Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #38

Kembali Tapi Tak Sama

Desa Salam tak jauh dari Desa Warun.

Matahari masih tepat di atas kepala ketika kuda Anggara dan Tarakirana melambat memasuki gerbang desa. Suasana begitu lengang. Hanya beberapa penduduk yang terlihat dari kejauhan, mungkin sedang bekerja di sawah.

Anggara memimpin perjalanan hingga mereka tiba di sebuah penginapan sederhana di tepi jalan desa.

Bangunan itu terbuat dari kayu dengan atap rumbia yang lebar. Serambi terbuka membentang di bagian depan, dilengkapi beberapa bangku dan tikar untuk para musafir beristirahat. Di sampingnya terdapat tempat untuk menambatkan kuda.

Penginapan itu tampak sepi di tengah teriknya siang. Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun dan bunyi samar burung dari pepohonan di belakang bangunan.

"Kita berhenti di sini." kata Anggara sambil menarik tali kekang kudanya agar berhenti. 

Tarakirana mengamati keadaan sekitar. Ia menambatkan kudanya di halaman penginapan, membiarkan Anggara memesan sebuah kamar sebagai alasan mereka berada di sana.

Sementara itu, Tarakirana memilih bersembunyi di balik rumpun bambu tak jauh dari penginapan. Dari sana, ia dapat mengawasi keadaan tanpa mudah terlihat.

Sedangkan Anggara mengamati keadaan dari balik jendela kamarnya, mengawasi setiap orang yang datang dan pergi dari penginapan.

Hingga akhirnya, ketika matahari sudah mulai condong ke barat, seorang wanita keluar dari sebuah kamar. 

Rambutnya terurai rapi. Kulitnya putih bersih. Kebaya yang dikenakannya tampak halus dan berkibar lembut diterpa angin, menunjukkan kain sutra mahal yang dikenakannya.

Wulandari.? Tarakirana segera mengenali gadis cantik itu.

Wulandari berjalan perlahan menuju kedai makanan dan minuman di sisi penginapan. Ia mengeluarkan sebuah botol bambu dari keranjang yang dibawanya, lalu memasukkan beberapa makanan ke dalam keranjang yang sama.

Setelah pemilik kedai mengisi botol itu dengan air jahe, 

"Ini sudah botol kedua air jahenya, Neng, apakah neng baik baik saja?" tanya pemilik kedai sambil menyerahkan botol tersebut. Wulandari menerima botol bambu itu dan kembali memasukkannya ke dalam keranjang.

"Saya sedang kurang enak badan, Mbok," jawab Wulandari asal.

Ia segera berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya.

Tarakirana masih menunggu. 

Demikian pula Anggara.

Hingga senja benar-benar tenggelam.

Matahari di angkasa berganti dengan bulan dan bintang bintang. 

Sebuah gerobak tertutup memasuki halaman penginapan. Sepertinya gerobak itu memang sengaja datang menjemput Wulandari. Gadis bertubuh putih itu keluar dari penginapan dan dengan anggun menaiki gerobak yang tertutup kain.

Tarakirana segera bergerak.

Ia mengambil kudanya dengan hati-hati. Anggara melakukan hal yang sama.

Mereka mengikuti gerobak itu dari kejauhan, menjaga jarak agar keberadaan mereka tidak disadari oleh kusir.

Gerobak tersebut terus melaju hingga memasuki Desa Warun.

Mata Tarakirana menyipit, berusaha menemukan jawaban alasan Wulandari berkunjung ke desa kecil di wilayah peperangan ini. 

"Apa yang dilakukan wanita ini di Desa Warun? " Bisik hati Tarakirana, yang dia sendiri pun belum menemukan jawaban. 

Pasukan Selendang Merah hampir setiap hari beraktivitas di desa itu. Bahkan Mahardika pun sering berada di sana setiap malam untuk menemui seorang gadis di rumah hiburan.

