Perkemahan para prajurit tidak pernah lepas dari suara logam yang berdenting.
Benturan demi benturan pedang terus terdengar selama matahari masih bersinar. Keringat membasahi pakaian para prajurit yang tak henti-hentinya berlatih. Seakan dari latihan itulah mereka bisa memastikan diri tetap hidup ketika perang benar-benar datang.
Senyum lebar segera terlihat di wajah mereka ketika gendang makan siang dibunyikan.
Latihan pun terhenti.
Para prajurit bergegas menikmati makan siang sebelum kembali ke tempat latihan, hingga matahari perlahan turun dan senja kembali menyelimuti perkemahan.
Mahardika sedang menyusun kembali senjata latihannya ketika Adikarsa menghampirinya.
“Kau akan berkencan lagi malam ini?” tanya Adikarsa.
Mahardika menoleh, lalu tertawa.
“Bukan berkencan. Aku hanya sedang menikmati hidup,” jawabnya santai.
“Kenapa?” Mahardika balik bertanya. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan penuh curiga. “Atau jangan-jangan kau mulai tertarik pada gadis-gadis di sana?”
Adikarsa melempar kain yang baru saja digunakannya untuk membersihkan keringat, ke tubuh Mahardika.
“Aku tidak seperti kamu.” ucap Adikarsa kesal.
Mahardika menangkap kain itu sambil tertawa dan tanpa merasa terganggu, menggunakannya untuk mengelap keringat di lehernya.
Namun sesaat kemudian ia berhenti. Ada aroma herbal yang samar pada kain itu.
Mahardika mengangkat kain tersebut sedikit, lalu mengendusnya.
“Apakah kau selalu seharum ini, Adikarsa?” ujar Mahardika sambil terus mengendus kain pengelap keringat Adikarsa
Adikarsa yang baru hendak pergi langsung berhenti. Ia tak percaya melihat Mahardika yang mengendus kain penggelapan keringat miliknya
“Ada aroma herbal.” Mahardika kembali mencium kain itu. “agak samar, tapi masih bisa tercium harum"
Adikarsa segera merampas kain itu dari tangan Mahardika.
“Kau benar-benar menjijikkan.” Adikarsa berbalik, menjauh dan mulai meninggalkan Mahardika.
“Hei!” Mahardika mengejarnya beberapa langkah.
“Berikan wewangian herbal itu padaku!”Pinta Mahardika membuat Adikarsa menoleh dan menatapnya tajam.
Mahardika masih tersenyum. "Aku juga ingin tercium harum seperti itu." Pemuda berwajah manis itu mengusap tengkuknya, sikapnya yang serba salah itu membuat wajah Mahardika memiliki pesona yang lembut namun kuat.
Adikarsa menatap Mahardika beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Boleh."Jawab Adikarsa singkat, "Tapi...Bantu Aku mendapat informasi tentang aktifitas Tarakirana di desa Warun. " Lanjutnya. "Tak ada barang gratis di dunia ini."
Mahardika tersenyum mendengar negosiasi transaksi Adikarsa. " Dasar saudagar" Jawab Mahardika dengan senyum lebarnya. “Tapi berikan aku wewangian herbal yang sama seperti itu.”
Adikarsa juga tertawa.
“Kau tidak pernah cukup sabar untuk menunggu.” Ia melemparkan sebuah kantong kecil yang terselip diikat pinggangnya.
Mahardika menangkapnya dengan wajah bahagia. Ia mengendus kantong wewangian herbal itu sebelum menyematkannya di ikat pinggangnya sendiri.
“Kesepakatan yang bagus.” Mahardika tersenyum puas.
Setelah makan malam dihidangkan, Adikarsa untuk pertama kalinya berjalan bersama Mahardika menuju Desa Warun, desa yang letaknya paling dekat dengan perkemahan mereka.
Malam telah turun ketika mereka memasuki desa. Cahaya lampu minyak tampak berpendar dari rumah-rumah penduduk, sementara suara percakapan dan tawa terdengar dari beberapa kedai yang masih ramai.
Langkah Adikarsa terhenti ketika mereka tiba di depan sebuah rumah hiburan.
Ia memandang bangunan itu beberapa saat. Ada sedikit keraguan di wajahnya.
“Tenang saja,” kata Mahardika sambil tertawa kecil. “Gadis-gadis itu tidak akan memakanmu hidup-hidup.”
Adikarsa meliriknya tajam.
“Aku tidak takut pada gadis-gadis itu.” jawab Adikarsa ketus
“tapi wajahmu memperlihatkan begitu. " Mahardika tertawa puas melihat Adikarsa mendengus kesal.
Adikarsa tidak menjawab. Ia hanya menghela napas kesal sebelum akhirnya mengikuti Mahardika memasuki halaman rumah hiburan tersebut.
Kehadiran mereka segera disambut oleh pemilik rumah hiburan. Lelaki itu tersenyum ramah sambil membawa sebuah kendi tuak.
“Selamat datang, Tuan Tuan prajurit. .” terlihat sekali pemilik rumah hiburan itu terbiasa bermulut manis melayani para tamunya.
