BAB 5
Ketika Ujian Datang Menghampiri
Karang Resik, Januari 2014
Libur semester telah usai.
Suasana SMPN 2 Karang Resik kembali ramai oleh langkah para siswa yang membawa semangat baru untuk memulai semester berikutnya. Di halaman sekolah, embun pagi masih menempel di rerumputan, sementara lonceng pertama belum juga berbunyi.
Seperti biasa, Arif Rahardi sudah menunggu di depan perpustakaan.
Tak lama kemudian, Bagas Zulfikar datang sambil mengusap peluh di dahinya. "Maaf, angkutan umum yang dari arah kampungku menuju kota telat," katanya sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa Bagas. Yang penting kamu datang." Ujar Arif sambil tersenyum
Mereka berjalan menuju kelas masing-masing.
Namun hari itu, tanpa mereka ketahui, sebuah ujian mulai menghampiri persahabatan mereka.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan akan diadakan Olimpiade Sains tingkat kecamatan.
Setiap kelas diminta mengirimkan satu siswa terbaik.
Guru Matematika memilih Arif sebagai wakil kelas VIII A.
Sementara guru IPA memilih Bagas sebagai wakil kelas VIII C.
Mereka sama-sama bangga.
Namun, karena hanya ada satu peserta yang akan mewakili sekolah ke tingkat berikutnya, keduanya harus mengikuti seleksi internal.
Saat pengumuman itu dibacakan, teman-teman mulai berbisik.
"Kayaknya Arif yang bakal menang."
"Belum tentu. Bagas juga pintar."
Perlahan, suasana yang awalnya biasa mulai berubah menjadi persaingan.
Sepulang sekolah, Arif dan Bagas tetap berjalan bersama menuju perempatan.
"Aku harap siapa pun yang terpilih nanti bisa membawa nama sekolah," kata Arif.
Bagas mengangguk. "Aku juga."
Mereka saling tersenyum.
Tak ada rasa iri di antara mereka.