Mahardika kembali menghilang ketika senja tiba.
Belakangan ini, hal itu semakin sering terjadi. Terkadang ia pergi sebelum jam makan malam, bahkan beberapa kali tempat duduk Mahardika di antara prajurit tetap kosong hingga hidangan yang disediakan telah dingin dan harus disingkirkan.
Hal itu membuat Adikarsa, Satria, dan Jayantara saling bertanya-tanya. Ke mana perginya Mahardika setelah senja.
Namun tubuh mereka terlalu lelah untuk memikirkan hal itu lebih jauh. Seharian mereka berlatih hingga nyaris tidak menyisakan tenaga. Begitu malam tiba,
Setelah makan malam Satria dan Jayantara masih bercanda di dalam tenda bersama Adikarsa. Mereka saling menghibur, menguatkan dan juga saling mengolok disaat-saat tertentu. Irama persahabatan yang hangat.
Hanya saja malam itu Adikarsa merasakan suatu kerinduan yang sangat dalam. Seperti malam malam biasanya, ketika rasa kerinduan itu hadir, Adikarsa memainkan serulingnya untuk menghibur dirinya sendiri dan juga para prajurit.
Malam itu Adikarsa memainkan melodi serulingnya di tengah perkemahan, bahkan Jenderal Wirabhumi pun ikut duduk di lapangan berumput itu untuk menikmati melodi seruling yang di mainkan Adikarsa.
Tak ada hal lain yang dapat dilakukan para prajurit selain memulihkan diri setelah pertarungan. Mereka harus mengumpulkan kembali tenaga, sebab medan perang berikutnya mungkin telah menunggu di balik fajar, atau bahkan akan datang sebentar lagi seperti pencuri yang tidak akan pernah memberitahu kapan ia akan datang.
Seperti biasanya, senja itu Mahardika melambai dengan senyum lebarnya, meninggalkan perkemahan dengan pedang selalu terikat di pinggangnya.
Adikarsa menghela napas panjang, menyadari telah beberapa malam Mahardika tidak tidur diranjangnya.
Mahardika terkadang baru kembali ketika malam telah jauh larut. Beberapa kali bahkan ia baru muncul ketika fajar mulai menyingsing ketika cahaya pertama matahari perlahan menyentuh perkemahan.
Adikarsa akhirnya bangkit, Ia melangkah keluar dari tenda dengan hati-hati, berusaha agar langkahnya tidak membangunkan Satria dan Jayantara, yang mulai mendengkur lirih seakan mereka sedang berbincang dalam tidur mereka.
Udara malam terasa dingin.
Langit hitam pekat terbentang di atasnya. Bulan tersembunyi di balik gumpalan awan, sementara bintang-bintang pun seakan enggan memperlihatkan diri.
Adikarsa berjalan semakin jauh dari perkemahan. Ia tidak tahu ke mana hendak pergi. Dalam hati kecilnya ada rasa cemburu dengan Mahardika yang seakan begitu mudah menemukan kesibukan lain diluar perkemahan prajurit.
Sementara Adikarsa hanya bisa sendiri bersama angin malam
Langkahnya membawanya ke sebuah sungai kecil yang mengalir tenang ke perkemahan prajurit yang menjadi sumber air bagi para prajurit.
Tak jauh dari sana, cahaya obor dari desa terdekat masih terlihat berkelip-kelip. Namun Adikarsa tidak berniat mendekati desa itu. Ia justru memilih sebuah pohon besar di tepi sungai.
Tanpa banyak berpikir, ia mulai memanjat. Dahan demi dahan dilewatinya hingga ia mencapai bagian tertinggi yang masih mampu menahan tubuhnya. Dari sana, suara di perkemahan prajurit nyaris tidak terdengar.
Suara air sungai gemericik.
Angin malam bertiup dalam kesunyian.
Adikarsa memilih duduk bersandar pada batang pohon yang paling aman.
Tangannya merogoh bagian dalam pakaiannya dan mengeluarkan sebuah seruling.
Ia menatap seruling pemberian bundanya beberapa saat.
Kemudian perlahan ia mengangkatnya ke bibir.
Nada pertama mengalun pelan.
Disusul nada berikutnya.
Melodi yang sederhana namun begitu lembut segera mengisi malam.
Adikarsa memainkan lagu yang telah lama dikenalnya.
Lagu yang mengingatkannya pada rumah, pada kehangatan keluarga, suara orang-orang yang ia cintai, dan malam yang terasa begitu damai.
Matanya perlahan terpejam.
Berusaha menyelami setiap melodi yang keluar dari seruling nya
Suara seruling itu mengalun terbawa angin malam. Nada-nadanya yang lembut menyusuri sungai, menembus pepohonan, hingga akhirnya terdengar samar-samar di perkemahan para prajurit.
