Genderang perang terus ditabuh dari kedua sisi barisan pasukan, mengiringi derab kaki prajurit yang berjalan semakin mendekat hingga berdiri berhadapan di medan perang.
Seakan suara genderang itu adalah musik pembuka yang akan menghantarkan mereka menuju kemenangan dan kebanggaan-atau justru menjadi musik terakhir yang mereka dengar dalam hidup mereka.
Namun bagi para prajurit, hidup dan mati adalah bagian dari pengorbanan dan pengabdian kepada tanah yang mereka bela dengan penuh rasa bangga.
Jantung Mahardika berdetak mengikuti irama genderang perang itu. Semakin lama, tabuhan dari kedua sisi terdengar semakin cepat dan semakin kuat.
Tangannya mempererat genggaman pada tongkat tempat dimana panji pasukannya diikat dengan kuat dan berkibar di udara.
Tatapan Mahardika menyiratkan sebuah tekad.
Ia akan mempertahankan panji itu tetap berkibar selama napas masih berada di dalam tubuhnya.
Di sebelahnya berdiri Adikarsa.
Pemuda yang telah kehilangan harapan terhadap masa depan dan impiannya , kini hanya menatap lurus ke medan perang di hadapannya. Mata dinginnya tak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Seakan-akan inilah satu-satunya takdir yang harus ia hadapi.
Satria dan Jayantara berdiri tak jauh dari kedua sahabat mereka. Dengan setia, keduanya tetap berada di sisi Mahardika dan Adikarsa, mengetahui bahwa hari ini mereka semua mempertaruhkan hidup di medan perang, sebagai ujung tombak pasukan.
Mahardika menoleh dan menatap wajah Adikarsa yang diterpa cahaya matahari.
Tak ada keraguan di mata pemuda itu.
Teriknya matahari bahkan seakan tak mampu memberikan kehangatan pada hati Adikarsa yang telah membeku.
Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Adikarsa mengalihkan tatapannya ke kiri tanpa memalingkan wajah.
Mata dingin itu akhirnya bertemu dengan mata Mahardika.
Aura kegelapan dan amarah terpancar dari tatapan Adikarsa, berhadapan dengan tatapan Mahardika yang penuh keberanian, gairah kehidupan menyala dimata Mahardika-tatapan seorang pemuda yang masih memiliki harapan akan banyak hal yang ingin diperjuangkannya.
Dua tatapan dengan energi yang berbeda itu bertemu selama beberapa saat.
Tak ada kata yang terucap.
Hanya sebuah senyum tipis yang muncul di bibir Adikarsa. bertemu dengan senyum penuh keberanian yang bergelora milik Mahardika.
Seolah keduanya telah memahami sesuatu yang tak perlu dikatakan.
Apa pun yang terjadi setelah ini, mereka akan menghadapinya bersama.
Di tengah barisan pasukan Jayagiri yang berjajar. Jenderal Wirabhumi berada di tengah barisan, menjadi pusat perhatian seluruh pasukan.
Tepat di sebelahnya, Tarakirana berdiri dengan tatapan tajam mengarah ke medan perang.
Genderang terus ditabuh.
Semakin cepat.
Semakin keras.
DUM!
DUM!
DUM!
Irama itu terdengar seperti hitungan mundur menuju pecahnya pertempuran.
Para prajurit mulai menundukkan tubuh dan bersiap.
Tangan menggenggam senjata semakin erat.
Kaki menjejak tanah dengan kokoh.
Napas ditahan.
Semua menunggu satu suara.
Suara yang akan mengubah ribuan prajurit yang berdiri diam menjadi gelombang manusia yang berlari menuju kematian.
Hingga akhirnya.
WUUUUUUUU!
Suara sangkakala musuh menggema lebih dahulu.
Teriakan pasukan musuh langsung meledak dari seberang medan perang.
"SERANG!"
Gelombang prajurit musuh mulai bergerak.
Dan hampir bersamaan-
WUUUUUUUU!
Sangkakala Kerajaan Jayagiri menjawab.
Teriakan para prajurit Jayagiri pun pecah memenuhi udara.
"SERANG!"
Mahardika mengangkat panji pasukannya tinggi-tinggi. Kain panji berkibar keras diterpa angin.
Adikarsa mencabut pedangnya. Mahardika, Satria dan Jayantara melakukan hal yang sama.
Dan dalam satu hentakan-seluruh barisan pasukan Jayagiri bergerak maju.
Medan perang akhirnya pecah.
Pasukan Jayagiri yang awalnya berbaris memanjang perlahan berubah menjadi formasi yang semakin meruncing.
Gelombang pasukan itu bergerak maju seperti ujung tombak yang diarahkan tepat ke jantung barisan musuh.
Adikarsa memacu kudanya hingga berada paling depan.
Mahardika mengikuti tepat di belakangnya, tangan masih menggenggam erat panji pasukannya. Satria dan Jayantara berada di sisi Mahardika, menjaga agar mereka tetap berada dalam formasi.
Jarak kedua pasukan semakin dekat.
Adikarsa menyeringai tipis. Tatapan dinginnya bergerak cepat, menentukan titik-titik yang akan menjadi sasarannya.
Semakin dekat.
Semakin cepat.
Hingga akhirnya-
Adikarsa menarik kendali kudanya dan melompat turun. Tubuhnya menerjang ke tengah barisan musuh dengan keberanian yang nyaris mengabaikan keselamatan dirinya sendiri.
Tombak di tangannya langsung berayun.
WUSSH!
Ayunan pertama menghantam kepala seorang prajurit musuh.
Tubuh prajurit itu terlempar ke belakang dan jatuh kaku di antara barisan yang sedang berlari.
Adikarsa tak berhenti.
Tombaknya berputar cepat di sekeliling tubuhnya, membentuk lingkaran maut yang membuat para prajurit di dekatnya kesulitan mendekat.
Satu prajurit kembali tumbang.
Disusul prajurit kedua.
Dua orang lainnya mundur dan berhasil menghindari ujung tombak yang berputar.
Adikarsa bergerak semakin liar.
Gerakannya tidak lagi seperti seorang prajurit yang bertarung dengan perhitungan.
Ia seperti seseorang yang hanya mengenal satu hal-
maju.
Putaran tombaknya hampir mengenai kaki kuda Mahardika yang berada terlalu dekat dengannya.
Mahardika segera menarik kendali kudanya.
"Jaga jarak dariku!" teriak Adikarsa tanpa menoleh.
Mahardika mengangguk.
Namun matanya masih terpaku pada sahabatnya itu.
Masih Dalam hitungan jari mereka memasuki medan perang, Adikarsa telah berubah menjadi sosok yang tidak dapat diduga, namun perlahan mereka mulai terbiasa dengan tatapan dingin , gerakan brutal dan kejam Adikarsa saat di medan perang
Gerakan Adikarsa masih cepat. seakan mata pedangnya memiliki jiwa Adikrsa, setiap ayunan dan sabetan diiringi oleh percikan darah musuh.