Takdir Jiwa

Remallya Ismoyo
Chapter #41

Darah dan Airmata

Wirabhumi menggertakkan giginya. ia hendak memacu kudanya untuk mengejar, 

ketika 

Sebuah anak panah akhirnya menembus pertahanan Wirabhumi.

TAK!

Ujungnya menancap di tubuh sang jenderal.

Wirabhumi terhuyung.

Tangannya sempat menyentuh luka itu.

Hangat.

Darah mengalir di sela jemarinya.

Ia menarik napas berat sambil tetap berusaha menangkis anak panah yang terus berdatangan.

Bukan hanya Wirabhumi yang terkena panah, beberapa perwiranya juga telah berjatuhan.

Teriakan kesakitan bercampur dengan ringkikan kuda yang panik.

Wirabhumi dan perwiranya yang masih berdiri mengangkat senjatanya, sibuk dengan menangkis anak panah yang terus berdatangan.

Beberapa perwira yang tetap berusaha melarikan diri, terpaksa terpanah punggungnya dan kemudian terjatuh, beberapa tetap masih bisa bertahan di atas kudanya yang berlari dengan panah yang menancap di punggungnya.

Para pemanah yang berada di atas batu, tidak memberi ruang bagi Wirabhumi, beberapa panah menembus kuda Jenderal Wirabhumi hingga membuat sang jendral terjerembab bersama kudanya.

Untuk sesaat, pandangannya mulai kabur, dua anak panah lagi melesat dan tertancap di badannya.

"Akhhh.." teriaknya geram diantara kesakitannya,

"Apakah..." Napasnya tersengal. "...di sinilah akhir perjuanganku?"

Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

Aneh.

Di tengah hujan anak panah dan tubuh para prajurit yang berguguran, justru ketenangan mulai menyelimuti hatinya.

Mungkin memang sudah waktunya. Mungkin seorang prajurit pada akhirnya hanya perlu menerima saat kematian datang menjemput.

Walaupun jauh di dalam dirinya masih ada sesuatu yang menolak menyerah.

Keinginan untuk hidup.

Keinginan untuk kembali kepada pasukannya.

Keinginan untuk menyelesaikan perang yang belum benar-benar berakhir.

Wirabhumi dengan segala semangat juangnya bahkan tak mampu lagi menggerakkan tangannya ketika beberapa panah lagi datang menancap di tubuhnya.

Sebelum pandangannya benar benar gelap dalam samar dari kejauhan terdengar suara derap kuda.

DRAP!

DRAP!

DRAP!

Wirabhumi mengangkat kepalanya mencoba bertahan untuk melihat jika ada prajuritnya yang akan datang mengejar jenderal yang telah menjebaknya.

Di balik debu medan perang, tampak sekelompok pasukan melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.

Meskipun pandangannya sudah mulai kabur , dan anak panah tetap juga di arahkan padanya.

Wirabhumi menerima anak panah baru yang menancap dengan menggertakkan gigi.

Ia tidak punya lagi waktu untuk membalas, tapi ia masih punya waktu untuk melihat siapa yang akan mengejar jenderal musuh yang telah menjebaknya..

Sebuah bayangan semakin mendekat..

Wirabhumi membelalakkan matanya mencoba mengenali sosok itu.

Seorang gadis berkuda melaju tepat di hadapannya.

Selendang merah berkibar tinggi diterpa angin, sebuah tombak berada di tangan kanannya.

Senyum Wirabhumi perlahan mengembang.

"Tarakirana.. balaskan dendaaaamkuuu." Teriakkan terakhir dari sang Jenderal... "Bunuhh diiiaaa..." 

Gadis itu mendengar perintah Jenderal Wirabhumi namun tidak ada waktu untuk berhenti.

Ia terus memacu kudanya.

Di belakangnya, barisan pemanah Jayagiri mulai melepaskan anak panahnya untuk melawan balik serangan pemanah musuh yang berdiri di atas bukit,

WUSSH!

WUSSH!

WUSSH!

Kali ini, hujan anak panah datang dari arah sebaliknya.

Para pemanah musuh yang tadinya berdiri gagah di atas perbukitan satu demi satu terjatuh.

bahkan melarikan diri.

Tarakirana terus melaju.

Melewati Wirabhumi yang terkulai dengan tatapan mata yang terus mengikutinya, sampai tatapan itu menjadi gelap.

Tidak ada waktu bersedih

Tujuannya hanya satu.

Jenderal musuh.

Pria itu sudah semakin jauh.

Tarakirana merendahkan tubuhnya di atas kuda. ia melihat sorot mata penuh amarah di tatapan jenderal Wirabhumi ketika ia melintas.

"Aku akan menangkapnya untukmu .Jenderal." Bisik Tarakirana


Di tengah pelarian kudanya, akhirnya mata Tarakirana menangkap seorang sedang mengendarai kuda,

Bibir Tarakirana tersenyum tipis.

"akhirnya... "Gadis itu memaksa kudanya berlari lebih cepat , 

Angin menerpa wajahnya.

Jarak semakin dekat.

Semakin dekat.

Dan akhirnya-


Tarakirana berdiri sedikit di atas sanggurdi.

Ia mengangkat tombak tinggi-tinggi melewati kepalanya.

**Sangurdi Adalah Pijakan kaki yang tergantung di kedua sisi pelana kuda.


Matanya terkunci pada satu sasaran.

Pada Jenderal itu.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada rasa takut.

Hanya satu keputusan.

dan.

"HEAAAH!"

Tarakirana mengerahkan seluruh tenaga tubuhnya.

WUSSHHHH!

Tombak itu terlepas dari tangannya.

Membelah udara.

Meluncur lurus seperti kilat menuju sasaran.

Sang jenderal musuh mendengar suara desing angin yang berubah.

Ia menoleh.

Terlambat.

Tombak itu menghantam tubuh kudanya.

Kuda sang jenderal meringkik keras dan terjungkal.

Tubuh sang jenderal juga terlempar dari pelana dan berguling di atas tanah.

Tarakirana menarik kendali kudanya. Kuda itu meringkik dan mengangkat kaki depannya.

Tarakirana menatap tajam ke arah debu yang mengepul.

Sang jenderal musuh yang terjatuh perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapannya bertemu dengan Tarakirana.

Gadis berkuda dengan selendang merah itu hanya menatapnya dalam diam.

Perang belum berakhir, sebelum pemimpin perang musuh ini masih berdiri.

Tarakirana turun dari kudanya.

Di hadapannya, sang jenderal musuh telah bangkit dari tanah . Ia sempat memandang kudanya yang telah tumbang, lalu menarik pedang dari pinggangnya.

Wajahnya berubah.

Tidak ada lagi kepura-puraan seorang pria yang menyerah.

Yang berdiri di hadapan Tarakirana kini adalah seorang jenderal yang telah melewati puluhan pertempuran.

Ia menggenggam pedangnya dengan tenang.

Lihat selengkapnya