Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #39

Katakan sesuatu Padaku.

Mahardika menatap wajah Adikarsa yang tertidur di atas kasurnya.

Tangan kanannya masih berlumuran darah. Baju yang terkoyak masih melekat di tubuhnya. Pergelangan tangan dan kakinya tampak memerah, bahkan beberapa bagian mulai membiru akibat luka yang dibiarkan terlalu lama. 

Mahardika menghela napas pelan. Ia berniat membersihkan tubuh Adikarsa. Air hangat dan sehelai kain bersih telah disiapkan.

Dengan hati-hati, Mahardika mendekat. Namun ketika kain hangat itu menyentuh kulit Adikarsa. 

_Brak!_

Kaki Adikarsa spontan menendang tubuh Mahardika.

Sontak tubuh Mahardika terjungkang beberapa langkah sebelum tubuhnya membentur Satria, yang sejak tadi duduk tenang di kasur lain sambil memperhatikan mereka.

Keduanya jatuh hampir bersamaan ke lantai. Air panas tertumpah dari wadahnya sementara kainnya pun terpental entah kemana 

Adikarsa kini telah duduk di atas kasurnya. Rambut panjangnya berantakan, memberi kesan dingin yang negative, beberapa helai rambut terkulai di wajah tampannya. Napasnya terdengar berat. Tatapan matanya yang dingin menatap Mahardika dan Satria tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Mahardika terdiam sesaat, merasakan aura Adikarsa lebih pekat penuh kebencian.

Satria pun merasa hawa dingin seolah meniup tengkuknya saat melihat tatapan Adikarsa saat itu,

"Hai..." kata Mahardika pelan, berusaha menenangkan sahabatnya.

Adikarsa menatapnya tajam.

"Jangan coba menyentuh kulitku lagi." Suara Adikarsa terdengar tegas dan dingin.

Mahardika dan Satria saling berpandangan.

Ada sesuatu yang berbeda.

Sangat berbeda.

Adikarsa yang mereka kenal tidak pernah menatap mereka seperti itu.

"Tapi tubuhmu penuh debu" ujar Mahardika sambil mencoba bangkit. "Dan lukamu harus dibersihkan."

Mahardika mengulurkan tangan untuk membantu Satria berdiri. Setelah itu Satria membenarkan kasurnya yang tadi terbalik akibat benturan.

Adikarsa hanya memperhatikan mereka sebentar.

"Aku bisa membersihkan tubuhku besok." Adikarsa kemudian kembali merebahkan tubuhnya secara perlahan.

"Jangan sentuh aku." Kali ini suara Adikarsa lirih, sebelum matanya kembali tertutup. 

Suara yang lirih itu justru terdengar lebih dingin daripada sebelumnya.

Mahardika terdiam.

Satria pun tidak mengatakan apa-apa.

Keduanya hanya saling menatap, seolah tidak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya Mahardika mengambil kain yang sempat ia lempar sembarangan. dan wadah yang telah kosong karena airnya tertumpah

Mereka meninggalkan tenda, membiarkan Adikarsa berbaring sendirian. 

Di luar tenda, Tarakirana telah menunggu bersama Jenderal Wirabhumi dan Jayantara.

Ketika melihat Mahardika dan Satria keluar, Tarakirana segera menatap mereka.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jenderal Wirabhumi. 

Mahardika tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah tenda, memastikan Adikarsa tidak terganggu dengan suara perbincangan mereka.

Kemudian Mahardika menarik napas panjang. "Dia terlihat baik baik saja. ." Mahardika berhenti sejenak. "Tapi...Adikarsa bukan orang yang sama lagi."

Tidak seorang pun menjawab.

Di dalam tenda, Adikarsa masih terbaring sendirian.

Matanya terbuka kembali ketika Mahardika dan Satria meninggalkan tenda. 

Adikarsa Menatap kosong ke arah langit-langit tenda, ia menyadari ada yang salah dengan dirinya tapi ia memilih untuk tidak peduli saat ini. 


***

Air Sungai Wingit sangat jernih dan segar

Airnya mengalir pelan dan lembut, melewati tubuh Adikarsa yang berendam di dalamnya. Seakan-akan sungai itu ingin membasuh segala lelah yang melekat pada tubuh pemuda itu.

Adikarsa membersihkan dirinya dalam diam. Meskipun tubuhnya telah kembali bersih, tapi entah mengapa ia merasa sebagian dari dirinya masih tertinggal di tempat yang tidak diketahui siapa pun.

Setelah merasa cukup, Adikarsa kembali mengenakan seragam prajuritnya. Ia merapikan pakaian dengan cepat, mengikat rambutnya yang basah , kemudian kembali menuju perkemahan.

Satria baru saja membuka matanya ketika Adikarsa memasuki tenda.

Satria tersenyum lega melihat sahabatnya telah tampak terawat kembali.

Rambut Adikarsa telah terikat rapi. Semerbak aroma herbal kembali tercium dari helaian rambutnya yang halus, terkulai lembut di sepanjang lehernya.

Wajah tampannya kembali bersih dan bersinar, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun sorot matanya masih dingin dan Kosong.

Seakan tubuhnya telah kembali ke tengah-tengah mereka, tetapi sebagian jiwanya masih tertinggal entah di mana.

Adikarsa membalas senyum itu.

Namun senyumnya dingin.

Terlalu tipis dan singkat

Terlalu asing.

"Aku melihat sarapan sudah mulai dihidangkan," katanya, memecah kecanggungan.

Adikarsa kemudian mengambil busur dan anak panah, lalu menyangkutkannya di punggung.

"Kau mau berlatih?" tanya Satria pelan, masih berhati-hati agar tidak membangunkan Mahardika yang masih tidur dan mendengkur. 

"Aku mau sarapan dulu. Setelah itu latihan." ucap Adikarsa sambil melangkah keluar dari tenda.

Satria menatap punggung Adikarsa yang meninggalkan tenda itu dalam keheningan. 

Jayantara yang telah membuka mata sejak Adikarsa masuk mendengar setiap perbincangan dingin mereka. 

Keduanya saling menatap dan menghela nafas pendek. 

Seakan ikut menyesali tragedi yang menimpa Adikarsa. 

***

Di tengah perjalanan menuju tempat makan, ia bertemu dengan Jenderal Wirabhumi.

Adikarsa segera berhenti dan memberikan hormat.

"Salam, Jenderal." sapa Adikarsa penuh hormat. 

Wirabhumi mengangguk.

"Mampirlah ke tendaku." Adikarsa terhenyak sebentar. 

Tapi Perintah seorang jenderal adalah sesuatu yang tidak dapat ditolak seorang prajurit.

Adikarsa mengikuti Wirabhumi ke dalam tenda. Adikarsa duduk dengan punggung tegak dan wajah tenang.

"Apakah kau sudah siap kembali ke medan perang?" pertanyaan jenderal Wirabhumi membuat Adikarsa mengangkat wajahnya.

"Hamba menginginkannya sekarang ataupun besok." Jawabannya dingin dan tanpa keraguan.

Lihat selengkapnya