Mereka semua tahu siapa pemain seruling itu, Hampir setiap malam, ketika latihan telah usai dan sebagian besar prajurit mulai terlelap, suara seruling itu akan terdengar dari kejauhan.
Terkadang lirih.
Terkadang panjang dan sendu.
Namun selalu membawa perasaan yang sulit dijelaskan.
Beberapa prajurit yang masih terjaga terdiam menikmati alunan seruling itu. Ada yang tersenyum kecil, ada pula yang hanya menatap langit malam tanpa berkata apa-apa.
Mereka tidak pernah tahu siapa yang dirindukan Adikarsa.
Tetapi dari cara pemuda itu memainkan serulingnya, seolah-olah setiap nada adalah sebuah pesan yang tidak mampu disampaikannya dengan kata-kata.
Seakan ia sedang berbicara kepada seseorang yang berada sangat jauh darinya.
Seseorang yang selalu ia rindukan setiap malam.
Wirabhumi juga menikmati suara seruling itu dalam diam, sambil berbaring di atas tempat tidurnya.
Alunan melodi seruling yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan itu entah mengapa mampu menenangkan hatinya. Untuk sesaat, hiruk-pikuk perang, wajah para prajurit yang gugur, dan segala beban yang dipikulnya sebagai seorang jenderal terasa menjauh.
Mungkin para prajurit pun merasakan hal yang sama.
Hingga
suara seruling itu berhenti.
Seperti malam-malam sebelumnya, semua mengira itulah akhir dari alunan merdu yang menemani mereka malam ini.
Namun diluar dugaan beberapa saat kemudian...
suara seruling kembali terdengar.
Kali ini berbeda.
Alunannya lebih cepat. Ritmenya lebih tegas, seolah-olah ada semangat yang tersembunyi di balik setiap tiupan. Bukan lagi melodi sendu yang sebelumnya mengalun dari tepi sungai.
Beberapa prajurit bahkan saling berpandangan dan kembali tersenyum
Mereka mengira Adikarsa memainkan lagu yang berbeda.
Tapi siapa yang menduga bahwa
Jauh dari sana, di atas sebuah pohon besar di tepi sungai, Adikarsa telah menurunkan serulingnya dari bibir.
Adikarsa sendiripun terdiam mendengarkan alunan melodi seruling yang lebih bertenaga dan penuh energi perjuangan itu.
Untuk beberapa saat ia hanya diam, seakan mencoba memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru.
Seseorang sedang memainkan seruling. Dengan melodi yang berbeda namun sangat akrab di telinga Adikarsa. Melodi itu bukan sekadar memainkan lagu. Seseorang sedang mencoba menjawabnya.
Adikarsa menatap ke arah kegelapan di balik pepohonan.
Adikarsa menuruni pohon besar dengan terburu-buru bahkan beberapa kali ia harus mematahkan dahan kecil dengan paksa. Agar kedua kakinya menyentuh tanah lebih cepat, ia seketika berlari mengikuti arah datangnya suara seruling itu, saat kakinya kembali merasakan tanah.
Ada harapan yang tumbuh di dalam dadanya. Harapan yang bahkan tidak berani ia ucapkan.
Ia mengenali melodi tersebut.
Ibunya sering memainkan lagu itu ketika ia masih kecil. Menurut ibunya, melodi itu adalah milik, Cendralekha,
"Ku mohon..Teruslah memainkan seruling itu...Jangan berhenti sebelum aku menemukanmu." Bisik hati Adikarsa sambil terus mencari sumber suara dan mempercepat langkahnya.
Suara seruling semakin jelas terdengar. Ia melewati pepohonan, mendaki jalan kecil menuju perbukitan, mengikuti setiap nada yang terbawa angin malam.
Hingga akhirnya-
Adikarsa melihatnya.
Sosok gadis duduk di atas sebuah batu besar di lereng perbukitan,
Selendang merah melingkar di lehernya, bergerak perlahan diterpa angin. Rambutnya yang terikat jadi satu bergoyang lembut ditiup angin. Sementara kedua tangannya masih menggenggam seruling.
"Tarakirana". Adikarsa kembali berbisik lirih tak percaya melihat sosok gadis yang di rindukannya dalam diam.
Senyum lebar perlahan muncul di wajahnya. langkah kakinya bergerak semakin cepat. Seolah jika ia berjalan terlalu lambat, sosok itu akan kembali menghilang di balik kegelapan.
Tarakirana masih memainkan serulingnya ketika ia menyadari kedatangan Adikarsa.
Tatapan mereka bertemu.
Namun melodi seruling itu belum berakhir.
Mungkin karena rasa rindu yang telah memuncak setelah terlalu lama disimpan dihatinya, Adikarsa tidak peduli pada akhir melodi tersebut.
kedua lengannya merengkuh tubuh Tarakirana dari samping. Pelukan itu menghentikan permainan seruling Tarakirana dengan paksa.
