BAB 10
Mimpi yang Mulai Menjadi Nyata
Karang Resik, Agustus 2017
Dua tahun berlalu sejak Arif Rahardi dan Bagas Zulfikar memulai perjalanan mereka di bangku SMA.
Kini keduanya telah duduk di kelas XII, tahun terakhir sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Kesibukan semakin padat.
Try out, ujian sekolah, persiapan Seleksi Nasional, hingga berbagai kegiatan organisasi membuat hari-hari mereka dipenuhi jadwal yang hampir tanpa jeda.
Meski begitu, persahabatan mereka tetap menjadi tempat untuk saling menguatkan.
Suatu sore, Arif menerima sebuah pesan dari Bagas. "Rif besok Minggu bisa ketemu gak ? Ada yang mau aku ceritakan."
Tanpa berpikir panjang, Arif membalas. "Oke gas seperti biasa. Perempatan jalan jam empat sore ya."
Tempat itu kembali menjadi pilihan mereka.
Bukan karena paling indah.
Tetapi karena di sanalah begitu banyak kenangan lahir.
Minggu sore, langit tampak cerah.
Angin berembus pelan membawa aroma padi yang mulai menguning.
Bagas datang lebih dulu sambil membawa dua gelas es doger.
Ketika Arif tiba, ia langsung tersenyum. "Es doger lagi?"
Bagas tertawa. "Biar nggak lupa awal cerita kita."
Mereka duduk di bawah pohon beringin.
Suasana terasa tenang.
"Ada apa gas?" tanya Arif.
Bagas menarik napas panjang. "Aku sudah memutuskan."
"Memutuskan apa?" Arif bengong
"Aku ingin kuliah di Fakultas Keguruan." Ujar Bagas.
Arif tersenyum bangga. "Jadi guru?"
Bangs mengangguk "Iya."