenti.

Kereta gerobak sederhana yang membawa jenazah Danang dan Mahesa terus bergerak meninggalkan perkemahan, perlahan menghilang di balik kabut pagi.

Tak seorang pun dari keempat sahabat itu berkata-kata. Mereka hanya berdiri memandangi kepergian kereta gerobak yang membawa tubuh kedua sahabatnya, seolah masih berharap mereka bisa ikut pergi bersama kereta itu 

Namun, perang belum berakhir.

Mahardika, Adikarsa, Satria, dan Jayantara masih harus tetap berada di perkemahan prajurit. Mereka menunggu perintah selanjutnya dari Jenderal Wirabhumi.

Juga perjalanan terakhir Danang dan Mahesa harus tetap berlanjut menuju desa tempat mereka berasal.


Mata Adikarsa menatap perbukitan di kejauhan-tempat ia terakhir kali bertemu dengan Tarakirana sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Adikarsa menghela napas panjang. Pertemuan itu seharusnya menjadi sesuatu yang ia ingat, seharusnya ia memeluk tubuh gadis yang dirindukannya itu. Namun, semuanya terasa sia-sia. Ia hanya mengingat samar sosok Tarakirana yang turun dari kudanya dan berlari menghampiri, Setelah itu, ingatannya lenyap begitu saja.


Adikarsa mengernyit kecil, berusaha memaksa ingatannya kembali.

Tidak ada apa-apa.

Keempat sahabat itu masih terdiam ketika seorang prajurit datang menghampiri mereka.

"Mahardika." Ucap prajurit tersebut dengan sopan namun tegas. 

Mahardika menoleh.

"Jenderal Wirabhumi memerintahkan kalian menghadap ke tendanya." Lanjut prajurit tersebut. 

Mahardika mengangguk tegas.

"Baik. Kami akan segera ke sana." Jawab Mahardika. 

Ia segera berbalik dan melangkah menuju tenda sang jenderal.

Adikarsa, Satria, dan Jayantara pun mengikuti di belakangnya.

Tak seorang pun tahu perintah apa yang akan mereka terima kali ini.


Sang Jenderal duduk bersama para perwiranya di dalam tenda.

Wajah-wajah mereka tampak penuh wibawa. Tatapan mata tajam, rahang tegas, dan garis-garis keras yang terukir di wajah mereka menjadi tanda bahwa para lelaki itu telah melewati banyak pertempuran.

Mereka telah melihat terlalu banyak kematian. Terlalu banyak kehilangan. Dan terlalu banyak luka untuk membuat perang terasa asing bagi mereka.


Ketika Mahardika memasuki tenda bersama Adikarsa, Satria, dan Jayantara, perhatian Jenderal Wirabhumi dan para perwiranya seketika tertuju kepada mereka.

Terutama kepada Adikarsa.

Mereka masih mengingat pemuda yang kemarin bertarung seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Gerakannya liar, cepat, dan tanpa keraguan ketika menebas musuh.

Namun, pemuda yang berdiri di hadapan mereka sekarang seolah orang yang berbeda.

Adikarsa berjalan tenang di sisi Mahardika. Tatapannya lembut, wajahnya tidak menunjukkan gejolak apa pun. Setiap gerakannya terukur dan terkendali.

Tidak ada amarah.

Tidak ada keganasan.

Tidak ada bayangan pemuda yang mereka lihat di medan perang kemarin.

Seolah-olah sosok Adikarsa yang mengerikan itu telah bersembunyi jauh di dalam dirinya, tertutup rapat oleh kelembutan pemuda yang sekarang berdiri di hadapan mereka.

Jenderal Wirabhumi mengernyit.

Tatapannya tidak beralih dari Adikarsa.

Ia telah melihat banyak prajurit kehilangan kendali di medan perang. Namun, belum pernah ia melihat seseorang berubah sedrastis ini setelah pertempuran berakhir.

Hari ini, ia seperti permukaan air yang tenang.

Lihat selengkapnya