Tiupan serulingnya terputus di tengah melodi. Adikarsa hanya memperdulikan keinginannya untuk memeluk Tarakirana erat.
Pelukan Adikarsa malam itu terasa lebih erat dari malam-malam sebelumnya.
Seolah-olah pemuda itu takut, jika ia melepaskan pelukannya, Tarakirana akan kembali menghilang seperti bayangan yang selama ini hanya dapat ia temui dalam kerinduan.
Kini mereka hanya mampu tinggal dalam diam bersama hembusan angin malam.
Akhirnya, Adikarsa berbisik lirih.
"Apakah kita tidak bisa meninggalkan semua ini?" Ucapan Adikarsa lirih sementara lengannya semakin erat memeluk tubuh Tarakirana. "Kita pergi jauh dari perang ini. Hidup di tempat yang tenang... tanpa pedang, tanpa darah, tanpa harus takut kehilangan seseorang setiap hari."
Tidak ada jawaban dari gadis itu.
Tarakirana justru mengangkat wajahnya berusaha menatap Adikarsa, namun usahanya sia-sia, pemuda itu seakan mempererat lengannya setiap kali gadis itu bergerak.
"Apakah Bunda Sekararum adalah sahabat ibuku?" Pertanyaan Tarakirana membuat Adikarsa terhenyak diam dan juga membuat pelukan Adikarsa perlahan mengendur.
Ia menjauhkan tubuh Tarakirana perlahan, lalu menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Dari sorot matanya, Adikarsa menyadari pertanyaan itu bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan.
Adikarsa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Tarakirana. Membuatnya terdiam sejenak.
"Bolehkah.. aku melihat serulingmu.?" Pinta Tarakirana halus.
Adikarsa mengangguk sambil menyerahkan seruling yang sejak tadi berada dalam genggaman tangannya.
Tarakirana menerimanya dengan hati-hati.
"Dan juga bandul kalungmu." Suara lirih Tarakirana seakan perintah mutlak bagi Adikarsa.
Ia menuruti semua permintaan Tarakirana.
Adikarsa melepaskan bandul yang tergantung di lehernya dan menyerahkannya kepada Tarakirana.
Gadis itu kemudian melepaskan kalung dengan bandul yg sama dari lehernya.
Tarakirana meletakkan kedua seruling dan kedua kalung bandul tersebut berdampingan di atas batu.
Mereka terdiam.
Menatap
Seruling yang memiliki bentuk yang hampir sama.
Begitu pula kedua bandul burung layang-layang itu terlihat sama persis.
Mereka saling menatap, seakan sedang berusaha memahami sesuatu yang selama ini tersembunyi di antara kehidupan mereka. Melodi seruling yang diwariskan kepada anak-anak mereka pun seolah membawa jejak dari persahabatan tersebut.
Melodi Adikarsa mengalir dengan kelembutan yang mengingatkan pada rumah.
Sementara melodi Tarakirana hadir dengan ritme yang lebih tegas, berani, dan penuh semangat.
Ada ikatan disana yang telah terbentuk jauh sebelum Adikarsa dan Tarakirana saling mengenal. Ikatan yang tidak tercipta dari pertemuan mereka sendiri.
Seakan takdir sedang menyerahkan ujung benang itu kepada mereka. Kepada dua anak sulung dari dua sahabat yang kisah ceritanya tak pernah diketahui oleh anak-anak nya.
"Apakah kau memahami apa arti semua ini?" tanya Tarakirana.
Adikarsa hanya menggelengkan kepala. "Entahlah. Aku pun belum sepenuhnya mengerti."
Ia kemudian meraih seruling miliknya dan menyerahkan seruling yang lain kepada gadis itu.
"Kita coba memainkan melodi ini bersama," usul Adikarsa dengan senyum yang mulai mengembang.
"Hah?"
Tarakirana masih belum sepenuhnya memahami maksudnya.
"Aku akan memainkan melodiku terlebih dahulu. Lalu aku akan memberimu tanda ketika kau harus mulai memainkan melodimu. Setelah itu, kau memberiku tanda untuk kembali masuk. Begitu seterusnya sampai kita menyelesaikan melodi ini bersama."
Tarakirana menatap Adikarsa beberapa saat. " Baik.. Kita coba. " senyum lebar merekah di wajah Tarakirana.
Hampir saja ia tertawa kecil mendengar gagasan sederhana itu.
Adikarsa ikut tersenyum.
Entah mengapa, melihat senyum Tarakirana , dada Adikarsa terasa begitu ringan. Setelah malam-malam panjang yang dipenuhi kerinduan dan perang, senyum itu seakan menjadi hadiah yang tidak pernah ia sangka akan diterimanya malam itu.
Mereka pun bersiap.