Namun, gerobak tertutup seperti itu membuat Wulandari tak mungkin dikenali.

Beberapa kali gerobak itu bahkan berpapasan dengan anggota Pasukan Selendang Merah.

Tak seorang pun menyadari siapa yang berada di dalamnya.

Wulandari hanya tersenyum tipis.Hingga akhirnya gerobak berhenti di halaman sebuah kuil tua.

Tarakirana mengamati dari kejauhan.Beberapa orang berdiri di halaman kuil dengan pakaian pertapa.

Namun Tarakirana tidak terkecoh. Tubuh mereka yang kekar dan cara mereka berdiri terlalu berbeda dari para pertapa biasa.

Pasukan elite Jatiwangsa. Begitulah prediksi pemimpin Pasukan selendang Merah itu. 

Wulandari turun dari gerobak, lalu berjalan memasuki sebuah bilik di dalam kuil.

Sosoknya pun menghilang dari pandangan.

Tarakirana mengepalkan tangan.

Ingin rasanya ia segera menyerang.

Namun ia tahu, pasukan elite Jatiwangsa bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Serangan terburu-buru hanya akan membahayakan dirinya dan para Prajurit selendang Merah yang mempercayainya. 

Tarakirana berpikir keras.

Hingga akhirnya ia teringat pada seorang gadis, anak kepala desa yang pernah mereka selamatkan di jalur Pos Jaga Dua.

Ia segera mengirim pesan kepadanya melalui Ranti.

Tak lama kemudian, gadis itu datang dan mengangguk setelah mendengar rencana Tarakirana.

Malam belum benar-benar larut, beberapa gadis desa datang ke kuil membawa makanan persembahan.

Mereka berjalan dengan wajah polos, seolah tidak mengetahui apa pun.

Setelah berdoa, mereka meletakkan persembahan di altar. Namun, secara diam-diam, gadis-gadis itu juga menaburkan bubuk penenang ke atas makanan yang disajikan di kuil. Mereka juga mengganti isi kotak dupa dengan bubuk penenang serupa, sehingga asap yang dihasilkan akan membuat siapa pun yang menghirupnya merasa lelah, mengantuk, lalu tertidur.

Setelah semuanya selesai, para gadis itu meninggalkan halaman kuil sambil bercanda dan tertawa, seolah kunjungan mereka hanyalah kunjungan biasa.

Tak seorang pun dari pasukan Jatiwangsa menyadari hal itu.

Tarakirana dan Pasukan Selendang Merah kini hanya perlu menunggu. Menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Hingga akhirnya, saat yang dinantikan tiba. Para pertapa palsu itu memasuki ruang altar. Mereka menyantap hidangan yang telah diletakkan di sana, sementara asap dupa memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian, gerakan mereka mulai melambat. Satu demi satu tubuh mereka terkulai dan tertidur di sekitar altar.

Namun masih ada tiga prajurit elit Jatiwangsa yang berjaga di luar. Tarakirana mengangkat tangannya. Sebuah isyarat singkat diberikan.

Lima belas anggota Pasukan Selendang Merah bergerak keluar dari persembunyian, menyelinap menuju halaman kuil.

Ketiga prajurit elite itu segera menyadari kehadiran mereka.

Pertarungan pun pecah.

Namun jumlah mereka terlalu timpang.

Tiga prajurit elite harus menghadapi lima belas anggota Pasukan Selendang Merah sekaligus.

Meski ketiganya terlatih dan tangguh, mereka akhirnya kewalahan oleh serangan yang datang dari berbagai arah.

Dalam waktu singkat, ketiganya berhasil dilumpuhkan.

Tarakirana segera memberi isyarat agar pasukannya tidak membuat keributan.

Kini halaman kuil telah dikuasai.

Dan mereka tinggal mencari Wulandari. Tarakirana menyusuri lorong-lorong kuil yang gelap.

Lihat selengkapnya