Ia menuangkan tuak ke dalam dua cangkir kecil yang telah disiapkan di hadapan mereka.
Kemudian ia membungkuk sedikit dan berbisik kepada Mahardika.
“Gadis pilihan Tuan sudah siap.” Mata pemilik rumah hiburan itu menunjuk ke arah seorang gadis belia yang sedang duduk di sudut ruangan.
Mahardika tersenyum puas."kerja bagus. "
"Gadis itu special hanya buat Tuan. " Ucapan manis kembali keluar dari mulut pria itu. "Aku menjaganya dengan baik. " Ada kerlingan penuh arti dari mata Pria itu, membuat Adikarsa tiba-tiba merinding.
Setelah berhasil membuat Mahardika mengangguk senang kemudian pria pemilik rumah hiburan itu mengalihkan pandangannya kepada Adikarsa.
“Apakah Tuan juga menginginkan seorang gadis special?” pertanyaan tak terduga itu membuat Kening Adikarsa berkerut menandakan ia tidak menyukai pertanyaan itu.
Tatapan Adikarsa menjadi dingin menunjukkan bahwa ia tidak menyukai pria pemilik rumah hiburan itu.
Melihat reaksi sahabatnya, Mahardika justru tertawa kecil.
“Dia tidak suka perempuan.” Gurau Mahardika namun berhasil membuat Pemilik rumah hiburan itu terdiam.
Tapi tawa Mahardika justru semakin keras, hingga beberapa pengunjung melihat kearah mereka.
Matanya berpindah dari Mahardika kepada Adikarsa, seakan pria itu ingin memastikan bahwa informasi itu tidak benar.
Adikarsa sendiri menatap Mahardika dengan wajah tidak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka sahabatnya akan menjawab sembarangan seperti itu.
“kau selalu menjawab dengan sembarangan,” gerutu Adikarsa, dengan ekspresi wajah yang putus asa.
Mahardika tetap tertawa, senyumnya semakin lebar. Ia kemudian menarik pemilik rumah hiburan itu dan memaksanya duduk bersama.
“Duduklah.” Mahardika membuat pria itu duduk tepat di hadapan Adikarsa
Meski badannya menurut , sudut mata pria itu masih melirik Adikarsa, dengan was-was seolah memastikan ia akan baik baik saja.
“Hahahaha!” Tawa Mahardika kembali meledak. Melihat betapa canggung nya situasi saat itu.
“Dia hanya ingin mengetahui tentang Gadis Selendang Merah yang begitu kalian banggakan.” kalimat Mahardika kali ini, membuat pria pemilik rumah hiburan itu bernafas lega.
Tubuhnya menjadi lebih rilek
Senyum pemilik rumah hiburan itu telah kembali meskipun tidak seperti awal bertemu.
“Ahh... begitu rupanya.” Ia mengusap dagunya sebentar sebelum mengangguk.
“Baiklah. Kalau itu yang Tuan inginkan, aku akan menceritakan semuanya.”
Mendengar ucapan manis pemilik rumah hiburan itu, senyum Mahardika melebar. Mahardika mengeluarkan beberapa keping koin dari sakunya dan meletakkannya di tangan pemilik rumah hiburan.
“layani Sahabatku dengan baik.. buatlah ia bahagia.” Mahardika kembali menggoda Adikarsa dengan kedipan nakalnya.
“Mahardika...” bentak Adikarsa kesal sambil menatapnya tajam.
Namun Mahardika sudah tak peduli ia berdiri, sambil tertawa kecil ia berjalan santai menuju salah satu bilik yang memang disediakan untuk nya.
Tak lama kemudian, gadis muda yang kemarin malam dilihat oleh Adikarsa, gadis yang sama yang menyerahkan baju kepada Mahardika mengikuti pemuda itu masuk ke bilik.
Adikarsa masih memperhatikan mereka. Sesaat sebelum pintu bilik ditutup, gadis itu menoleh.
Tatapan matanya bertemu dengan mata Adikarsa.
Hanya sekejap.
Kemudian pintu bilik itu tertutup rapat.
Adikarsa tetap diam di tempatnya.
sesaat berlalu, hingga Adikarsa mengalihkan pandangan kepada pemilik rumah hiburan yang masih duduk di hadapannya.
Kini, ia benar-benar harus mendapatkan jawaban tentang Tarakirana.
“Apa yang dilakukan gadis Selendang Merah?” tanya Adikarsa sambil meneguk tuaknya perlahan.
“Gadis Selendang Merah membebaskan tujuh gadis yang ditawan para prajurit.” jawab pria itu cepat.
Mata Adikarsa menyipit.
Ia meletakkan cangkirnya, lalu mendengarkan dengan lebih cermat.
“Tiga gadis berasal dari desa ini. Salah satunya adalah putri kepala desa. Dua gadis lainnya dari Desa Tirta, dan dua lagi dari Desa Salam.”
Terlihat wajah Pemilik rumah hiburan itu tersenyum kagum saat bercerita tentang Tarakirana.