Mahardika akhirnya ditetapkan sebagai seorang senopati.
Bersamaan dengan pengangkatannya, datang pula sebuah tawaran yang dapat mengubah seluruh masa depannya.
Ratnamaya menawarkan dirinya dalam sebuah pernikahan politik.
Ayahnya adalah seorang raja dari kerajaan sahabat. Melalui pernikahan tersebut, Mahardika akan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, kekuasaan yang lebih luas, serta wilayah yang kelak dapat berada di bawah pengaruhnya.
Bagi sebagian orang, pernikahan politik semacam itu mungkin terasa seperti pengorbanan.
Namun tidak bagi Mahardika.
Cintanya telah berhenti pada Anindhita Dan Mahardika memilih menjalani kehidupannya apa adanya dan berhenti mengejar cinta.
Pagi itu dibale yang sama di halaman rumah Tarakirana yang sederhana di desa Baru merah. , Adikarsa menatap Mahardika dengan wajah dingin.
"Begitu mudahnya kau menerima pernikahan politik ini?" Suara dingin Adikarsa terdengar lebih datar dari biasanya.
Mahardika hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang lebih menyerupai sebuah sindiran
"Kenapa tidak?" Mahardika menjawab santai menyandarkan punggungnya dengan tenang di tiang pendopo.
"Ratnamaya cantik dan bijaksana." Lanjut ucapan Mahardika, menatap matanya lurus ke depan.
"Aku mendapatkan seorang istri, kekuasaan, dan wilayah." Ia tersenyum semakin lebar. "Menurutku, itu bukan tawaran yang buruk."
Adikarsa menatapnya sinis, seakan tak percaya , sesederhana itu pemikiran Mahardika. Adikarsa kemudian mengalihkan pandangannya dari Mahardika ke bukunya.
"Kau bahkan tidak mencintainya." Kata Adikarsa lagi kali ini tanpa mengalihkan pandangannya dari buku
Mahardika terdiam sejenak.
Kemudian tertawa kecil.
"Sejak kapan cinta menjadi syarat untuk menjadi seorang penguasa?" Tanya Mahardika.
Adikarsa tidak menjawab.
Tatapannya justru semakin dingin.
Mahardika memperhatikan wajah Adikarsa yang masih membaca bukunya. .
"Kau iri?" Pertanyaan ini mampu membuat Adikarsa menoleh.
"Tidak." Jawaban Adikarsa begitu cepat, lalu kembali ke bukunya.
Mahardika tertawa.
"Haha... wajahmu terlihat seperti orang yang iri."
Adikarsa akhirnya berhenti membaca dan menatap Mahardika lama.
"Aku hanya kasihan padamu." Ucap Adikarsa tanpa ekspresi.
Tawa Mahardika berhenti.
Untuk beberapa saat, kedua sahabat itu hanya saling menatap.
Kemudian Mahardika kembali tertawa sambil menepuk dadanya sendiri. "Aku ditakdirkan untuk menjadi penguasa." Sambil tertawa kecil.
Mahardika melangkah mendekat dan hendak menepuk bahu Adikarsa seperti yang biasa ia lakukan kepada sahabatnya.
Namun-
Adikarsa berkelit.
Buku ditangannya digunakan untuk menangkal tangan Mahardika agar tidak menyentuh bahunya.
Gerakan Adikarsa begitu cepat hingga Mahardika tertegun.
Mahardika perlahan menarik tangannya, tidak ada lagi tawa di wajahnya.
"Maaf." Ucap Mahardika serius, ia sesaat lupa Adikarsa belum benar-benar kembali ke dirinya sendiri.
Adikarsa tidak menjawab.
Ia hanya memalingkan wajah.
Kembali hanyut dengan buku yang di pegangnya
Dua sahabat yang dahulu mampu berjalan berdampingan tanpa memikirkan jarak, kini berdiri dengan batas yang tidak terlihat di antara mereka.
Mahardika terlihat sedih, ia merindukan sosok Adikarsa yang lembut dan tenang, dulu.
Namun bagaimanapun ia mulai terbiasa dengan Adikarsa yang dingin dan tak tersentuh saat ini, juga Adikarsa yang bisa berubah brutal tak terkendali.
