Tenda Jenderal Wirabhumi dipenuhi empat perwira.
Tiga senopati berdiri mengelilingi meja peta, sementara Mahardika, sebagai calon senopati, berada di antara mereka. Adikarsa duduk di sisi meja karena dipanggil khusus setelah menjadi salah satu penentu kemenangan dalam pertempuran terakhir.
Mereka sedang menyusun strategi berikutnya.
"Mahardika dan pasukannya akan menjadi ujung tombak," kata Wirabhumi sambil menunjuk bagian depan formasi pada peta. "Sebagai sucimukha."
Jenderal itu kemudian menatap para perwira.
"Berapa lama persediaan kita dapat bertahan?" Tanya Jenderal Wirabhumi
"Sekitar dua sampai tiga pekan, Jenderal." Jawab salahsatu Perwiranya
Wirabhumi mengangguk.
"Kalau begitu, kita masih memiliki satu pekan setelah malam ini kita harus menyerang." suara berwibawa Jenderal Wirabhumi membuat aura sekitar tenda itu berubah.
"Kumpulkan seluruh informasi tentang posisi dan kekuatan musuh." Para perwira mulai bersiap meninggalkan tenda
tapi sebelum mereka berbalik.
suara Adikarsa menghentikan langkah mereka.
"Mengingat akan bahaya mata-mata," suaranya lembut kalimatnya tenang, "lebih baik kita menyiapkan rencana palsu." Aura yang diberikan Adikarsa berbeda, pemuda itu lebih terasa sebagai pemuda terpelajar yang lebih mengutamakan cara berpikirnya.
Semua yang hadir menoleh kepadanya, suara lembut dan tenangnya seakan berasal dari Adikarsa yang berbeda bukan Adikarsa yang brutal di medan perang , yang mmbunuh tanpa henti.
Adikarsa seolah tak mempedulikan tatapan para perwira dan jenderal Wirabhumi, pemudaa itu memilih melanjutkan kalimatnya.
"Biarkan musuh mengetahui rencana yang kita inginkan untuk mereka ketahui."
"Hmm... apa rencanamu?" tanya Jenderal Wirabhumi ingin tahu jalan pemikiran pemuda itu.
Adikarsa menatap peta di atas meja.
"Sebarkan kabar bahwa kita akan menyerang dua hari lagi. Setelah itu, berikan perintah palsu bahwa serangan ditunda dan baru akan dilakukan pada hari ketiga."
Adikarsa mengungkapkan rencananya dengan lebih gamblang.
"Setelah itu, sebarkan lagi informasi yang berbeda. Buat mata-mata musuh menerima begitu banyak rencana hingga mereka tidak tahu mana yang benar."
Para perwira mulai memperhatikan dengan lebih serius.
"Dan buat seolah-olah penyerangan malam tadi berhasil menghancurkan sebagian besar persediaan kita," lanjut Adikarsa. "Biarkan mereka percaya bahwa kita hanya mampu bertahan selama satu minggu."
Jenderal Wirabhumi tersenyum.
"Rencana yang bagus." Wirabhumi tertawa kecil lalu menatap Mahardika dan Adikarsa bersaamaan
"Baiklah Adikarsa,,, aku mempercayakanmu menyusun strategi ini bersama Mahardika. Sebarkan berita palsu yang cukup meyakinkan untuk mengecoh mata-mata mereka."
Mahardika mengangguk.
Adikarsa pun menatap kembali peta di hadapannya.
"Jika musuh ingin bermain dengan informasi, maka aku akan membuat musuh tersesat di dalamnya". begitulah isi pemikiran Adikarsa.
***
Mahardika, Adikarsa, Satria, dan Jayantara telah berjam-jam menyusun berbagai kemungkinan untuk menyebarkan informasi palsu setiap hari.
Mereka baru berhenti ketika senja tiba.
"Beristirahatlah," kata Mahardika. "Tubuh kita juga membutuhkan sesuatu yang berbeda."
Ia menepuk bahu Jayantara, kemudian berdiri dan mengambil pedangnya.
"Kau akan keluar lagi?" tanya Satria. Adikarsa tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Aku hanya butuh penyegaran," jawab Mahardika sambil tertawa kecil.
Satria ikut berdiri. "Aku akan ke kolam mata air. Aku ingin mencari ikan."Satria meraih tombaknya sebelum meninggalkan tenda.