Untuk kesekian kalinya mata Adikarsa terbuka, beberapa kali Adikarsa mencoba mengerjapkan matanya berusaha mengenali ruangan bersuhu dingin ini.
Kepalanya semakin terasa berat.
Ia mencoba menarik tangannya, tetapi kedua tangannya terikat erat dengan tali kasar. Ia hanya mampu menggeliat kecil, berusaha mengurangi rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering, sementara rasa haus dan lapar perlahan semakin menguat.
Kakinya pun terikat menjadi satu pada sebuah tiang, sementara kedua lututnya diikat rapat, membuatnya hanya mampu berbaring telentang di atas ranjang yang dialasi dengan kasur jerami dan kain seadanya.
Adikarsa menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Adikarsa mengatur napas.
Ia mengedarkan pandangan, mencoba memahami tempat di mana ia berada.
Ruangan itu sederhana dan remang-remang. Dindingnya terbuat dari kayu, sementara cahaya tipis dari obor yang tergantung di dinding ruangan berusaha memberi bayangan cahaya yang meliuk.
Tidak ada suara perkemahan
Tidak ada suara para prajurit.
Bahkan suara jangkrik dan hewan hutan pun tak terdengar
Adikarsa tak mampu menebak dia berada dimana sekarang. ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Suara Seruling.
Gadis berselendang merah dengan rambut terurai.
Sosok yang menerjangnya.
Lalu tusuk kayu.
Tangannya kembali berusaha menarik ikatan di pergelangan.
Kali ini ia sadar.
Ia telah disekap.
Kemudian terdengar langkah kaki. ..Perlahan...
Suara derit pintu terbuka, sosok gadis berambut panjang terurai, muncul dari balik pintu yang terlihat terbuat dari kayu yang kokoh.
Wajahnya yang cantik tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menculik seorang prajurit.
Rambutnya terurai.
Ia memakai seragam pasukan seperti Tarakirana. Selendang merah melingkar di lehernya.
Adikarsa menatapnya tajam.
"Wulandari?" Adikarsa seakan tak percaya apa yang di lihatnya. "Kau menjebak ku. " pekik Adikarsa gera.
Perempuan itu tersenyum tipis.
Adikarsa mencoba melepaskan diri dari ikatannya ketika Wulandari semakin mendekat.
"Jangan mencoba melawan. Tali itu sudah kuperiksa berkali-kali." ucap Wulandari dengan senyuman manisnya.
"Lepaskan aku." bentak Adikarsa setengah berteriak.
"Tidak." jawab Wulandari lembut, gadis itu berlutut di hadapannya.
Tangan Wulandari menyentuh wajah Adikarsa, tetapi pemuda itu segera memalingkan kepala.
"Jangan sentuh aku." suara Adikarsa jelas sekali menyimpan kemarahan.
Senyum Wulandari menghilang mendengar teriakan amarah itu.
"Aku sudah kehilangan terlalu banyak hal." Wulandari mencoba menjelaskan keadaannya. "Dan aku selalu menginginkanmu. "
"Aku tidak peduli." Adikarsa masih tak mau melihat Wulandari.
"Kau akan peduli." desak Wulandari memaksa wajah Tampan Adikarsa melihatnya.
". Aku tahu bagaimana orang-orang melihatmu. Seorang Prajurit yang kuat, disiplin, Sahabat-Sahabat mu sedang mencarimu.. Kau yang selalu berdiri di depan ketika perang datang. Dan yang bisa di andalkan" Ia berhenti menarik nafas panjang.
"Tapi kini kau disini bersamaku. " Wulandari mencoba mengelus wajah Adikarsa lembut, namun sentuhan itu justru membuat Adikarsa berusaha keras melepaskan ikatannya. "Mereka kehilangan ahli strategi perang mereka." Wulandari tertawa lirih.
Adikarsa meronta.
Tali menegang.
"Wulandari..!!!! Lepaskan aku!!!! " Teriak Adikarsa, diam diam pemuda itu berharap seseorang diluar sana mendengar teriakannya.
Gerakan Adikarsa yang dipicu oleh dorongan amarah itu, membuat sesuatu terjatuh dari balik bajunya. Sebuah tusuk rambut giok hijau berukir mawar terpental dari balik ikat kain Adikarsa.
Wulandari mengangkat benda itu dan memperhatikannya sejenak.
"Tusuk rambut perempuan ini sangat cantik.?" Senyum Wulandari menyeringai muncul di wajahnya."Untuk Tarakirana?" Wulandari tertawa kecil, lalu melempar tusuk rambut itu kelantai. "Aku tidak suka mengikat rambut indahku."
"Kau adalah wanita berbisa... " Adikarsa meronta dengan kuat , mencoba membuka ikatannya namun gerakannya hanya membuat kulitnya memerah bahkan beberapa mulai berdarah.
" shhh...Aku tidak ingin membunuhmu." Wulandari mencoba menenangkan. "Aku juga tidak ingin menyakitimu. " Gadis itu berdiri untuk mengambil makanan yang di bungkus daun pisang. Dan bambu berisi air.
Adikarsa terdiam.
Wulandari kembali berdiri di hadapan Adikarsa.
Lalu
Ia duduk di dekat pemuda itu, mulai menyuapinya dengan perlahan.
Adikarsa tidak menolak.
Tubuhnya memang membutuhkan makanan dan air setelah seharian berada dalam sekapan ini.
Wulandari memilih untuk tidak banyak bicara.
Adikarsa pun hanya diam dan berusaha menghabiskan makanan yang diberikan kepadanya.
Satu suapan.Kemudian suapan berikutnya.
Hingga makanan itu akhirnya habis dan minuman di hadapannya pun telah diminum.
Wulandari tersenyum puas. Sambil meletakkan wadah tersebut.
Tatapan penuh rasa kagum dan cinta terpancar dari mata Wulandari, namun Adikarsa tidak terlalu peduli.
Wulandari menatap Adikarsa beberapa saat, kemudian mendekat dan berbisik pelan.
"Aku justru menginginkan sesuatu yang lebih besar." ucapan Wulandari membuat sorot mata Adikarsa berubah tajam.
"Apa?" bentak Adikarsa.
Wulandari menatapnya lama.
"Seorang anak." jawab Wulandari setengah tersipu
Ekpresi wajah Adikarsa berubah.
"Aku menginginkan memiliki Anakmu." jelas Wulandari lebih terus terang.
Adikarsa menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Kau gila." bentak Adikarsa
"Mungkin." Wulandari justru tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya. "Tetapi aku sudah memutuskan."
Adikarsa kembali meronta mencoba melepaskan ikatannya.
"Tidak." bentak Adikarsa kesal. "Tidak akan terjadi. ".
Suara Adikarsa kini lebih rendah.
"Terserah apa yang kau inginkan, tetapi kau tidak akan mendapatkan persetujuanku."
Wulandari terdiam.
Untuk pertama kalinya, keraguan melintas di wajahnya.
Namun kemudian ia kembali mengeras.
"Aku tidak membutuhkan persetujuanmu."
Wulandari mendekat dan mengecup bibir Adikarsa.
Seketika amarah memenuhi wajah pemuda itu.
Adikarsa menggigit bibir Wulandari dengan keras.
"Aah!" Wulandari tersentak dan segera menjauh.
Tangannya melayang dan memukul wajah Adikarsa.