Dan keduanya sama-sama tahu-
Setelah perang , sesungguhnya tidak ada yang akan benar-benar kembali menjadi seperti semula.
***
Dari dalam kamar terdengar suara langkah tertatih disertai suara lenguhan menahan sakit. Tarakirana berjalan tertatih dengan bantuan Ranti.
Langkahnya masih belum sepenuhnya kuat setelah luka yang hampir saja merenggut nyawanya
Ketika melihat kedatangan mereka, Mahardika segera berdiri dan berlari menghampiri.
"Pelan-pelan." Mahardika meraih lengan Tarakirana dan membantunya berjalan menuju bale.
Dengan hati-hati, ia membantu Tarakirana duduk di bale yang sama dengan mereka.
Adikarsa sejak tadi duduk tak bergerak di ujung bale masih memegang bukunya.
Ia tetap membaca.
Seolah kehadiran Tarakirana tidak mengubah apa pun.
Namun ada yang disadari oleh Mahardika, sejak gadis itu duduk di dekatnya, halaman buku Adikarsa tidak lagi berpindah.
Mahardika tersenyum, melihat sikap Adikarsa.
"Selamat, Senopati Mahardika. Setelah pernikahanmu dengan Ratnamaya, kau akan menjadi penguasa wilayah. Sungguh, tak kusangka." Tarakira memulai pembicaraan dengan pujian.
Mahardika tertawa penuh rasa bangga.
"Semua itu atas dukungan kalian semua." Senyum Mahardika merekah.
Tarakirana juga tersenyum
"Kau juga sudah mendapatkan izin dari kerajaan untuk memimpin pasukan Selendang Merahmu sendiri." Tarakirana mengangguk.
"Semua seakan berjalan sesuai dengan rencana setelah semua perjuangan panjang ini. " Ucap Tarakirana lagi.
Mahardika juga tersenyum.
Sementara itu, Adikarsa tetap diam.
Matanya masih tertuju pada buku.Walaupun bisa saja pikirannya tidak lagi berada di sana.
Tarakirana perlahan menoleh kepadanya. Ia memperhatikan pemuda itu cukup lama.
Kemudian tangannya mengambil sesuatu dari kotak bambu yang sejak tadi di genggam nya.
Ia mengeluarkan Sebuah tusuk rambut. Gagangnya terbuat dari emas yang berulir, mengikat erat sebuah giok hijau berukir mawar.
Tarakirana menggenggamnya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkan benda itu kepada Adikarsa.
"Ini." Adikarsa melirik benda yang ditunjukkan Tarakirana. satu lirikan sudah cukup untuk mengenal Giok hijau berukir mawar itu.
Adikarsa perlahan menutup bukunya.
Ia menarik napas panjang.
Suasana mendadak hening.
Tidak ada yang berbicara.
Mahardika memperhatikan keduanya.
Ia seperti memahami bahwa percakapan ini bukan lagi miliknya.
Mahardika kemudian memberi isyarat kecil kepada Ranti.
Gadis itu mengerti, ia segera berdiri dan meninggalkan bale.
Mahardika ikut bangkit. Sebelum pergi, ia sempat menatap Adikarsa, seakan ia sedang berharap sahabatnya dapat menerima kenyataan dengan lebih lapang hati.
Tarakirana masih mengulurkan tusuk rambut itu.
Sementara Adikarsa hanya menatap benda tersebut.
"Ini milikmu.. " Desak Tarakirana.
"Aku seperti tusuk rambut giok yang pecah itu."
Suara lirih Adikarsa mencoba menjawab gadis itu.
Tatapannya masih tertuju pada benda yang berada di tangan Tarakirana.
Adikarsa tersenyum tipis, getir.
"Tapi tusuk rambut ini sekarang menjadi lebih indah."
Adikarsa menatap tusuk rambut itu lagi.
Tarakirana kembali mengulurkan benda itu.
"Terimalah." Desak Tarakirana lagi.
Adikarsa tidak bergerak.
Tarakirana kemudian menekan tusuk rambut itu perlahan ke lengannya.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
"Ambillah." Kini Tarakirana setengah memaksa.
Adikarsa akhirnya menyerah.